9 WNI Relawan Global Sumud Flotilla Ditangkap Israel, Pakar: Mereka Sudah Siap Jadi Syuhada
Hikmahanto mengatakan bahwa para relawan itu tetap berhak mendapatkan perlindungan dari negara, hanya saja terbatas.
Penulis:
Rifqah
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- Pakar mengatakan para relawan Sumud Flotilla dari awal sudah siap menjadi martir dan syuhada demi membela Palestina.
- Hikmahanto mengatakan, para relawan yang memutuskan untuk pergi dalam misi kemanusiaan itu merupakan orang-orang terpilih karena sebelumnya sudah melakukan pelatihan, diberi briefing, dan ada protokol yang wajib diikuti.
- Meski demikian, Hikmahanto mengatakan bahwa para relawan itu tetap berhak mendapatkan perlindungan dari negara, hanya saja terbatas.
TRIBUNNEWS.COM - Pakar Hukum Internasional, Hikmahanto Juwana, mengatakan bahwa para relawan Global Sumud Flotilla 2.0 dalam misi pelayaran kemanusiaan yang ditangkap Israel sudah bersedia menjadi martis dan syuhada sejak awal.
Adapun, Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditangkap Israel ada sebanyak sembilan orang, empat di antaranya adalah jurnalis dan lima lainnya aktivis.
Sebelumnya, sembilan WNI itu mengirimkan pesan darurat berupa video pernyataan mereka ditangkap.
Setidaknya ada 10 kapal Global Sumud Flotilla yang ditangkap oleh tentara Israel.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI pun telah mendesak Israel agar melepaskan para WNI yang mereka tangkap.
Mengenai hal ini, Hikmahanto menjelaskan bahwa status para relawan itu tidak sama dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pergi ke luar negeri untuk mencari kerja karena tujuannya berbeda.
Para WNI yang pergi bekerja di luar negeri itu, kata Hikmahanto, berada dalam perlindungan negara jika terjadi sesuatu.
Sementara itu, para relawan Sumud Flotilla dari awal sudah siap menjadi martir dan syuhada demi membela Palestina.
"Dalam konteks Sumud Flotilla, ini adalah relawan-relawan, mereka harus sudah siap untuk menjadi martir, untuk menjadi syuhada. Karena mereka tahu yang mereka hadapi adalah Israel," ucap Hikmahanto, Kamis (21/5/2026), dikutip dari YouTube Kompas TV.
"Dan mereka sudah tahu bahwa sebelum masuk ke wilayah laut teritorial Israel ataupun Gaza, itu pasti mereka akan diintersep," tambahnya.
Hikmahanto mengatakan, para relawan yang memutuskan untuk pergi dalam misi kemanusiaan itu sebelumnya sudah melakukan pelatihan, diberi briefing, dan ada protokol yang wajib diikuti.
Baca juga: 9 WNI Diculik Zionis Israel, Pengamat Sayangkan Peran Indonesia di BOP: Apa Gunanya?
"Jadi mereka-mereka ini adalah orang-orang pilihan yang betul-betul mau untuk membesarkan Palestina, memerdekakan Palestina," ujarnya.
Oleh karena itu, kata Hikmahanto, status para relawan Sumud Flotilla dengan TKI itu berbeda.
"Seperti yang saya saya katakan, niat awal kalau TKI itu bukan untuk mati. Tapi kalau yang ini (relawan), ini harus siap dengan mati, mempertaruhkan nyawa. Maka saya katakan mereka bersedia untuk menjadi syuhada, menjadi martir," paparnya.