Kemendikdasmen: Anak Mudah Mengalami Adiksi Gadget, Berdampak ke Kesehatan Mental dan Fisik
Penggunaan gadget secara berlebihan tidak hanya berdampak terhadap kesehatan fisik anak, tetapi juga kesehatan mental mereka.
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Muhammad Zulfikar
Ringkasan Berita:
- Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Putri Utami, mengatakan saat ini persoalan anak-anak rentan mengalami adiksi gawai atau gadget.
- Menurutnya, adiksi gawai ini menjadi salah satu tantangan dunia pendidikan.
- Penggunaan gadget secara berlebihan tidak hanya berdampak terhadap kesehatan fisik anak, tetapi juga kesehatan mental mereka.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Putri Utami, mengatakan saat ini persoalan anak-anak rentan mengalami adiksi gawai atau gadget.
Menurutnya, adiksi gawai ini menjadi salah satu tantangan dunia pendidikan.
Baca juga: Kurangi Ketergantungan Gadget, Taman Baca Krida Galas Ajak Anak-anak Belajar dan Bermain Bersama
"Salah satu isu besar menurut kami adalah bagaimana anak-anak mudah sekali kemudian mengalami adiksi gadget," kata Rusprita dalam acara National Symposium 70th Antarbudaya AFS di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Dirinya menjelaskan penggunaan gadget secara berlebihan tidak hanya berdampak terhadap kesehatan fisik anak, tetapi juga kesehatan mental mereka.
Berdasarkan hasil cek kesehatan gratis dari Kementerian Kesehatan, gangguan kesehatan yang paling banyak dialami anak-anak saat ini adalah masalah mata akibat terlalu lama terpapar layar atau screen time.
"Hal ini memengaruhi kesehatan fisik. Berdasarkan hasil cek kesehatan gratis Kemenkes, gangguan kesehatan yang paling banyak dialami anak-anak adalah masalah mata akibat terlalu banyak terpapar screen time," ujarnya.
Selain kesehatan fisik, Rusprita mengatakan kesehatan mental anak juga ikut terdampak.
Dirinya menilai aktivitas digital, termasuk game online, membawa risiko yang perlu diwaspadai.
Rusprita mengutip data dari Densus 88 yang menunjukkan adanya peningkatan paparan radikalisme dan paham ekstremisme pada anak melalui game online.
Baca juga: 40 Persen Anak Usia 2-5 Tahun Kecanduan Gadget, Belajar Lewat Animasi Bisa Jadi Aktivitas Seru
"Berdasarkan data dari Densus 88, jumlah anak yang terpapar isu radikalisme dan paham ekstremisme ini juga signifikan meningkat melalui game online," ujarnya.
Rusprita menekankan bahwa karakter manusia tetap menjadi faktor utama dalam menghadapi perkembangan teknologi.
"Penguasaan teknologi di satu sisi penting, tetapi yang paling utama adalah karakter manusianya. Secerdas apa pun manusia, jika tidak bijak dan tidak memiliki adab untuk menggunakannya, kemungkinan malah justru akan menghancurkan, bukan memberikan kebaikan tetapi kemudaratan," katanya.
Kemendikdasmen, kata Rusprita, berupaya melakukan mitigasi untuk mencegah kecanduan gadget pada anak-anak.