Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Butet: Jokowi Satu-Satunya Presiden yang Bicara Soal Kebudayaan

"Satu-satunya calon presiden yang menyatakan dalam perdebatan akan memperkuat diplomasi kebudaaan," ujar Butet yang hadir dalam konser itu.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Randa Rinaldi
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Butet: Jokowi Satu-Satunya Presiden yang Bicara Soal Kebudayaan
Tribunnews/JEPRIMA
Calon Presiden (Capres) nomor urut dua, Joko Widodo atau sering disapa Jokowi saat menyapa Relawan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Konser Salam 2 Jari di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta Selatan, Sabtu (5/7/2014). Acara konser musik Salam 2 Jari dihadiri oleh sejumlah artis papan atas Indonesia seniman atau artis yang akan datang di antaranya Slank, Ian Antono, /rif, Koil, Krisdayanti, Erwin Gutawa, Nia Dinata, Navicula, Barry Likumahuwa, Stereocase, Setiawan Djody, Superglad, Mira Lesmana, Butet Kartaradjasa, Once, Happy Salma, Cinta Laura, Ayu Utami, dan Inul Daratista. (Tribunnews/Jeprima) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Randa Rinaldi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Banyaknya artis, komedian, musisi, dan pelaku seni yang hadir di konser "Salam 2 Jari"di Gelora Bung Karno Jakarta, Sabtu (5/7/2014), sore, mendapat apresiasi dari seniman Butet Kertaradjasa.

"Satu-satunya calon presiden yang menyatakan dalam perdebatan akan memperkuat diplomasi kebudaaan," ujar Butet yang hadir dalam konser itu.

Menurut dia apa yang disampaikan oleh Jokowi merupakan suatu pemikiran yang paham akan industri kreatif.

Butet menilai poin penting industri kreatif yaitu diplomasi kebudayaan.

Diplomasi kebudayaan ini akan membantu mewujudkan diplomasi dalam politik. Satu cara yang bisa ditempuh menurutnya yaitu memaksimalkan peran duta besar dalam mengembangkan industri kreatif.

"Saya sangat optimis kalau Jokowi yang memimpin pasti akan menggunakan kekuatan kebudayan sebagai bagian dari diplomasi politik," ujarnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Selama ini ia menganggap kekuatan kebudayan sebagai bagian diplomasi politik masih tidak kuat. Kebudayaan masih dijadikan sebagai cadangan dalam mengatasi masalah bangsa Indoonesia.

"Setelah ada korban, pemerintah baru mengatakan perlunya kebudayaan jika sudah ada tumbalnya,"tuturnya.

Pria asli Yogyakarta ini menambahkan pemimpin akan berbicara soal kebudayan jika sudah mengenai soal akar bangsa. Ia berharap di bawah pemerintahan Jokowi jika terpilih akan melakukan pembenahan.

Pembenahan kebudayaan ini dilakukan dengan stategi kebudayaan secara menyeluruh dengan berelasi dengan kebijakan lainnya.

"Korea Selatan hari ini berhasil menguasai dunia karena menggunakan strategi kebudayaan sehingga anak muda mengandrungi K-Pop,"ucapnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas