Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Anak-anak Rentan Terpapar Mutasi Virus Corona, Epidemilog: Pertimbangkan Ulang Rencana Buka Sekolah

Epidemiolog mengingatkan pemerintah agar mempertimbangkan ulang rencana pembukaan sekolah tatap muka pada awal 2021.

Anak-anak Rentan Terpapar Mutasi Virus Corona, Epidemilog: Pertimbangkan Ulang Rencana Buka Sekolah
SURYA/SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
UJI COBA PTM - Sebanyak 18 siswa kelas IX SMPN 1 Surabaya saat mengukuti materi pelajaran IPA pada uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM), Senin (7/12). Rencananya Pemkot Surabaya menggelar uji coba PTM selama 2 minggu di 14 SMP negeri dan swasta guna persiapan sekolah tatap muka yang diinstruksikan kemendikbud pada Januari 2021. SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menanggapi adanya mutasi virus corona yang ditemukan di Inggris, Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman angkat bicara.

Ia mengingatkan pemerintah agar mempertimbangkan ulang rencana pembukaan sekolah tatap muka pada awal 2021.

Dikhawatirkan, dengan kecepatan penularan 70 persen dari virus asli, maka anak-anak rentan terpapar Covid-19.

"Ada dugaan juga bahwa mutasi ini lebih efektif juga menginfeksi anak-anak. Ini akan jadi perhatian besar apalagi kalau wacana buka sekolah ini terus digulirkan," ujarnya saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (25/12/2020).

Baca juga: Pemkot Solo Putuskan Tunda Kegiatan Belajar Tatap Muka Awal 2021

Dicky menambahkan, secara umum mutasi virus corona ini akan membuat orang sakit lebih banyak yang kemudian membuat pelayanan dan beban di Fasilitas Kesehatan jauh lebih berat.

Baca juga: Sekolah Tatap Muka Dibolehkan, Orang Tua Harus Ingat Pesan Ibu Untuk Cegah Penularan Covid-19

"Bisa sampai 3 kali lipat dari yang saat ini ada dan artinya kalau lebih banyak yang sakit, fasilitas Kesehatan tidak memadai, maka akan lebih banyak orang tidak tertolong," ungkapnya.

Ketua Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban dalam cuitan di akun twitternya mengatakan, varian baru virus corona, sebenarnya sudah ada dari 20 September silam, tapi baru disadari beberapa hari lalu.

"Varian baru ini bernama N501Y dan punya kemampuan infeksi yang lebih tinggi. Lebih mudah menular 70 persen. Terutama kepada anak-anak," cuitnya pada Jumat (25/12/2020).

Ikuti kami di
Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas