Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
Live
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Rupiah Melemah, Pakar Ingatkan Dampak Kenaikan Harga Obat, Pasien Penyakit Kronis Paling Rentan

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada meningkatnya harga bahan baku impor. Termasuk obat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Rupiah Melemah, Pakar Ingatkan Dampak Kenaikan Harga Obat, Pasien Penyakit Kronis Paling Rentan
Pexels
KESEHATAN - Ilustrasi obat-obatan diambil dari situs bebas royalti Pexels. 
Memuat video…

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga obat sebesar 10-20 persen mungkin terlihat kecil. Namun dalam kondisi ekonomi saat ini, dampaknya bisa sangat besar bagi masyarakat.
  • Kelompok seperti penderita hipertensi, diabetes, hingga kolesterol menjadi yang paling rentan merasakan beban tambahan akibat kenaikan harga obat.
  • Stabilnya harga obat yang ditanggung BPJS Kesehatan bukan berarti masalah selesai. Jika biaya produksi meningkat dan harga layanan tetap dipertahankan, tekanan akan berpindah ke sistem pembiayaan BPJS.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada meningkatnya harga bahan baku impor. Termasuk obat.

Kondisi ini juga berpotensi sebabkan kenaikan harga dan gangguan pasokan obat. 

Kenaikan harga obat diperkirakan akan memberikan dampak paling besar kepada pasien penyakit kronis yang harus mengonsumsi obat setiap hari.

Baca juga: Rupiah Melemah, Harga Obat Bisa Ikut Melonjak? Pakar Sebut Indonesia Terlalu Bergantung pada Impor

Kelompok seperti penderita hipertensi, diabetes, hingga kolesterol menjadi yang paling rentan merasakan beban tambahan akibat kenaikan harga tersebut.

Epidemiolog dan pakar kesehatan global Dicky Budiman mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa obat yang beredar di pasaran memiliki karakteristik berbeda.

Rekomendasi Untuk Anda

Sebagian obat lebih rentan mengalami kenaikan harga karena bergantung pada bahan baku impor.

Obat Penyakit Kronis Jadi Sorotan

Menurut Dicky, obat generik bermerek dan obat paten merupakan kelompok yang paling berisiko mengalami kenaikan harga.

Selain itu, obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan jangka panjang juga menjadi perhatian utama.

"Kedua obat-obatan kronik atau jangka panjang seperti obat hipertensi, diabetes, kolesterol ini yang paling meresahkan masyarakat karena kan dikonsumsi rutin. Kenaikan harganya bisa langsung dirasakan tiap bulan," kata Dicky pada keterangannya, Selasa (16/6/2026). 

Bagi pasien penyakit kronis, kenaikan harga tidak hanya dirasakan sekali saat membeli obat.

Beban tersebut akan terus muncul setiap bulan selama pengobatan berlangsung.

Kenaikan 10 Persen Bisa Terasa Berat

Dicky mengingatkan bahwa kenaikan harga obat non-BPJS Kesehatan sebesar 10 hingga 20 persen mungkin terlihat kecil di atas kertas.

Namun dalam kondisi ekonomi saat ini, dampaknya bisa sangat besar bagi masyarakat.

Harga bahan bakar, pangan, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya juga mengalami tekanan sehingga kenaikan harga obat menambah beban pengeluaran rumah tangga.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas