Wikan Sakarinto: Pak Jokowi Ingin Pendidikan Vokasi Lahirkan SDM Siap Kerja
Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), resmi berdiri pada 31 Desember 2019.
Editor:
Rachmat Hidayat
Apa yang Anda harapkan masyarakat mau mendukung sekolah vokasi?
Poinnya begini, setelah ini kita kelola, kami memiliki strategi khusus, yaitu link and match. Jadi seluruh kampus vokasi, SMK, lembaga kursus dan pelatihan, harus link and match dengan industri dan dunia kerja. Ini adalah kebijakan utama Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi. Link and match ini tidak hanya sekadar tanda tangan MoU, foto-foto kemudian masuk koran, tidak.
Itu ibarat orang berhubungan, pacaran saja belum, baru kenalan. Link and match kami tidak hanya sekadar pacaran, tapi sampai menikah levelnya. Jadi ada paket link and match itu lima minimal, kurikulum dibikin bersama, dosen tamu dan guru tamu minimal 50 jam per semester.
Artinya industri mengajar di kampus?
Industri mengajar di kampus atau di SMK. Magang dari awal sudah dirancang, jangan sampai tiba-tiba industri cuma disodori magang suruh nerima tidak, dari awal sudah dirancang. Sekolah, kampus dan industri sudah merancang. Kemudian ada sertifikasi kompetensi bagi lulusan.
Yang jelas ada komitmen menyerap lulusan (sekolah vokasi) walau tidak wajib. Ini paket link and match level menikah yang kami rancang, tambah satu lagi, mengembangkan teaching facotry. Jadi teaching industry masuk ke dalam kurikulum.
Jadi sejak awal industri dilibatkan dalam merancang kurikulum sekolah vokasi agar peserta didik benar-benar merasakan dunia kerja?
Benar, sangat tepat. Jangan sampai lulusan, diterima di dunia kerja harus dilakukan training ulang. Buang duit, buang waktu, buang tenaga. Lebih baik kurikulum training industri ini masuk menjadi kurikulum pendidikan di SMK atau kampus vokasi, ikut mengajar juga orang-orang industrinya. Itu kan enak sekali.
Banyak anggapan di masyarakat, kalau saya mau pintar dan jadi pejabat, mestinya SMA, tidak SMK?SMA atau SMK atau memilih akademik atau vokasi itu sama-sama baik. Dengan catatan, harus passionate. Harus ada ketertarikan pada bidang ilmunya, bahagia belajar di situ plus punya visi ke depan mau ngapain.
Mau masuk kampus vokasi atau akademik S1, SMA atau SMK, dua-duanya bisa jadi pemimpin. Pemimpin itu tidak hanya technical skill, tapi juga harus punya soft skill, leadership dan managerial. Itu yang buat mereka jadi pemimpin. Mau menggunakan ilmu vokasi ataupun akademik, keduanya butuh soft skill. Jadi pemimpin bisa saja dari vokasi.
Bagaimana menjelaskan pada pelajar SMP terkait opsi memilih SMA atau SMK ini?
Anak-anak SD belajar keras untuk mendapatkan nilai tinggi agar masuk ke SMP favorit. Ini yang menurut saya kurang tepat, karena bukan masalah sekolah favorit itu, melainkan belajar dengan passion tadi.
Jangan sampai anak-anak kita sejak SD atau SMP memahami bahwa belajar itu adalah berkompetisi untuk mendapatkan nilai yang tinggi agar diterima di sekolah favorit. Itu membuat anak-anak kita tidak siap passion dan soft skillnya. Karena hanya mengejar kognitif, nilai tinggi agar bisa masuk sekolah favorit.
Baca: Bagaimana Masa Depan Siswa SMK? Dirjen Vokasi Beberkan Keunggulan Lulusannya
Ketika nanti sudah masuk SMP, akan memilih SMA atau SMK, tentukan dulu apakah dia cocok dulu. Bila dia cocok pada hal-hal yang analitik, maka dia harus masuk ke SMA.
Tapi kalau dia cocoknya lebih ke hands on, praktikal, tapi tetap ada teorinya ya, masuklah SMK bisa sampai ke D4 atau bisa sampai ke S2 terapan di Jerman atau di Taiwan dan sebagainya.