Keluarga Diikuti hingga Anak Dikuntit, Islah Bahrawi Ceritakan Teror yang Dialaminya
Teror itu terjadi sejak bulan Mei lalu. Rumah dan keluargannya diintai oleh orang tidak dikenal (OTK).
Penulis:
Mario Christian Sumampow
Editor:
Muhammad Zulfikar
Ringkasan Berita:
- Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi mengalami teror yang diduga dilakukan oleh aparat militer.
- Teror itu terjadi sejak bulan Mei lalu. Rumah dan keluargannya diintai oleh orang tidak dikenal (OTK).
- Saat ini Islah ini sudah berada di safe house bersama keluarga, tapi teror itu masih terus berlanjut.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi mengalami teror yang diduga dilakukan oleh aparat militer.
Teror itu terjadi sejak bulan Mei lalu. Rumah dan keluargannya diintai oleh orang tidak dikenal (OTK).
Baca juga: Ketua Geng Motor Brutaliti Menangis saat Diborgol, Sebelumnya Pimpin Konvoi Bawa Celurit Teror Warga
Saat ini Islah ini sudah berada di safe house bersama keluarga, tapi teror itu masih terus berlanjut.
Kronologi teror itu pun disampaikan Islah dalam jumpa pers yang berlangsung di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Baca juga: Ketua Geng Motor Brutaliti Menangis saat Diborgol, Sebelumnya Pimpin Konvoi Bawa Celurit Teror Warga
Semua bermula ketika Islah berada di Yogyakarta pada 15 Mei.
“Pada tanggal 18 dan 15 Mei itu, ketika saya masih di Yogya, itu ada 2 OTK dan bahkan dia berada di depan rumah saya itu kurang lebih 2,5 jam,” kata Islah menyampaikan informasi yang ia dapat dari para tetangga.
Sekitar sembilan orang secara bergantian datang menggunakan motor dan mobil berbeda.
Mereka disebut memotret dan merekam rumah Islah. Bahkan berusaha mengarahkan kamera ke dalam rumah dengan menaikkan ponsel melewati pagar setinggi sekitar 1,8 meter.
Menurut tetangga Islah, para OTK juga menanyakan berbagai informasi pribadi mengenai dia dan keluarganya.
Mulai dari jumlah anggota keluarga, aktivitas anak-anaknya, lokasi kerja, hingga jadwal asisten rumah tangga.
Pada tanggal 21 Mei, Islah menjemput anaknya yang pulang dari Malaysia melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Dalam perjalanan menuju kawasan PIK 2 untuk makan bersama keluarga, keponakannya mencurigai sebuah mobil Avanza yang terus mengikuti kendaraan mereka.
Mobil yang dicurigai itu sempat difoto oleh keponakannya.
Setelah diselidiki, mobil yang sama ditemui berada sekitar 80 meter dari rumahnya, di sebuah warung kopi.
Keesokan harinya, kendaraan tersebut disebut kembali terlihat di sekitar Kantor Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan bersama sejumlah motor yang sebelumnya terekam berada di sekitar rumahnya.
“Mereka kumpul dan motor ini juga yang selama ini seliweran di rumah saya, motret dan seterusnya. Dua motor ini,” jelas dia.
Baca juga: Teror Pocong Merebak: Dari Jakarta, Lampung, Jawa Timur hingga Kalimantan
Anak Juga Dikuntit
Pada 21 Mei malam, Islah menghubungi anaknya.
Anak Islah juga merasa diikuti oleh kendaraan yang disebut memiliki ciri serupa hingga ke kantor.
Mobil itu terekam oleh dashcam sang anak.
Merasa situasi semakin mengkhawatirkan, Islah mulai berkoordinasi dengan warga sekitar untuk meningkatkan ronda lingkungan.
Pada malam yang sama, warga memergoki seorang pengendara motor yang diduga membawa perangkat Direction Finder (DF), yakni alat yang menurut Islah dapat digunakan untuk melacak posisi seseorang melalui sinyal seluler.
Saat dipergoki, pengendara tersebut disebut langsung melarikan diri.
Namun rekan yang diboncengnya tertinggal dan berhasil direkam warga.
Kemudian pada 22-24 Mei, melalui rekaman CCTV dan pengamatan warga, sejumlah orang yang diduga terlibat dalam pengintaian berhasil didokumentasikan.
Islah mengeklaim terdapat sekitar tujuh hingga sembilan orang yang menggunakan empat sepeda motor dan dua mobil berbeda.
Baca juga: Teror Suporter Lawan Tak Mempan, Fajar/Fikri Tetap Perkasa ke Semifinal Singapore Open
Pindah ke Safe House
Dikarenakan situasi yang kian tidak aman, pada 24 Mei Islah mengevakuasi keluarganya ke safe house.
“Saya kemudian mengevakuasi saya, keluarga saya, dan semuanya ke safe house, ke rumah pengungsian. Karena menurut saya, ini udah mulai enggak nyaman,” tuturnya.
Meski keluarga telah dievakuasi, Islah mengaku aktivitas pengintaian masih terus berlangsung.
Hingga 1 Juni, Islah mengaku masih menemukan orang yang memotret dan merekam rumahnya.
Menurutnya, orang tersebut terlihat berhati-hati dan menghindari kamera CCTV maupun kemungkinan pemotretan dari warga sekitar.
"Bahwa sampai tadi malam pun saya masih dikuntit," imbuhnya.
Teror Diduga dari TNI
Dalam sesi wawancara, Islah menegaskan OTK yang wajahnya terekam oleh kamera CCTV sudah mereka identifikasi.
“Ada beberapa gambar yang sudah kita dapatkan, enam orang itu ternyata teridentifikasi sebagai anggota TNI. Saya perjelas, anggota TNI,” tuturnya.
“Tapi lebih jauh dari itu kita belum bisa menjelaskan ini di kesatuan mana, di satuan kerja yang mana,” sambung dia.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.