Teknologi Transmisi Bus di Indonesia Ketinggalan Zaman
Teknologi transmisi bus di Indonesia, khususnya bus besar untuk armada antarkota dan pariwisata, dinilai sudah ketinggalan zaman.
Penulis:
Choirul Arifin
Editor:
Sugiyarto
Laporan Wartawan Tribunnews Choirul Arifin
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Teknologi transmisi bus di Indonesia, khususnya bus besar untuk armada antarkota dan pariwisata, dinilai sudah ketinggalan zaman lantaran masih didominasi oleh bus-bus bertransmisi manual yang merepotkan pengemudi dan cenderung tidak efisien dalam konsumsi bahan bakar dan biaya perawatan (down time) bus.
Hal itu dikemukakan Cakra Wira Wiyata, ZF Asia Pacific Pte.Ltd Kantor Perwakilan Indonesia dalam perbincangan dengan Tribun di sela acara test drive transmisi matik ZF-Ecomat yang diaplikasikan di bus Mercedes-Benz OH 1526 milik PO Safari Dharma Raya bersama sejumlah pengusaha bus dari Jakarta menuju Sentul dan Puncak, Jawa Barat, Selasa (31/10) lalu.
Cakra menjelaskan, di negara maju, bus antarkota, dan bus kotanya sudah mengaplikasikan transmisi otomatis untuk armada busnya. Demikian juga di sejumlah negara tetangga, seperti Australia, Singapura, Thailand, bahkan Vietnam.
Dia menyebutkan, di Australia Singapura, bus bertransmisi otomatis jauh lebih dominan ketimbang bus bertransmisi manual. Demikian juga di Thailand. Di Vietnam, tren bus bertransmisi matik juga sedang berkembang di sana. Komposisinya sudah mendekati 50 banding 50," kata Cakra.
Cakra menjelaskan, menggunakan bus bertransmisi matik lebih menguntungkan buat pengusaha meski diakuinya investasi awal untuk membeli bus dengan opsi transmisi matik lebih mahal 15- 20 persen ketimbang bus bertransmisi manual.
Cakra menunjuk contoh pada aspek biaya perawatan. Dengan mengoperasikan bus bertransmisi matik, pengusaha bisa menekan periode down time, yakni periode di mana bus tak bisa dioperasikan karena harus masuk bengkel untuk perbaikan, ketimbang bus bertransmisi manual.
Selain itu, pengusaha juga bisa lebih menghemat biaya bahan bakar, karena bus bertransmisi matik mengonsumsi bahan bakar lebih irit ketimbang bus bertransmisi manual. Perpindahan gigi menjadi jauh lebih halus tanpa hentakan, dinamika pengemudian jadi lebih bagus dan nyaman buat pengemudi. P
enggunaan brake pads juga lebih hemat karena pengemudi bisa memanfaatkan fitur brake retarder pada bus bertransmisi matik.
Buat pengemudi, bus bertransmisi matik juga lebih nyaman dikendarai karena membuatnya jadi lebih fokus di jalan raya dan tak lagi direpotkan oleh urusan pedal kopling dan tuas transmisi.
"Di beberapa negara tertentu, untuk bus yang melayani perjalanan melintasi medan yang bersifat terrain (berkontur ekstrem), malah sudah diwajibkan menggunakan bus yang bertransmisi matik," jelas Cakra.
Selisihnya Tak Banyak
Bagaimana dengan imej merawat bus bertransmisi matik lebih ribet dan mahal ketimbang bus bertransmisi manual? Cakra membantahnya. Menurutnya, kunci merawat bus bertransmisi matik adalah disiplin dalam penggantian pelumas yang direkomendasikan oleh pabrikan secara berkala, begitu juga penggantian filternya.
Yudi Ardianto dari PT Hudaya, dealer transmisi ZF kepada Tribun mengatakan, proses penggantian pelumas transmisi matik ZF hanya butuh periode penggantian 3 tahun sekali jika operator menggunakan pelumas ZF Oil Ecofluid.
Harga transmisi manual dengan transmisi matik sendiri tak terpaut terlalu banyak. Sebuah sumber dari kalangan pengusaha bus kepada Tribun menyebutkan, harga paket transmisi manual baru untuk bus Hino RK series sekitar Rp 90 jutaan. Sementara, harga transmisi matik ZF untuk pasar aftermarket sekitar Rp 150 juta.
Apakah transmisi matik juga cocok diaplikasikan di bus kota dengan frekuensi stop and go yang tinggi? Sheerhan Bin Jeauden, Regional Manager Automotive Original Equipment OE ZF Asia Pacific Pte. Ltd. mengatakan, hal itu sama-sekali tak menjadi masalah lantaran untuk di Indonesia, pihaknya sudah memasang transmisi matik ZF pada sekitar 200 unit bus Trans Jakarta pada bus bermesin Hino dan Daewoo di beberapa koridor.
Begitu juga di bus antarkota, seperti yang sudah terpasang di armada PO Primajasa untuk unit pemadu moda trayek Bandung-Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, dan di bus malam AKAP Safari Dharma Raya, Jakarta.
Baca tanpa iklan