Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

IKANU Nilai Tepat Pembatasan Kuota Studi di Mesir

Ada mahasiswa yang ke Mesir justru tidak belajar moderatisme Al Azhar dan saat pulang bawa doktrin yang kontradiktif dengan nilai kebangsaan

IKANU Nilai Tepat Pembatasan Kuota Studi di Mesir
ist
KH Anis Masduki 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hasanudin Aco

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA— Sekretaris Jenderal Ikatan Keluarga Alumni NU Mesir (IKANU), KH Anis Masduki mendukung mendukung kebijakan pembatasan kuota mahasiswa Indonesia ke Timur Tengah, termasuk Universitas Al Azhar Mesir

Pembatasan itu dilakukan dengan dengan menaikkan standar kompetensi keilmuan, menguji komitmen wawasan kebangsaan serta nilai-nilai Islam moderat (wasathiyah) yang menjadi visi dan misi Al-Azhar itu sendiri. 

Menurut Gus Anis, begitu akrab disapa, tiga variabel itu penting sebagai bagian dari strategi untuk menjaminkan calon mahasiswa yang berangkat ke Timur Tengah dengan memanfaatkan fasilitas negara dan menikmati beasiswa Al-Azhar adalah delegasi bangsa yang nantinya akan memperkuat eksistensi dan kontribusi agama dalam pembangunan nasional dan memiliki wawasan kebangsaan yang kuat ketika kembali ke Tanah Air

Selama ini, dia Gus Anis nyatanya banyak terjadi calon mahasiswa yang berangkat ke Mesir justru tidak belajar moderatisme Al Azhar dan pulang ke tanah air justru membawa doktrin yang kontradiktif dengan nilai-nilai kebangsaan sebagaimana telah dibangun pendiri Indonesia. 

Di samping itu, menurut Anis, seleksi dan pembatasan kuota penerimaan mahasiswa sangat dibutuhkan saat ini mengingat jumlah mahasiswa Indonesia yang berada di Timur Tengah, terutama Mesir, sudah cukup banyak. 

Baca juga: KBRI Kairo Bantah Tudingan Imam Jazuli Soal Seleksi Calon Mahasiswa Al Azhar Mesir

“Bahkan di antara mereka banyak yang mengalami disorientasi karena tidak lagi memiliki komitmen belajar.

Mereka justru bekerja dengan mengabaikan tujuan dan kewajiban belajar selama di perantauan,” ujar dia. 

Menurut Gus Anis, pembatasan kuota calon mahasiswa yang akan belajar ke Timur Tengah, terutama Mesir, juga penting dilakukan supaya Kementerian Agama bisa menyaring calon mahasiswa berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan, memperbaiki fungsi pembinaan, dan fokus pada peningkatan kualitas, bukan kuantitas. 

Dia mengatakan, dengan terdengarnya kabar maraknya mahasiswa Indonesia di Mesir yang mengalami disorientasi belajar, tidak sanggup menyelesaikan studi, bergabung dengan kelompok garis keras atau bahkan teroris, maka kebijakan Kementerian Agama kali ini layak untuk didukung dan diapresiasi.  

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Eko Sutriyanto
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas