Plus-Minus Sikap Yenny Wahid dan Gusdurian Terhadap Jokowi vs Prabowo
Dukungan Yenny Wahid dan Gusdurian terhadap Jokowi jelas menguntungkan kubu petahana, bersama sentimen positif yang turut dibawanya.
Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Fajar Anjungroso
Laporan wartawan tribunnews.com, Danang Triatmojo
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago menyebut dengan merapatnya Gusdurian dan Yenny Wahid ke kubu Joko Widodo tak semata serentak diikuti oleh Gusdurian yang lain.
Pasalnya dia menyebut, soliditas Nahdlatul Ulama (NU) secara kelembagaan tak ambil bagian dalam berpolitik praktis.
Kendati begitu, Pangi menyebut dukungan ini sedikit banyak menguntungkan kubu Jokowi. Walaupun keputusan yang dideklarasikan Yenny Wahid dan Gusdurian belum tentu diikuti oleh seluruh Gusdurian lainnya.
"NU ini sangat dinamis dan pilihan politik warga NU nggak mudah memang di klaim. Soliditas mereka secara kelembagaan, mereka nggak berpolitik praktis. Secara kultural pilihan warga NU juga bisa berbeda," kata Pangi saat dihubungi Tribunnews.com, Kamis (27/9/2018).
Pangi juga menjelaskan bahwa suara dari NU kultural sejatinya tak bakal bisa di klaim, karena mereka adalah manusia yang bebas dalam menentukan pilihan. Sehingga suara para elite belum tentu menjadi acuan mereka untuk bersikap, utamanya dalam politik.
Nahdliyin, kata Pangi terbagi dalam dua faksi, yakni faksi Muhaimin Iskandar dan faksi Yenny Wahid yang biasa dikenal dengan Gusdurian.
Dukungan Yenny Wahid dan Gusdurian terhadap Jokowi jelas menguntungkan kubu petahana, bersama sentimen positif yang turut dibawanya.
Sentimen positif itu ialah Jokowi akan dianggap didukung oleh kelompok Islam modern dan tokoh plural. Sementara Prabowo akan terkesan berada dalam lingkaran yang didukung kelompok islam radikal.
Baca: Ketum PPP: Tidak Ada Alasan Ideologis untuk Gusdurian Dukung Prabowo-Sandi
"Secara isu Jokowi menang, karena Jokowi dianggap didukung kelompok Islam modernis dan tokoh plural. Prabowo terkesan di lingkarannya didukung oleh kelompok islam radikal," kata Pangi.
Pengamat politik itu juga menilai, dukungan Yenny dan Gusdurian bisa dibilang sebagai bentuk penguatan simbol, bahwa Jokowi didukung islam moderat.
Dengan demikian, kubu sebelah yakni Prabowo Subianto seperti dirugikan karena tak mendapat dukungan dari keluarga Gusdur, terlebih mereka telah berusaha menjalin komunikasi dengan melakukan kunjungan ke kediaman Sinta Wahid beberapa waktu lalu.
"Secara simbol, Jokowi diuntungkan, dan jelas Prabowo dirugikan karena tidak mendapat dukungan dari keluarga Gusdur," pungkasnya.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.