Din Syamsuddin Minta RI Bicara di Forum BoP, Desak PM Netanyahu Bebaskan WNI yang Ditahan Israel
Din Syamsuddin desak Pemerintah Indonesia segera ambil langkah diplomasi internasional yang nyata melalui Forum Board of Peace (BoP).
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Theresia Felisiani
Ringkasan Berita:
- Din Syamsuddin desak Pemerintah Indonesia ambil langkah diplomasi internasional yang nyata melalui Forum Board of Peace (BoP).
- Langkah ini perlu guna memberikan tekanan langsung ke Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, agar membebaskan relawan dan dua jurnalis Republika yang ditawan di perairan internasional.
- Indonesia harus menggunakan pengaruhnya karena tindakan otoritas Israel terhadap WNI masuk dalam kategori kejahatan kemanusiaan yang luar biasa.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Komite Pengarah Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP), M. Din Syamsuddin, mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah diplomasi internasional yang nyata melalui Forum Board of Peace (BoP).
Langkah ini dipandang perlu guna memberikan tekanan langsung kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, agar segera membebaskan para relawan dan dua jurnalis Republika yang ditawan di perairan internasional.
Menurut Din, Indonesia harus menggunakan pengaruhnya di forum perdamaian tersebut karena tindakan otoritas Israel terhadap warga negara Indonesia (WNI) sudah masuk dalam kategori kejahatan kemanusiaan yang luar biasa.
"Saatnya Indonesia bicara pada Forum Board of Peace (BoP) agar Netanyahu membebaskan Warga Negara Indonesia yang ditahannya," ujar Din Syamsuddin, Senin (18/5/2026).
Din menilai, penangkapan jurnalis Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, serta sekitar 100 aktivis kemanusiaan lainnya oleh militer Israel adalah tindakan yang keji dan tidak dapat dibenarkan.
Baca juga: Tiga Jurnalis Indonesia Ditangkap Israel, GPCI: Ada 11 Kapal Dibajak di Laut Internasional
Ia menekankan bahwa tim kemanusiaan dari Indonesia tersebut membawa misi suci untuk memberikan bantuan logistik serta dukungan moril bagi rakyat di Jalur Gaza yang tengah menderita.
"Penculikan para relawan kemanusiaan dari Indonesia, termasuk wartawan Republika oleh tentara zionis Israel adalah kekejaman, kekejian, dan kejahatan kemanusiaan," tegas Din.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini mengingatkan bahwa penyelamatan WNI yang terancam di luar negeri merupakan perintah konstitusi yang harus segera dilaksanakan oleh pemerintah tanpa menunda-nunda waktu.
Ia mengkhawatirkan keselamatan para tawanan jika tidak segera dilakukan intervensi diplomatik tingkat tinggi.
"Sangat dikhawatirkan mereka menerima perlakuan kekerasan dan kejam oleh tentara zionis Israel. Tindakan cepat Pemerintah Indonesia adalah amanat konstitusi bahwa pemerintah bertanggung jawab melindungi segenap warga bangsa," ucapnya.
Baca juga: Tentara Israel Tangkap Jurnalis Republika yang Jalankan Misi Kemanusiaan di Kapal Flotilla
Sebelumnya, Harian Republika mengecam keras tindakan militer Israel terhadap kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional.
Tindakan tersebut dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, dan kebebasan sipil warga dunia yang tengah menyalurkan bantuan bagi rakyat Palestina, khususnya di Gaza.
Dalam pernyataan resminya, Republika menegaskan keberpihakan terhadap para relawan kemanusiaan yang terlibat dalam misi tersebut.
“Kami berdiri bersama para relawan kemanusiaan dunia,” kata Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin dikutip dari akun Instagram Republika, Senin (18/5/2026).
Andi mengungkapkan bahwa dalam rombongan Global Sumud Flotilla terdapat sembilan relawan asal Indonesia, termasuk dua jurnalis Republika, yakni Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, yang tengah menjalankan tugas jurnalistik sekaligus misi kemanusiaan.
Menurutnya, para relawan datang bukan membawa ancaman, melainkan membawa bantuan logistik, obat-obatan, serta dukungan moral bagi warga sipil Palestina yang selama ini menghadapi blokade, krisis pangan, dan agresi berkepanjangan.
“Mereka datang bukan membawa senjata, tetapi solidaritas dan suara nurani untuk warga sipil Palestina,” kata Andi.
Republika menegaskan bahwa keselamatan seluruh relawan, khususnya warga negara Indonesia yang berada dalam misi tersebut, menjadi perhatian serius.
Media nasional itu juga menyerukan agar komunitas internasional tidak tinggal diam terhadap tindakan yang dinilai menghambat misi kemanusiaan.
“Solidaritas tidak boleh dibungkam. Misi kemanusiaan bukan kejahatan,” ujarnya.
Seruan pembebasan para relawan sekaligus dukungan terhadap perjuangan Palestina turut disampaikan melalui pernyataan tersebut dengan pesan: “Bebaskan para relawan dan Free Palestine.”
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.