Berani Memprotes LCC, Siswi Josepha Alexandra Diundang MPR, Ditawari Beasiswa di Tiongkok
Josepha Alexandra, siswi yang berani memprotes juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR, diundang ke Jakarta untuk menemui MPR.
Penulis:
Febri Prasetyo
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Siswi SMA Negeri 1 Pontianak bernama Josepha Alexandra memprotes dewan juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI.
- Josepha kemudian diundang ke Jakarta oleh MPR dan ditawari beasiswa kuliah oleh Rifqinizamy Karsayuda.
- Josepha dikenal sebagai siswa berprestasi dan aktif dalam organisasi.
TRIBUNNEWS.COM - Josepha Alexandra, siswi SMA Negeri 1 Pontianak yang berani memprotes juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR, diundang ke Jakarta untuk menemui MPR.
Undangan ini diketahui lewat unggahan video di akun Instagram Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, Ketua Komisi II DPR sekaligus anggota MPR. Dalam video yang diunggah Selasa (12/6/2026), Rifqinizamy tampak sedang melakukan video call dengan Josepha.
Rifqinizamy adalah alumni SMA Negeri 1 Pontianak sehingga dia dan Josepha menempuh pendidikan menengah atas di tempat yang sama.
Dari percakapan di antara keduanya, Josepha diketahui alumni SMPN 10 Pontianak dan merupakan anak nomor dua dari dua bersaudara.
"Josepha nanti jam satu ke Jakarta ya? Difasilitasi oleh MPR ya?” tanya Rifqinizamy.
“Iya bener, Pak. Terima kasih, Pak,” jawab Josepha.
Dalam kunjungan ke Jakarta, Josepha didampingi oleh beberapa guru, yakni Indah selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak, Rio selaku Waka Humas, dan Heni selaku pembimbing. Adapun orang tua Josepha tidak ikut.
“Josepha, saya anggota DPR-MPR. Saya sekarang satu-satunya alumni SMAN 1 Pontinak yang menjadi anggota DPR dan MPR di Jakarta. Saya minta maaf, Josepha, kalau ada kesalahan dalam proses LCC kemarin,” kata Rifqinizamy.
Rifqinizamy berujar secara institusi nantinya MPR akan memberikan klarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf.
“Yang kedua, karena Josepha sekarang kelas 11, abang bangga dengan Josepha yang telah menjadi duta SMAN 1 Pontianak yang sekarang sudah menasional, dengan peristiwa ini kita ambil hikmahnya.”
“Yang ketiga, kalau Josepha berkenan, abang mau kasih beasiswa kuliah gratis ke Cina. Nanti kasih tahu orang tua kalau mau.”
Baca juga: 3 Juri Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI 2026 Disorot hingga Dinonaktifkan, Ini Profil dan Hartanya
Di samping itu, Josepha nantinya akan langsung diberi pekerjaan oleh berbagai perusahaan multinasional setelah lulus kuliah.
“Terima kasih banyak, Pak,” kata Josepha menanggapi tawaran itu.
Rifqinizamy menilai Josepha adalah contoh siswa yang berani menyuarakan dan mempertahankan kebenaran. Oleh karena itu, Josepha harus didukung.
Mengenai tawaran beasiswa kuliah, Rifqinizamy menganggapnya sebagai apresiasi atas prestasi Josepha.
Profil Josepha
Berdasarkan penelusuran Tribunnews.com, Josepha bernama lengkap Josepha Alexandra Roxa Potifera yang akrab disapa Ocha.
Dikutip dari akun Instagram resmi SMAN 1 Pontianak, dia dikenal sebagai siswi yang berprestasi.
Pada Mei 2025, ia bersama 2 temannya berhasil juara 2 lomba LCC Kebangsaan yang diselenggarakan oleh HMPPKN FKIP Untan.
Masih pada tahun yang sama, tepatnya pada bulan September 2025, Ocha dan tim SMAN 1 Pontianak memperoleh juara 1 LCC Empat Pilar MPR RI 2025 tingkat provinsi Kalimantan Barat.
Dia kemudian lolos Senayan untuk maju di Grand Final LCC Empat Pilar MPR RI.
Memasuki 2026, Ocha kembali dipercaya memperkuat tim untuk ikut ajang yang sama. Kali ini ia dan temannya harus puas berada di posisi juara 2.
Selain bersekolah, Ocha juga aktif berorganisasi. Dia tergabung dalam anggota Generasi Berliterasi (Gebrasi Pontianak) Pontianak. Tujuan komunitas ini untuk Gebrasi Pontianak menambah minat literasi anak-anak dan remaja di Pontianak.
Sementara itu, tentang aksi protesnya kepada dewan juri, Ocha sudah memberi tanggapan lewat akun Instagram pribadinya.
"Funny how the replay accidentally exposed whose ‘feelings’ were actually wrong… c2 izin muncul ke permukaan," tulisnya.
Unggahan Ocha hingga Selasa (12/5/2026) sudah disukai lebih dari 600 ribu kali.
Kronologi polemik LCC
Polemik dalam LCC bermula pada sesi pertanyaan rebutan tentang mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada Sabtu (9/5/2026)
Dalam sesi tersebut, satu peserta sebelumnya dinyatakan salah dan nilainya dikurangi. Namun pada pertanyaan yang sama, kelompok lain justru mendapat penilaian benar dan tambahan poin.
Situasi itu kemudian memicu protes dari kelompok lain hingga lomba LCC tersebut menjadi viral di media sosial.
Dalam perlombaan tersebut, peserta Grup C mendapat pengurangan nilai lima poin setelah jawaban mereka dianggap salah oleh dewan juri.
Namun, pada pertanyaan yang sama, Grup B dari SMAN 1 Sambas justru memperoleh tambahan 10 poin meski memberikan jawaban yang dinilai memiliki substansi serupa.
Adapun pertanyaan yang dipersoalkan berkaitan dengan mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
MC membacakan pertanyaan, “BPK dipilih dari dan oleh anggota, namun untuk menjadi anggota BPK keterkaitan dengan perwakilan daerah tetap dijaga. DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?”
Perwakilan Grup C kemudian menjawab, “Anggota-anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh presiden.”
Jawaban tersebut dinyatakan salah oleh dewan juri. Tak lama kemudian, pertanyaan yang sama diberikan kepada Grup B dari SMAN 1 Sambas dan dinyatakan benar sehingga mendapat nilai penuh.
Keputusan itu langsung diprotes peserta Grup C karena merasa jawaban yang mereka sampaikan memiliki inti yang sama.
Mereka menyampaikan keberatan karena merasa jawaban yang mereka sampaikan sama dengan jawaban Grup B.
Saat menanggapi protes tersebut, dewan juri menyebut pada jawaban awal Grup C tidak terdengar penyebutan “Dewan Perwakilan Daerah” atau DPD.
“Jadi dewan juri tadi berpendapat nggak ada itu Dewan Perwakilan Daerah,” ujar salah satu juri.
Situasi sempat memanas ketika peserta Grup C meminta pendapat penonton terkait apakah penyebutan DPD terdengar atau tidak. Namun pembawa acara menegaskan keputusan tetap berada di tangan dewan juri.
“Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja. Nanti mungkin bisa dilihat tayangan ulangnya setelah acara selesai,” ujar MC.
Lomba tetap dilanjutkan dengan SMAN 1 Sambas keluar sebagai juara pertama dan akan mewakili Provinsi Kalimantan Barat ke tingkat nasional.
(Tribunnews/Febri/Endra/Glery)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.