Tribun

Materi Sekolah

Pangeran Diponegoro dan Sejarah Perang Jawa, Strategi Belanda Merebut Jawa Tengah dan Jawa Timur

Pangeran Diponegoro dan sejarah Perang Jawa, strategi Belanda merebut Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perang ini memakan biaya yang besar selama 5 tahun.

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Arif Tio Buqi Abdulah
zoom-in Pangeran Diponegoro dan Sejarah Perang Jawa, Strategi Belanda Merebut Jawa Tengah dan Jawa Timur
Gramedia
Pangeran Diponegoro dan sejarah Perang Jawa, strategi Belanda merebut Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perang ini memakan biaya yang besar dan berlangsung selama 5 tahun. 

TRIBUNNEWS.COM - Pangeran Diponegoro adalah tokoh pahlawan dari Perang Jawa atau Perang Diponegoro.

Pangeran Diponegoro merupakan putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo.

Beliau lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta.

Sosok Pangeran Diponegoro dikenal secara luas karena memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa karena terjadi di tanah Jawa.

Perang Jawa menewaskan ratusan ribu rakyat Jawa dan puluhan ribu seradu Belanda.

Berikut ini sejarah Perang Jawa dan peran Pangeran Diponegoro, dikutip dari Kemdikbud dan Gramedia.

Baca juga: Sejarah Candi Borobudur, Zona Candi, dan Harga Tiket Masuk Turis Lokal dan Asing

Sejarah Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Nicolaas Pieneman
Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Nicolaas Pieneman (Gramedia)

Perang Jawa atau Perang Diponegoro merupakan pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara.

Perang Jawa terjadi karena Pangeran Diponegoro tidak menyetujui campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan.

Selain itu, sejak tahun 1821 para petani lokal menderita akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh warga Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman.

Van der Capellen mengeluarkan dekrit pada tanggal 6 Mei 1823 yang menyatakan semua tanah yang disewa orang Eropa dan Tionghoa wajib dikembalikan kepada pemiliknya per 31 Januari 1824.

Namun, pemilik lahan diwajibkan memberikan kompensasi kepada penyewa lahan Eropa.

Pangeran Diponegoro membulatkan tekad untuk melakukan perlawanan dengan membatalkan pajak Puwasa agar para petani di Tegalrejo dapat membeli senjata dan makanan.

Kekecewaan Pangeran Diponegoro juga semakin memuncak ketika Patih Danureja atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak untuk membuat rel kereta api melewati makam leluhurnya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas