Toyota Pantau Pergerakan Rupiah, Kapan Harga Mobil Mulai Naik?
Pelemahan rupiah berpotensi menaikkan biaya produksi karena industri otomotif masih bergantung pada impor dan transaksi dolar.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Toyota masih menahan kenaikan harga mobil meski rupiah sempat menembus Rp 17.500 per dolar AS.
- Pelemahan rupiah berpotensi menaikkan biaya produksi karena industri otomotif masih bergantung pada impor dan transaksi dolar.
- Toyota menggandeng supplier, manufaktur, dan dealer untuk menekan dampak kenaikan kurs terhadap harga kendaraan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah di atas level Rp 17.500 per dolar AS menjadi perhatian industri otomotif nasional.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi kendaraan, terutama karena beberapa industri otomotif masih bergantung pada komponen impor dan transaksi berbasis dolar AS.
Meski demikian, PT Toyota Astra Motor (TAM) memastikan masih berupaya menjaga agar dampak pelemahan rupiah tidak langsung dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga kendaraan.
Baca juga: BYD Buka Suara soal Potensi Kenaikan Harga Mobil Imbas Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS
Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM) Bansar Maduma mengatakan, pihaknya saat ini terus memantau kondisi pasar dan menjaga kepercayaan pelanggan Toyota di tengah tekanan nilai tukar.
"Pastinya memang di kondisi saat ini, seperti teman-teman tahu bahwa dolar sudah sangat tinggi. Namun yang pasti kami selalu monitor adalah bagaimana customer kami. Kita tidak mau bahwa ini semua dibebankan oleh customer," tutur Bansar usai acara Toyota GR Car Meet di Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (16/5/2026).
Toyota berupaya semaksimal mungkin untuk menekan dampak kenaikan kurs terhadap konsumen agar mobilitas pelanggan tetap terjaga dan loyalitas terhadap merek Toyota tidak menurun.
"Sehingga customer juga lebih trust kepada merek Toyota dan tidak akan meninggalkan mereka dan pastinya kita ingin support mobilitas dari customer. Kita akan terus monitor, untuk saat ini kita masih mencoba menjaga (harga)," terangnya.
Bansar menjelaskan, strategi yang dilakukan Toyota untuk mengantisipasi kenaikan dolar dilakukan secara menyeluruh bersama seluruh rantai pasok di dalam grup Toyota, mulai dari pemasok komponen hingga jaringan dealer.
Koordinasi dilakukan bersama pemasok Tier 1 hingga Tier 3 dan pihak manufaktur untuk mencari cara mengurangi dampak kenaikan exchange rate terhadap biaya produksi kendaraan.
"Kita berdiskusi dengan mereka terus bagaimana bisa mengurangi impact terhadap kenaikan exchange rate ini. Kita tidak bisa bekerja sendiri karena membuat kendaraan itu pastinya dibutuhkan satu rangkaian produksi, dari supplier Tier 3 sampai Tier 1, sampai manufaktur, sampai ke kita, sampai ke dealer. Jadi kita satu sebagai Toyota Indonesia untuk mengurangi impact tersebut," ucap Bansar.