Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bagaimana Longsor Bisa Terjadi?

Secara ilmiah, longsor merupakan pergerakan massa tanah, batuan, atau material lain dari lereng yang kehilangan kestabilannya.

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Bagaimana Longsor Bisa Terjadi?
GO/Tribunnews.com
TERJADINYA LONGSOR - Bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra terjadi akibat kombinasi cuaca ekstrem, kondisi geospasial, dan kerusakan lingkungan yang saling memperkuat. Edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat dinilai sangat penting untuk mengenali tanda bahaya, meminimalkan risiko, dan melindungi keberlangsungan kehidupan serta pendidikan. 

TRIBUNNEWS.COM - Duka mendalam kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatra. Sejak akhir November 2025, cuaca ekstrem memicu banjir besar dan tanah longsor di beberapa provinsi, mulai dari Sumatra Barat hingga Aceh.

Dampaknya, pemukiman rusak, jalur transportasi terputus, bahkan ratusan warga meninggal dunia.

Di tengah situasi yang berat ini, berbagai spekulasi dan analisis bermunculan tentang penyebab bencana. Ada yang menyoroti kemungkinan kerusakan hutan, ada pula yang melihat fenomena iklim sebagai faktor dominan.

Para pakar dari berbagai perguruan tinggi pun turut memberikan pandangannya.

Salah satunya dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang menjelaskan bahwa banjir dan longsor di Sumatra tidak terjadi karena satu faktor tunggal, melainkan hasil interaksi antara kondisi atmosfer, aspek geospasial wilayah, dan kemampuan daerah dalam menampung intensitas hujan yang ekstrem.

Kenyataan bahwa begitu banyak faktor saling berkaitan membuat kita perlu memahami satu hal penting bahwa longsor bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba.

Ada proses, tanda, dan kondisi tertentu yang sebenarnya dapat diamati sejak awal.

Rekomendasi Untuk Anda

Pemahaman inilah yang perlu terus diperkuat, terutama bagi generasi muda yang kelak menjadi bagian dari masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana.

Bagaimana Longsor Terbentuk?

Tanah longsor bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Secara ilmiah, longsor merupakan pergerakan massa tanah, batuan, atau material lain dari lereng yang kehilangan kestabilannya.

Proses ini biasanya dipicu oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia, dan keduanya saling memperkuat satu sama lain hingga lereng tidak mampu lagi menahan beban.

Salah satu pemicu paling umum adalah hujan ekstrem. Saat air hujan meresap terlalu banyak ke dalam tanah, pori-pori tanah menjadi jenuh.

Kondisi ini membuat daya rekat antarbutir tanah melemah. Pada titik tertentu, lereng kehilangan kekuatannya dan material yang semula stabil mulai bergerak turun.

Longsor juga lebih mudah terjadi di wilayah dengan lereng curam, jenis tanah lempung, atau struktur batuan yang rapuh.

Baca juga: Imbas Banjir-Longsor, Kementerian Kehutanan Hentikan Pemanfaatan dan Pengangkutan Kayu di Sumatera

Pulau Sumatra, misalnya, memiliki bentang alam pegunungan bukit barisan yang memanjang dari utara ke selatan dan menyimpan banyak lereng curam dengan curah hujan tinggi.

Namun, faktor kerusakan lingkungan memperparah risiko itu. Hilangnya tutupan hutan di kawasan hulu membuat tanah kehilangan “penahan alami” berupa akar pohon.

Padahal, akar berperan besar menahan air sekaligus memperkuat struktur tanah. Ketika hutan terdegradasi, air hujan tidak lagi diserap optimal.

Alhasil, limpasan permukaan meningkat, erosi membesar, dan kestabilan lereng terganggu. Dalam situasi curah hujan ekstrem, kondisi tersebut dapat berubah menjadi rangkaian peristiwa yang berujung longsor maupun banjir bandang.

Dampak Longsor bagi Kehidupan Masyarakat dan Dunia Pendidikan

Ketika sebuah longsor terjadi, kerusakannya tidak hanya tampak pada lereng yang runtuh. Dampaknya merambat luas ke berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Dalam banyak kasus, longsor menjadi pemicu serangkaian masalah baru yang berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu setelah peristiwa utama.

Kerusakan fisik, terganggunya aktivitas harian, hingga berhentinya proses belajar mengajar merupakan rangkaian konsekuensi yang sering tidak terlihat dalam pemberitaan singkat.

Di balik dampak-dampak tersebut, ada satu sektor yang sering tidak menjadi sorotan awal padahal ikut terdampak besar yaitu pendidikan.

Ketika longsor melanda sebuah wilayah, sekolah menjadi salah satu bangunan yang paling rentan mengalami kerusakan, terutama jika letaknya berada di lereng atau dekat aliran sungai.

Beberapa sekolah terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar karena akses menuju gedung tidak lagi bisa dilewati.

Pada kasus tertentu, sekolah beralih fungsi menjadi tempat pengungsian sehingga kegiatan belajar harus ditunda sampai keadaan membaik.

Selain itu, distribusi bantuan pendidikan seperti buku, perlengkapan belajar, atau layanan psikososial bagi siswa sering terhambat oleh kondisi lapangan.

Pemahaman terhadap konsekuensi semacam ini menjadi penting, terutama untuk meningkatkan kesadaran bahwa mitigasi bencana bukan hanya urusan teknis, tetapi juga investasi untuk menjaga keberlangsungan pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat.

Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Longsor Terjadi?

Longsor memang tidak selalu bisa dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan bila masyarakat memiliki kesiapsiagaan sejak awal. Pengetahuan mengenai tanda-tanda alam, pemahaman tentang kondisi lingkungan, hingga pengelolaan lahan yang tepat menjadi bekal penting yang dapat menyelamatkan nyawa.

Di wilayah rawan bencana seperti perbukitan, kawasan hutan, atau area sekitar sungai, kemampuan membaca gejala awal menjadi kunci utama mitigasi.

Salah satu langkah pertama yang perlu dilakukan masyarakat adalah mengenali tanda-tanda bahwa suatu lereng mulai tidak stabil. Beberapa gejala yang sering muncul antara lain munculnya retakan pada tanah, pepohonan yang tampak miring, atau perubahan warna air sungai menjadi lebih keruh dari biasanya.

Dalam beberapa kasus, debit air yang tiba-tiba menurun justru bisa menandakan adanya sumbatan material longsor di hulu sungai.

Jika sumbatan ini jebol akibat hujan deras, banjir bandang dapat terjadi sewaktu-waktu. Kemampuan membaca gejala-gejala sederhana ini dapat menjadi early warning yang sangat penting bagi keselamatan warga.

Selain mengenali tanda-tanda alam, perilaku sehari-hari masyarakat juga memegang peran besar. Menghindari aktivitas yang memperparah kerentanan lereng menjadi langkah mitigasi awal yang cukup efektif.

Misalnya, pembangunan rumah atau bangunan di bawah tebing yang rawan runtuhan material. Penempatan bangunan sebaiknya mempertimbangkan jarak aman dari lereng agar tidak terdampak jika terjadi pergeseran tanah.

Vegetasi pun memainkan peranan penting. Pohon dan semak di sekitar lereng berfungsi sebagai pengikat tanah melalui akar-akarnya.

Ketika pohon ditebang tanpa kontrol, tanah kehilangan penahan alaminya dan risiko longsor meningkat signifikan. Karena itu, menjaga vegetasi bahkan melakukan reboisasi menjadi bagian dari mitigasi jangka panjang.

Pada akhirnya, mitigasi bukan hanya soal langkah teknis, tetapi juga perubahan pola pikir. Ketika masyarakat menyadari bahwa tanda-tanda kecil di lingkungan bisa menjadi penanda bahaya, maka kesiapsiagaan akan lahir dengan sendirinya. Dan dari situlah, risiko bencana dapat ditekan sedini mungkin.

Pengetahuan yang Menyelamatkan

Bencana longsor selalu menyisakan luka, tetapi juga membawa pelajaran penting tentang bagaimana alam bekerja.

Ketika kita memahami tanda-tandanya, maka risiko dapat ditekan dan langkah penyelamatan bisa dilakukan jauh lebih cepat. Pengetahuan inilah yang menjadi fondasi dari kesiapsiagaan.

Edukasi kebencanaan bukan lagi wawasan tambahan, melainkan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang tinggal di negara rawan bencana seperti Indonesia.

Dengan memahami bagaimana proses longsor terjadi dan apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengurangi dampaknya, setiap orang memiliki kesempatan lebih besar untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungannya.

Bagi generasi muda, pengetahuan ini memiliki arti yang lebih luas. Mereka tidak hanya diharapkan tahu apa itu longsor, tetapi juga mampu bertindak bijak ketika tanda-tanda bahaya muncul.

Kepekaan terhadap lingkungan, kemauan untuk belajar, serta kesiapan mengikuti simulasi kebencanaan adalah langkah-langkah kecil yang dapat membawa perubahan besar.

Nilai-nilai ini akan membentuk kamu menjadi pribadi yang cerdas, berempati, dan memahami bahwa menjaga alam juga berarti menjaga keselamatan bersama.

Dalam situasi sulit seperti yang terjadi di Sumatra, dukungan moral kepada siapa pun yang sedang terdampak menjadi hal berharga.

Kepedulian kecil bisa memberi kekuatan besar bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi kondisi yang tidak mudah.

Akhirnya, mari bertumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga peduli dan berempati.

Dengan kesadaran lingkungan dan literasi kebencanaan yang kuat, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih aman dan penuh kesiapan menghadapi berbagai tantangan alam. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas