Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun
LIVE ●
tag populer

Legenda Cakar Ayam Indonesia yang Mendunia

Mengenal fondasi cakar ayam, salah satu sistem fondasi yang paling dikenal di Indonesia.

zoom-in Legenda Cakar Ayam Indonesia yang Mendunia
Istimewa/(Ganesha Operation)
FONDASI CAKAR AYAM - Mengenal fondasi cakar ayam, salah satu sistem fondasi yang paling dikenal di Indonesia. (Ganesha Operation) 

TRIBUNNEWS.COM - Dalam dunia konstruksi, kekuatan sebuah bangunan tidak ditentukan oleh apa yang terlihat di permukaan, melainkan oleh sistem yang bekerja diam-diam di bawah tanah. 

Salah satu sistem fondasi yang paling dikenal di Indonesia adalah fondasi cakar ayam.

Dinamakan demikian karena bentuk dan cara kerjanya menyerupai cakar ayam yang mencengkeram tanah, fondasi ini dirancang khusus untuk menghadapi kondisi tanah lunak yang banyak dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia.

Bukan sekadar istilah unik, fondasi cakar ayam merupakan inovasi teknik sipil yang lahir dari kebutuhan nyata di lapangan.

Sistem ini dikenal mampu meningkatkan daya dukung tanah sekaligus menjaga kestabilan bangunan, bahkan pada kondisi tanah yang sulit.

Dari sinilah cerita tentang salah satu karya legendaris teknik sipil Indonesia bermula.

Sejarah Terciptanya Fondasi Cakar Ayam

Lahirnya fondasi cakar ayam tidak bisa dilepaskan dari kondisi alam Indonesia.

Rekomendasi Untuk Anda

Banyak wilayah di Tanah Air memiliki tanah lunak atau berawa, kondisi yang sering kali menyulitkan pembangunan konstruksi dengan sistem fondasi konvensional. 

Tantangan inilah yang pada akhirnya melahirkan salah satu inovasi teknik sipil paling penting di Indonesia.

Kisah fondasi cakar ayam bermula pada tahun 1961. Saat itu, Ir. R. M. Sedyatmo, seorang insinyur sipil sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga menjabat sebagai pejabat di Perusahaan Listrik Negara (PLN).

PLN mendapat tugas dari pemerintah untuk membangun tujuh menara listrik tegangan tinggi di kawasan rawa-rawa Ancol, Jakarta.

Menara-menara ini dibutuhkan untuk mendukung sistem kelistrikan dari Tanjung Priok hingga kawasan Gelanggang Olahraga Asian Games 1962.

Namun, rencana tersebut tidak berjalan mulus. Tanah Ancol yang sangat lunak membuat fondasi konvensional sulit diterapkan.

Dalam waktu yang cukup lama, hanya dua menara yang berhasil berdiri, sementara tenggat pembangunan semakin mendesak.

Berangkat dari kondisi tersebut, Sedyatmo mulai mencari solusi yang lebih sesuai dengan karakter tanah di lokasi proyek.

Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas