Hampir Separuh Lansia di Indonesia Hidup Sendiri
Indonesia masuk era aging population. BKKBN perkuat Sekolah Lansia cegah depresi dan kesepian
Penulis:
M Alivio Mubarak Junior
Editor:
Eko Sutriyanto
Masalah psikologis ini dinilai memicu risiko depresi yang tinggi.
Hadirnya Sekolah Lansia diharapkan menjadi ruang interaksi sosial yang efektif agar mereka tetap aktif, bugar, dan produktif.
Terlebih, pendekatan ini juga melibatkan masyarakat luas agar lebih peka terhadap keberadaan lansia sebatang kara.
Mencegah Depresi Melalui Pemberdayaan Komunitas
Hingga saat ini, tercatat sudah ada 3.051 Sekolah Lansia yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.
Fasilitas ini menjadi senjata utama pemerintah dalam membangun ekosistem care economy demi menghadapi gelombang populasi menua sekaligus menyongsong bonus demografi kedua.
Uniknya, tenaga pengajar di sekolah ini tidak diambil dari luar, melainkan dipilih langsung oleh komunitas lansia setempat dengan menyesuaikan potensi dan kebutuhan yang ada.
"Misalnya kalau ada yang memiliki keahlian menganyam, ya bisa menjadi pengajar apabila sekolah lansianya membutuhkan. Ini mencegah mereka dari depresi," tutur Elsa.
Baca juga: BKKBN Soroti Bahaya Bullying di Kalangan Gen Z, Dorong Anak Muda Berani Melawan
Kabar baiknya, seluruh siswa yang menempuh pendidikan di Sekolah Lansia dan terdata di aplikasi Sidaya akan otomatis mendapatkan Kartu Sidaya.
Kartu ini berfungsi sebagai identitas sekaligus golden ticket untuk mengakses berbagai fasilitas publik secara mudah.
Menurut Elsa, data para lansia sudah tersimpan digital di dalam aplikasi, sehingga mereka cukup menunjukkan ponsel dengan bantuan pendamping saat ingin menggunakan layanan.
Kartu Sidaya ini juga telah terintegrasi dengan moda transportasi umum.
"Kami telah berkoordinasi dengan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga untuk memberikan fasilitas khusus bagi rombongan sekolah lansia saat bepergian bersama, sehingga mereka dapat memperoleh jalur khusus hingga penempatan dalam satu gerbong tanpa harus mengantre panjang," tutur Elsa.
Tidak hanya urusan transportasi, para siswa lansia ini juga mendapat karpet merah dalam hal pelayanan kesehatan.
Mereka diprioritaskan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis, mulai dari cek pendengaran, kesehatan mata, hingga gigi yang puncaknya dilaksanakan saat prosesi wisuda sekolah lansia.
Melalui integrasi 3.051 sekolah lansia dengan aplikasi Sidaya ini, pemerintah optimistis dapat mendongkrak kualitas hidup para lansia di Indonesia agar tumbuh menjadi pemuda lansia yang tangguh, mandiri, dan tetap produktif di usia senja.
"Selain itu, edukasi lintas generasi juga terus dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lansia yang tinggal sendiri," pungkas Elsa.
Langkah itu semua diambil setelah ditemukan banyaknya kasus lansia meninggal dunia tanpa diketahui keluarga ataupun tetangga sekitar.