Tribun

Pilpres 2019

Kubu Jokowi : Kubu Prabowo Tak Paham Soal Mata Uang Braille

Pemerintah Jokowi telah mengeluarkan mata uang yang sudah bisa dikenali oleh kaum disabilitas sejak tahun 2016 lalu.

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Fajar Anjungroso
Kubu Jokowi : Kubu Prabowo Tak Paham Soal Mata Uang Braille
Istimewa
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga menanggapi santai peryataan Direktur Komunikasi dan Media koalisi Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo soal usul pembuatan mata uang braille

Menurut Arya, usulan Hasyim itu terbilang lucu dan tidak memunculkan ide baru.

Pasalnya, pemerintah Jokowi telah mengeluarkan mata uang yang sudah bisa dikenali oleh kaum disabilitas sejak tahun 2016 lalu.

"Jadi kelihatan bahwa Pak Hasyim itu enggak mengerti dan enggak paham kalau uang rupiah sekarang sudah bisa dikenali oleh kaum disabilitas seperti tunanetra," kata Arya Sinulingga saat dihubungi wartawan, Sabtu (17/11/2018).

Politisi Partai Perindo ini juga menyebut, peryataan Hasyim soal banyaknya tunaterta yang menjadi tukang pijat dan dibohongi orang soal uang menunjukan merendahkan kaum disabilitas.

Baca: Prabowo -Sandi akan Buat Mata Uang Braile

Arya menyebut, kaum tunanetra itu bukan hanya tukang pijat melainkan memiliki pekerjaan lainnya.

"Ini kan lucu, tunanetra itu bukan hanya tukang pijat. Tunanetra itu banyak pekerjaannya, tidak hanya tukang pijat. Jadi jangan direndahkan juga kalau tunanetra itu hanya jadi tukang pijat," jelas Arya.

Dua peryataan itu, kata Arya, menunjukan kubu Prabowo-Sandi tidak paham soal mata uang yang selama ini beredar di masyarakat.

Sebelumnya, Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo-Sandi akan mencetak mata uang braile atau yang ramah terhadap tuna netra bila terpilih dalam Pemilu Presiden 2019 mendatang.

Hal tersebut disampaikan direktur komunikasi dan media koalisi Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo di Posko pemenangan, Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat, (16/11/2018).

"Ide saya untuk bikin mata uang braille. Kami dapat aspirasi dari tunanetra ada banyak yang bekerja jadi tukang pijat," ujar Hashim.

Ide tersebut muncul menurut Hashim karena ia menerima banyak keluhan dari para tuna netra.

Mereka mengeluh kerap ditipu pembayaran jasa pijat karena tidak bisa melihat nominal uang.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas