Pakar Soroti Urgensi Kunker Prabowo ke Luar Negeri saat Rupiah Melemah: Rakyat Mulai Distrust
Menurut Rakhmat, alasan banyak yang mempertanyakan kunker luar negeri Prabowo itu karena masyarakat mulai kehilangan kepercayaan kepada pemerintah.
Penulis:
Rifqah
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Kunker terbaru Prabowo ke luar negeri adalah di Prancis, sekaligus untuk merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 H di sana.
- Rakhmat mengatakan, kunker luar negeri Prabowo itu dipertanyakan oleh banyak masyarakat dari mana anggarannya. Apalagi saat tahu sang presiden mendatangi Paris kembali.
- Menurut Rakhmat, alasan banyak yang mempertanyakan hal tersebut karena kini masyarakat sudah mulai kehilangan kepercayaan kepada pemerintah.
TRIBUNNEWS.COM - Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menyoroti kunjungan kerja (kunker) luar negeri Presiden Prabowo Subianto di tengah rupiah melemah.
Adapun, nilai tukar rupiah sekarang ini sudah tembus Rp17.800-an per dolar Amerika Serikat (AS), angka ini masih akan terus berubah seiring waktu, mengikuti arus modal masuk (inflow) dan keluar (outflow) di pasar keuangan domestik.
Namun, Prabowo sebelumnya mengaku merasa heran dengan pihak-pihak yang panik karena rupiah melemah. Padahal, menurutnya kondisi ekonomi di Indonesia saat ini masih sangat stabil dan menyebutkan orang desa tidak memakai dolar.
Prabowo juga masih aktif melakukan kunker ke luar negeri, meski rupiah masih terus melemah hingga hari ini.
Kunker terbaru Prabowo ke luar negeri adalah di Prancis, sekaligus untuk merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 H di sana.
Rakhmat pun mengatakan, kunker luar negeri Prabowo itu dipertanyakan oleh banyak masyarakat dari mana anggarannya. Apalagi saat tahu sang presiden mendatangi Paris kembali.
"Sekarang lagi ramai-ramai presiden kunjungan ke luar negeri, kembali lagi ke Paris misalnya, berapa kali ke Paris dihitung, ada yang menghitung, berapa kali ke Paris dan seterusnya, sampai dengan beberapa kunjungan ke luar negeri dan dihitung berapa anggarannya," ucapnya, Jumat (29/5/2026), dikutip dari YouTube Kompas.com.
Menurut Rakhmat, alasan banyak yang mempertanyakan hal tersebut karena kini masyarakat sudah mulai kehilangan kepercayaan kepada pemerintah.
"Itu contoh bahwa sebenarnya masyarakat sudah mulai mengalami yang namanya distrust. Kenapa? Karena ini kok presiden sering bolak-balik ke luar negeri, ke Prancis, Agendanya apa misalnya," katanya.
"Ternyata di Paris mereka bikin pesta dan seterusnya, pakai uang siapa dan seterusnya gitu kan. Nah, itu contoh bahwa masyarakat itu sekarang sudah mulai semakin kritis ya," tegas Rakhmat.
Sekarang ini, kata Rakhmat, rakyat sudah tidak bisa dibohongi dan akan terus mengulik segala hal.
Baca juga: Tiga Kali ke Prancis dalam Setahun, Prabowo: Hubungan Indonesia-Prancis Sedang di Titik Terbaik
"Ada yang mencari informasi datanya, hotelnya berapa semalam, kemudian anggarannya dari mana, seterusnya. Itu yang menjadi bahwa kita mengalami distrust di situ," paparnya.
Rakhmat pun mengatakan, hal itu tidak akan terjadi jika komunikasi pemerintah benar sehingga semuanya menjadi jelas.
"Itu beda kalau misalnya itu dikomunikasikan oleh tim dari pemerintah, agendanya apa, berapa hari, untuk apa, apa yang dicapai di sana, targetnya di mana gitu ya."
"Masalahnya di situ. Akhirnya kemudian muncullah praduga lah, munculnya apalah, wah ini uang inilah seterusnya gitu kan, di mana ini, dan seterusnya. Karena apa? Karena mengalami distrust," uja Rakhmat.