Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mendagri Tito Karnavian Sebut SARA Tak Lagi Jadi Persoalan Bagi Masyarakat

Tito Karnavian mengatakan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tak lagi jadi persoalan bagi masyarakat Indonesia saat ini.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Mendagri Tito Karnavian Sebut SARA Tak Lagi Jadi Persoalan Bagi Masyarakat
Tribunnews.com/Mario Christian Sumampow
PELANTIKAN PENGURUS PIKI - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian saat menyampaikan paparan dalam acara pelantikan pengurus Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) di GPIB Paulus Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/5/2026) malam. Tito Karnavian mengatakan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tak lagi jadi persoalan bagi masyarakat Indonesia saat ini. 

Ringkasan Berita:
  • Mendagri Tito Karnavian mengatakan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tak lagi jadi persoalan bagi masyarakat Indonesia di era kiwari.
  • Itu terbukti dari banyaknya pemimpin daerah dari kelompok minoritas yang justru dipercaya memimpin di wilayah mayoritas.
  • Menurut Tito, masyarakat rasional tidak mempermasalahkan urusan agama tapi lebih mempermasalahkan urusan yang pragmatis, urusan kesejahteraan.


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tak lagi jadi persoalan bagi masyarakat Indonesia di era kiwari.

Era kiwari adalah istilah dalam bahasa Sunda yang berarti zaman sekarang atau masa kini.

Baca juga: Mendagri: Profesionalisme ASN Jadi Kunci Ketahanan Negara, IPDN Punya Peran Strategis

Kata era merujuk pada periode waktu, sedangkan kiwari berarti saat ini, sekarang. 

Ungkapan era kiwari ini sering digunakan untuk membandingkan keadaan masa lalu dengan kondisi modern yang sedang berlangsung.

Itu terbukti dari banyaknya pemimpin daerah dari kelompok minoritas yang justru dipercaya memimpin di wilayah mayoritas.

Hal itu Tito sampaikan lewat sambutannya dalam acara pelantikan pengurus Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) di GPIB Paulus Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/05/2026) malam.

Rekomendasi Untuk Anda

 

 

"Artinya apa? Masyarakat kita rasional tidak mempermasalahkan urusan agama tapi lebih mempermasalahkan urusan yang pragmatis, urusan kesejahteraan," ujar Tito.

Tito memberikan contoh nyata yang terjadi di Maluku Utara.

Ia menyoroti bagaimana seorang Gubernur Sherly Tjoanda dari latar belakang etnis Tionghoa mampu memenangkan hati rakyat, meskipun berada di tengah masyarakat yang mayoritas muslim.

"Misalnya ada kepala daerah yang minoritas, keturunan Chinese lagi, wanita. Bisa terpilih di masyarakat mayoritas muslim yang 90 persen misalnya, Maluku Utara," kata mantan Kapolri itu.

Menurut Tito, fenomena ini membuktikan tujuan sejati dari pembentukan sebuah negara bukan didasarkan pada kesamaan latar belakang identitas.

Melainkan demi mencapai keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya.

Ia mengingatkan kembali filosofi lahirnya sebuah negara yang seharusnya mengedepankan kepentingan bersama di atas segala perbedaan.

"Dan itulah lahirnya negara, konsep lahirnya negara dari Rousseau itu adalah untuk memberikan keadilan kemakmuran. It's not a matter ethnicity, ras, agama lain-lain it's not a matter," pungkasnya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas