Kisah Menegangkan Relawan RI di Perairan Siprus, Dikelilingi Drone Israel hingga Hilang Kontak
Dalam komunikasi terakhirnya, Angga sempat melaporkan situasi mencekam saat kapal mereka memasuki perairan di antara Siprus dan Gaza.
Penulis:
Danang Triatmojo
Editor:
Muhammad Zulfikar
Ringkasan Berita:
- Irvan Nugraha mengungkapkan komunikasi terakhir dengan Angga sebelum dikabarkan ditangkap oleh otoritas Israel.
- Dalam komunikasi terakhirnya, Angga sempat melaporkan situasi mencekam saat kapal mereka memasuki perairan di antara Siprus dan Gaza.
- Kapal-kapal dari GSF lebih dulu dikelilingi oleh drone dari Israel, yang kemudian kapal pasukan Israel bergerak mendekat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Andi Angga Prasadewa, Head of Disaster Rumah Zakat yang turut menjadi relawan dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF), menjadi salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap tentara Israel saat kapal Josef yang ditumpanginya berlayar di perairan Siprus, Mediterania Timur, pada Senin (18/5/2026).
Perairan Siprus adalah wilayah laut di sekitar pulau Siprus di Laut Mediterania Timur, yang berbatasan dengan Turki, Suriah, Lebanon, Israel, Mesir, dan Yunani. Lokasi ini sering menjadi jalur strategis internasional karena berada di persimpangan Eropa, Asia, dan Timur Tengah.
Baca juga: Muhammadiyah hingga MUI Kecam Israel Tangkap Aktivis & Jurnalis, Haedar Nashir: PBB Harus Bertindak
CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha mengungkapkan komunikasi terakhir dengan Angga sebelum dikabarkan ditangkap oleh otoritas Israel.
Irvan menceritakan bahwa pihak organisasi terus memantau pergerakan kapal melalui tiga pusat komando yang tersebar di Istanbul (Turki), Kuala Lumpur (Malaysia), dan kantor Dompet Dhuafa di Jakarta.
Baca juga: Relawan dan Jurnalis Indonesia Ditahan, Israel Dinilai Abaikan Hukum dan Nilai Kemanusiaan
Pusat komando ini bertugas memantau pergerakan konvoi baik melalui darat maupun laut secara real-time.
Menurut Irvan, komunikasi intens dilakukan untuk memberikan pembaruan informasi kepada keluarga Angga.
Hingga Senin (18/5/2026) sore, tepatnya pukul 15.00 WIB, pihaknya masih sempat menerima sinyal melalui sistem pelacak yang terpasang di setiap kapal GSF.
"Sebelumnya kami terus berkabar, menanyakan kondisi. Namun, pada pukul 3 sore kemarin, kami menerima SOS alert dan setelah itu komunikasi hilang," kata Irvan saat ditemui di kantornya, Rumah Zakat Matraman, Jakarta Timur, Selasa (19/5/2026).
Dalam komunikasi terakhirnya, Angga sempat melaporkan situasi mencekam saat kapal mereka memasuki perairan di antara Siprus dan Gaza.
Angga mengabarkan bahwa kapal yang ditumpanginya mulai dibayangi oleh kekuatan militer Israel.
Kapal-kapal dari GSF lebih dulu dikelilingi oleh drone dari Israel, yang kemudian kapal pasukan Israel bergerak mendekat.
"Memang pada saat mendekati perairan Siprus menuju Gaza, sudah mulai ada drone dan segala macam. Dia (Angga) sempat mengabarkan sudah mulai dikelilingi drone," kata Irvan.
Irvan menyebut kantor pusat komando juga menangkap kondisi kapal melalui CCTV yang telah dipasang di setiap kapal. Hal ini memungkinkan tim di pusat kendali untuk melihat langsung situasi dan posisi kapal secara visual.
"Di setiap kapal kami pasang CCTV, jadi command center bisa mengetahui perkembangan kapal dan kondisinya seperti apa. Itu bisa terlihat dari CCTV yang dipasang," katanya.
Setelah kapal tampak kosong dari para relawan kemanusiaan, sinyal SOS pun dikirimkan. Tak lama Angga tidak bisa dihubungi, alias komunikasi terputus.