Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Rupiah Tembus Rp18.000, Anggota DPR Minta Pemerintah Jaga Harga Pangan

Rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS. DPR mengingatkan dampak yang paling dirasakan rakyat adalah harga pangan dan kebutuhan pokok.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Fersianus Waku
zoom-in Rupiah Tembus Rp18.000, Anggota DPR Minta Pemerintah Jaga Harga Pangan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
HARGA PANGAN - Pedagang melayani pembeli di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Minggu (9/3/2025). Anggota DPR RI mengingatkan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berpotensi menekan biaya distribusi dan harga kebutuhan pokok masyarakat. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah menembus Rp18.000, DPR ingatkan dampaknya bisa terasa di dapur warga.
  • Harga cabai, bawang, dan minyak goreng dinilai lebih dirasakan masyarakat.
  • Pemerintah diminta menjaga pangan dan distribusi agar inflasi tak meluas.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah pelemahan rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), Anggota DPR RI Azis Subekti meminta pemerintah memberi perhatian yang sama besar pada stabilitas harga pangan karena dampaknya dinilai lebih cepat dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Pernyataan itu disampaikan menyusul pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah perdagangan terhadap dolar AS pada Kamis (4/6/2026).

Meski pada perdagangan Jumat (5/6/2026) rupiah tercatat menguat tipis dibanding penutupan sebelumnya, pergerakan nilai tukar masih menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi harga barang, biaya produksi, dan daya beli masyarakat.

Sebelumnya, pemerintah dan Bank Indonesia menyatakan terus memantau pergerakan rupiah serta menjaga stabilitas ekonomi melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter di tengah tekanan ekonomi global.

Azis menilai pembahasan mengenai kondisi ekonomi tidak boleh hanya terfokus pada pergerakan kurs.

"Musuh utama rakyat saat ini bukanlah kurs dolar. Musuh utamanya adalah kenaikan harga kebutuhan pokok. Dengan kata lain, medan pertempuran ekonomi Indonesia sesungguhnya bukan hanya berada di pasar keuangan, melainkan di pasar rakyat," kata Azis kepada wartawan, Jumat (5/6/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut Azis, dampak ekonomi lebih cepat dirasakan masyarakat melalui harga pangan, ongkos transportasi, dan kebutuhan pokok sehari-hari dibanding pergerakan kurs yang tidak selalu bersentuhan langsung dengan aktivitas masyarakat.

Harga Pangan Jadi Sorotan

Azis mengatakan pelemahan rupiah memang dapat meningkatkan biaya impor dan memberi tekanan terhadap harga barang. Namun, kenaikan harga pangan tidak sepenuhnya dipicu oleh faktor nilai tukar.

"Pelemahan rupiah memang dapat meningkatkan biaya impor dan menambah tekanan harga. Namun, lonjakan harga cabai, bawang merah, tomat, atau berbagai komoditas pangan lainnya tidak sepenuhnya lahir dari nilai tukar," ujarnya.

Baca juga: Rupiah Anjlok Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom: Ujung-ujungnya Masyarakat yang Akan Tanggung Rugi

Menurut dia, berbagai persoalan domestik juga berkontribusi terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, mulai dari distribusi yang belum efisien, biaya logistik yang tinggi, gangguan cuaca, hingga rantai pasok yang panjang.

Pandangan tersebut sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat inflasi tahunan pada Mei 2026 sebesar 3,08 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi mencapai 4,94 persen.

Beberapa komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga antara lain cabai merah sebesar 25,64 persen, tomat 9,82 persen, bawang merah 6,65 persen, dan minyak goreng 2,87 persen.

Menurut Azis, data tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang paling dirasakan masyarakat saat ini berada pada kebutuhan dasar sehari-hari.

Dorong Penguatan Distribusi

Azis menilai pengendalian inflasi pangan memerlukan langkah yang lebih luas dibanding sekadar intervensi di pasar valuta asing.

"Banyak solusi justru berada di lapangan. Di gudang pangan, di sentra produksi, di pasar induk, di koperasi desa, hingga di pelabuhan dan jalur distribusi," tuturnya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas