Menyoroti Fenomena Mismatch Skill di Pendidikan SMK, Sekolah dan Industri Harus Aktif Berkolaborasi
Demi mengurangi angka pengangguran, sekolah dan industri harus berkolaborasi untuk menghindari mismatch skill siswa dengan kebutuhan industri.
Penulis:
Faryyanida Putwiliani
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Di antaranya dengan membuka program kunjungan industri di Rumah Belajar TBIG. Di sana siswa bisa melihat laboratorium yang berisikan produk-produk TBIG sebagai perusahaan penyedia tower telekomunikasi.
Tak hanya kunjungan industri, TBIG juga membuka pelatihan dan program magang untuk siswa SMK.
Melalui program tersebut, siswa diberikan pengetahuan secara teori dan prakteknya di lapangan.
TBIG berharap apa yang dipelajari siswa, bisa bermanfaat untuk mereka ketika terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya.
Sejauh ini sudah ada 84 peserta pelatihan yang mendapat kesempatan untuk direkrut langsung menjadi karyawan oleh TBIG dan perusahaan mitra TBIG. Mereka adalah orang-orang terpilih, yang bisa memenuhi standar kualifikasi TBIG dengan seleksi yang ketat.
Baca juga: Pemprov Jateng Buka SPMB SMK Boarding dan Semi Boarding 2026
Sehingga bisa dipastikan tidak semua siswa pelatihan bisa langsung mendapat kesempatan menjadi karyawan. Semua itu tergantung pada kualifikasi masing-masing siswa dan bagaimana mereka memanfaatkan pelatihan dari TBIG ini menjadi peluang kerja.
"Nah, siswa juga kami berikan pelatihan ini pelatihan praktek maupun teori. Kita memang tidak menjanjikan proses rekrutmen atau nanti sampai tahap mereka."
"Tapi faktanya, ada 84 siswa sampai hari ini yang sudah bekerja di TBIG. Jadi, dari sudah berarti kualifikasinya bagus," kata TBIG CSR Advisor, Fahmi Alatas dalam Acara Kick Off Journalism Fellowship on CSR, di Rumah Belajar TBIG, Karawaci, Tangerang, Banten, Jumat (22/5/2026).
Tidak berhenti pada pelatihan untuk siswanya saja, TBIG juga memberikan pelatihan bersertifikasi untuk para guru SMK.
Harapannya pelatihan untuk guru ini bisa memperbaiki kualitas pengajaran di sekolah.
"Kita beri kesempatan juga untuk guru. Tercatat ada 107 guru yang sudah mengikuti pelatihan selama dua tahun terakhir. Dan itu. Mereka diberikan sertifikat."
"Kenapa guru? Diharapkan nanti Kualitas pengajaran di sekolah-sekolah itu meningkat," kata TBIG CSR Advisor, Fahmi Alatas, kepada Tribunnews.com, Jumat (22/5/2026).
Baca juga: Kemendikdasmen Buka Pendaftaran Kemah Sekolah Sehat 2026 untuk Murid SMK, Cek Syarat dan Jadwalnya
Sekolah dan Industri Harus Aktif Berkolaborasi
Fahmi Alatas mengungkap, meski perusahaan telah membuka peluang pelatihan dan kesempatan magang kepada siswa SMK, tapi siap tidaknya siswa untuk masuk ke dunia kerja itu tergantung dari manajemen sekolah dan siswa itu sendiri.
Jika pihak sekolah seperti guru atau kepala sekolah aktif membangun jejaring dan kerjasama dengan perusahaan, maka selanjutnya akan terjalin sinergi untuk menciptakan lulusan SMK yang siap kerja.
Siswa juga harus memberikan komitmen penuh selama proses pelatihan atau magang dari perusahaan, agar pengetahuan dan skill yang diajarkan bisa benar-benar mereka pelajari dan bermanfaat untuk bekal mereka di dunia kerja nanti.