Disinggung Abdul Mu'ti, Ini Penelitian UI yang Diklaim Mendikdasmen Temukan Dampak Positif MBG
Penelitian UI soal MBG tidak serta merta hanya ditemukan dampak positif dari program tersebut. Tapi ada temuan soal permasalahan di lapangan.
Penulis:
Yohanes Liestyo Poerwoto
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Abdul Mu'ti mengeklaim adanya penelitian UI yang menyebut bahwa ada dampak positif dari MBG yang merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut.
- Nyatanya, tidak seluruh hasil temuan hanya terkait dampak positif semata tetapi juga ditemukan berbagai permasalahan di lapangan.
- Contohnya terkait desain program yang terlalu terpusat, pengiriman makanan yang kerap terlambat, hingga MBG yang justru menjadi beban baru bagi guru.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyatakan bahwa Makan Bergizi Gratis (MBG) telah diteliti oleh Universitas Indonesia (UI) serta lembaga lain terkait dampak positif dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Abdul menyebut dalam penelitian tersebut, dampak positif dari MBG seperti peningkatan motivasi belajar hingga naiknya capaian akademik dari siswa.
"Jadi kami menjadikan MBG sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter, sudah kami terbitkan modul-modulnya, dan sudah ada penelitian dari UI dan lembaga yang lainnya yang menunjukkan dampak positif MBG terhadap peningkatan motivasi belajar, kehadiran di sekolah, dan juga terhadap capaian akademik," katanya di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Dia juga mengeklaim bahwa sebanyak 43 juta siswa sebagai penerima MBG menginginkan program ini lanjut.
Abdul mengatakan keinginan agar program tersebut dilanjutkan karena berdampak positif bagi penerima manfaat.
"Per 10 Juni sudah 80,7 persen murid yang sudah mendapatkan MBG. Jadi dari 53 juta sekian murid, 43 juta sekiannya sudah menerima MBG dan mereka menyatakan MBG terus dilanjutkan karena dampaknya sangat positif," ujarnya.
Baca juga: Purbaya Ikuti Keputusan Prabowo Soal Pangkas Anggaran MBG, Mahasiswa Minta Program Disetop
Penelitian UI soal MBG
Sementara, berdasarkan penelusuran Tribunnews.com pada Jumat (12/6/2026), memang ada satu penelitian dari Pusat Kajian Sosiologi UI terkait program MBG.
Dikutip dari laman UI, penelitian dilakukan di lima kabupaten/kota yakni Kota Kupang, Kota Depok, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, dan Pesisir Selatan.
Adapun total peserta yang dijadikan responden dalam penelitian ini sebanyak 1.267 siswa. Lalu, riset dilakukan pada Oktober-Desember 2025.
Berdasarkan penelitian ini, disimpulkan bahwa penerima MBG yang merespons positif atas program ini mayoritas berasal dari kelas menengah ke bawah.
"Respons positif penerimaan MBG banyak ditemukan di kelas sosial menengah ke bawah. Data dari lima daerah konsisten menunjukkan bahwa semakin rendah kelas sosial siswa, semakin tinggi penerimaannya terhadap program MBG," demikian tertulis dalam penelitian tersebut.
Selain itu, disimpulkan pula bahwa mayoritas siswa dari kalangan ekonomi menengah selalu menghabiskan makanan MBG yang disediakan.
Program MBG juga disebut mampu membangun suasana makan bersama yang menyenangkan bagi siswa dari seluruh kategori kelas sosial.
Baca juga: BEM UI Akan Demo di Bundaran HI Besok, Tuntut Turunkan BBM hingga Setop MBG, Simak Rute Alternatif
Total ada hampir 50 persen siswa menganggap MBG begitu penting karena mengaku tidak pernah hingga jarang sarapan pagi.
"Hampir separuh murid (48,5 persen) mengaku tidak pernah dan jarang sarapan sebelum pergi ke sekolah, yang membuat MBG sangat penting bagi mereka. Kondisi ini lebih-lebih terjadi pada kelompok ekonomi menengah ke bawah (50,1 persen)," katanya,
Penelitian ini juga menyebutkan bahwa orang tua siswa terbantu dengan adanya program MBG.
Ada beberapa faktor yang membuat orang tua mendukung program ini seperti meringankan beban ekonomi, membantu orang tua yang sibuk, mencegah anak kelaparan, hingga menjadikan anak lebih sehat dan mengurangi konsumsi 'makanan sampah' atau junk food.
Kendati demikian, ada beberapa masalah terkait pelaksanaan program MBG mengacu pada penelitian ini.
Dari desain program, Pusat Kajian Sosiologi UI menyebut ada lima masalah yang terjadi yakni tidak adanya pelibatan instansi daerah, struktur komando yang kaku, kepemimpinan yang terlalu terpusat, aturan seperti SOP, juknis, dan menu terlalu tersentralisasi, serta pendanaan yang terpusat.
Sementara, dalam praktiknya di lapangan, ada empat kendala yang ditemukan seperti terkait pengiriman makanan.
"73,3 persen dari sekolah yang disurvei mengaku pernah menghadapi kendala dengan pihak dapur MBG. Kendala tersebut umumnya berupa keterlambatan pengiriman makanan," katanya.
Selanjutnya, terkait distribusi makanan dari dapur ke sekolah yang semakin sukit buntut beberapa masalah seperti perbedaan jadwal pengiriman hingga ada kasus di mana dapur membagikan makanan MBG berdasarkan afiliasi ormas keagamaan.
Baca juga: Pihak Swasta Tersangka Baru Korupsi MBG, Beri Uang ke Sony Sonjaya usai Diberi Izin Cari Mitra
Lalu, separuh responden mmengatakan pernah mengalami keterlambatan distribusi makanan ke sekolah.
"Hal ini berpengaruh pada kualitas makanan yang disediakan untuk siswa sekolah," ujarnya.
Terakhir yakni beban kerja dapur yang tinggi turut berperan dalam permasalahan MBG. Total ada empat masalah terkait beban kerja pegawai dapur MBG yakni:
- Kapasitas produksi yang masif memaksa jam masak terlalu dini
- Kelelahan pekerja dapur memperbesar human error
- Jam kerja ahli gizi yang terlalu panjang
- Variasi kebijakan yayasan untuk insentif bagi pekerja
(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.