Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Muhammadiyah Tetap Enggan Gabung ke Program Organisasi Penggerak Bikinan Kemendikbud

Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti melalui keterangan resminya, Senin (3/8/2020).

Muhammadiyah Tetap Enggan Gabung ke Program Organisasi Penggerak Bikinan Kemendikbud
Surya/Ahmad Zaimul Haq
Kegiatan Forum Taaruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) 2020 SMA Muhammadiyah 2, Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (13/7/2020). Fortasi 2020 yang digelar secara daring dengan memanfaatkan aplikasi video konferensi itu diikuti 400 siswa baru guna mencegah penyebaran Covid-19 terutama di wilayah yang masih ditetapkan sebagai zona merah dalam peta persebaran Covid-19. Surya/Ahmad Zaimul Haq 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ormas Muhammadiyah memilih tetap konsisten untuk tidak bergabung pada Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendikbud.

Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti melalui keterangan resminya, Senin (3/8/2020).

Abdul Mu'ti mengatakan, keputusan tersebut diambil sesuai hasil rapat bersama PP. Muhammadiyah dengan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) dan Majelis Pendidikan Tinggi dan Litbang (Dikti Litbang).

"Mendikbud memang sempat menyampaikan permintaan agar Muhammadiyah bisa bergabung dengan program POP. Terkait dengan permintaan tersebut, Muhammadiyah memutuskan untuk tetap tidak berperan serta dalam program POP," ujar Mu'ti.

Ia mengatakan, Muhammadiyah mengapresiasi silaturrahim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim ke PP Muhammdiyah.

Muhammadiyah pun ujar Mu'ti, menyambut baik
keputusan mantan bos Gojek itu untuk mengevaluasi program POP.

"Sekarang ini sekolah/madrasah dan perguruan tinggi sedang fokus penerimaan peserta didik baru dan menangani berbagai masalah akibat pandemi Covid-19," kata dia.

Sebelumnya, Nadiem menyambangi kantor Pusat Pimpinan (PP) Muhammadiyah pada Rabu siang (29/7/2020) lalu.

Kedatangan mantan CEO Gojek tersebut bertujuan untuk menyampaikan permintaan maaf atas polemik POP.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu juga meminta agar Muhammadiyah dapat bergabung kembali ke POP Kemendikbud.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas