Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Kisah Lala Wee, CEO MSS Group yang Kembali Kuliah Pascasarjana dan Ubah Cara Mengelola Bisnis

Selama dua tahun menempuh pendidikan S2, ia merasakan metode pembelajaran yang langsung terhubung dengan praktik bisnis yang dijalankan.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Kisah Lala Wee, CEO MSS Group yang Kembali Kuliah Pascasarjana dan Ubah Cara Mengelola Bisnis
Istimewa
PENDIDIKAN PASCASARJANA-CEO MSS Group, Lala Wee, membuktikan pendidikan pascasarjana bukan sekadar gelar. Studi S2 hingga doktor mengubah cara berpikirnya dalam mengelola bisnis dan meningkatkan omzet perusahaan. 

TRIBUNNEWS.COM – Belajar tidak pernah mengenal kata selesai bagi Lala Wee. Di tengah kesibukannya sebagai CEO MSS Group dan ibu dari dua anak, ia tetap memilih kembali ke bangku kuliah.
Bagi Lala, pendidikan bukan sekadar mengejar gelar akademik, melainkan proses membangun pola pikir yang lebih matang dalam menjalankan bisnis.

Perjalanan kariernya dimulai setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada Januari 2012. Saat itu ia sempat bekerja sebagai konsultan di Jakarta hingga September 2012.

Setelah itu, Lala kembali bergabung dengan bisnis keluarga dan terlibat aktif hingga 2016. Pada tahun yang sama, ia memutuskan membangun usahanya sendiri dari nol.

Namun perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan internal perusahaan hingga tekanan eksternal, termasuk saat pandemi Covid-19 melanda.

Pada masa itu, ia bahkan sempat mengalami kerugian besar. Kondisi tersebut membuatnya merasa membutuhkan mentor serta sudut pandang baru dalam mengelola bisnis.

“Waktu itu saya merasa ini saatnya berkembang. Saya mengambil kuliah daring dan merasa pembelajaran di UC sangat relevan dengan bisnis yang saya jalankan,” ujarnya.

Momentum pandemi justru menjadi titik balik dalam perjalanan kariernya. Lala kemudian memutuskan melanjutkan studi Magister Manajemen di Universitas Ciputra.
Program tersebut dipilih karena dinilai relevan dengan kebutuhannya sebagai seorang wirausaha.

Rekomendasi Untuk Anda

Selama dua tahun menempuh pendidikan S2, ia merasakan metode pembelajaran yang langsung terhubung dengan praktik bisnis yang dijalankan.

Berbagai tugas kuliah tidak hanya bersifat teoritis, tetapi mengharuskannya menganalisis dan mencari solusi atas persoalan nyata di perusahaannya sendiri.

“Setelah kuliah, pengambilan keputusan menjadi lebih sistematis dan berdasarkan akar masalah. Tidak lagi hanya mengandalkan intuisi atau pengalaman,” jelasnya.

Baca juga: Dedikasikan Ilmu ke Generasi Muda, Praktisi Ini Tempuh S3 di Universitas Ciputra

Perubahan pola pikir tersebut berdampak langsung pada kinerja perusahaan. Saat itu bisnisnya sedang berada dalam fase peningkatan kapasitas yang membutuhkan inovasi serta keberanian mengambil risiko.

Dengan strategi yang lebih terarah, pendapatan perusahaan bahkan meningkat hingga tiga kali lipat. Ia juga memperluas portofolio produk dan menerapkan strategi pemasaran yang lebih fokus sehingga pertumbuhan omzet berlangsung stabil hingga saat ini.

Meski telah merasakan dampak positif dari pendidikan S2, Lala tidak berhenti belajar. Atas saran mentor, ia melanjutkan pendidikan ke Program Studi Doktor Manajemen dan Entrepreneurship (DME) di universitas yang sama.

Kini ia tercatat sebagai mahasiswa semester dua.
Awalnya Lala mengira program doktor hanya diperuntukkan bagi calon akademisi. Namun setelah menjalaninya, ia menyadari bahwa jenjang pendidikan tersebut justru membentuk cara berpikir yang lebih strategis dan komprehensif.

“Program doktor bukan soal titel. Yang paling terasa adalah perubahan cara berpikir dalam mengambil keputusan strategis dan operasional,” katanya.

Menjalani peran ganda sebagai pemimpin perusahaan sekaligus mahasiswa doktoral tentu bukan hal mudah. Ia harus mengatur waktu secara disiplin, sering tidur lebih malam dan bangun lebih pagi, serta belajar mendelegasikan tanggung jawab kepada tim.

Dukungan keluarga serta rekan-rekan kuliah yang mayoritas merupakan wirausaha dan profesional dari berbagai daerah juga menjadi penyemangatnya.
Ia menilai lingkungan akademik di Universitas Ciputra memiliki budaya kekeluargaan yang kuat. Relasi yang terbangun selama studi pun tetap terjaga bahkan setelah lulus.

“Dukungan teman sangat mempengaruhi kesuksesan studi. Teman-teman magister di angkatan saya saling support dan mereka semua ternyata tidak ada yang menjadi tenaga pendidik. Semuanya entrepreneur dan professional, domisilinya bukan cuma di Surabaya, tapi juga Jakarta bahkan Timor Leste,” kenangnya.
Ke depan, Lala berharap riset disertasinya dapat memberikan dampak lebih luas, khususnya bagi pelaku usaha di sektor ritel yang semakin kompetitif.

Baginya, pendidikan pascasarjana merupakan investasi jangka panjang yang tidak hanya memperkuat perusahaan, tetapi juga membentuk kepemimpinan yang lebih visioner.

“Belajar adalah proses seumur hidup. Selama kita mau bertumbuh, selalu ada ruang untuk berkembang,” tutupnya.

Baca juga: Pemahaman Etika AI dan Literasi Digital Senjata Penting Melawan Kejahatan Deepfake

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas