Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

PDIP: Pangkalan Militer Asing Bertentangan dengan Kehendak Sejarah Pembentukan RI

Belakangan ini sejumlah pihak khawatir Amerika Serikat (AS) akan membangun pangkalan militer di Indonesia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Fersianus Waku
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in PDIP: Pangkalan Militer Asing Bertentangan dengan Kehendak Sejarah Pembentukan RI
Dokumentasi PDI Perjuangan
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyatakan bahwa keberadaan pangkalan militer asing di Indonesia bertentangan dengan kehendak sejarah pembentukan Republik ini. 
Ringkasan Berita:
  • Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, menyatakan keberadaan pangkalan militer asing di Indonesia bertentangan dengan sejarah dan prinsip dasar pembentukan Republik Indonesia.
  • Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran sebagian pihak terkait rencana pembangunan fasilitas Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat C-130 Hercules di Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati melalui kerja sama pertahanan Indonesia–AS. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menyatakan bahwa keberadaan pangkalan militer asing di Indonesia bertentangan dengan kehendak sejarah pembentukan Republik Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Hasto saat memberikan amanat dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Masjid At-Taufiq, Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).

Hasto menegaskan melalui berbagai forum historis seperti Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non-Blok, hingga Konferensi Anti Pangkalan Militer Asing, Indonesia telah membuktikan bahwa Pancasila mampu bekerja dan diakui dalam sistem internasional.

"Jadi kalau ada yang berpikir Indonesia ada pangkalan militer asing maka itu bertentangan dengan kehendak sejarah pembentukan Republik ini," kata Hasto.

Hasto menjelaskan kepemimpinan geopolitik Indonesia di mata dunia tidak diukur dari seberapa besar anggaran belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista), melainkan dari kontribusi nyata dalam membangun peradaban dunia.

Ia mencontohkan Dasasila Bandung yang lahir dari KAA 1955.

Dokumen historis tersebut terbukti menjadi inspirasi kemerdekaan bagi bangsa-bangsa di Asia, Afrika, hingga Amerika Latin, sekaligus mengubah konstelasi politik dunia yang semula bipolar menjadi multipolar.

Rekomendasi Untuk Anda

"Jadi, kita memimpin dengan ide gagasan, dengan suatu tindakan-tindakan konkret melawan apa yang disebut sebagai neokolonialisme dan imperialisme," ujar Hasto. 

Menurut Hasto, hakikat kemanusiaan yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 secara tegas memandatkan Indonesia untuk membangun persaudaraan dunia dan menentang segala bentuk penjajahan yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan serta perikeadilan.

Suara kemanusiaan ini pula yang mendasari sikap tegas Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dalam merespons ketidakadilan di Timur Tengah pada masa kepemimpinannya.

"Ibu Mega dengan lantang membela kedaulatan bangsa Irak ketika terjadi aksi unilateral Amerika Serikat. Demikian pula sikap tegas Ibu Mega terhadap persoalan Iran. Kita berikan tepuk tangan yang meriah buat Ibu Megawati Soekarnoputri," ucap Hasto. 

Foto hoaks bendera AS berkibar di Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka yang beredar di media sosial. /Foto: Dok. warga
Foto hoaks bendera AS berkibar di Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka yang beredar di media sosial. /Foto: Dok. warga (Tribunnews.com/Via Kompas.com)

Isu pangkalan militer

Sejauh ini belum  ada pangkalan militer asing yang resmi di Indonesia.

Selama ini, pemerintah Indonesia secara konsisten menerapkan politik luar negeri bebas aktif dan melarang pendirian pangkalan militer asing di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Namun belakangan ini sejumlah pihak khawatir Amerika Serikat (AS) akan membangun pangkalan militer di Indonesia.

Hal itu menyusul kerja sama pertahanan Indonesia dan AS soal Wacana Fasilitas Perawatan (MRO) di Kertajati.

Dimana Pemerintah Amerika Serikat sempat menawarkan fasilitas pendanaan untuk membangun pusat perawatan dan perbaikan (Maintenance, Repair, and Overhaul atau MRO) pesawat C-130 Hercules di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

Kementerian Pertahanan RI menyatakan tawaran tersebut untuk pusat perawatan regional Asia, bukan pangkalan militer.

Sejumlah kalangan khawatir fasilitas ini dapat menjadi pangkalan militer terselubung. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas