Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Gen Z Memiliki Rumah Sendiri Tak Lagi Mimpi Berkat KPR dan Superapp BTN

Di usia 27 tahun, Enrico berani ambil KPR BTN dan punya rumah di Boyolali. Lewat Bale by BTN, cicilan jadi praktis dan terkontrol secara digital.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Gen Z Memiliki Rumah Sendiri Tak Lagi Mimpi Berkat KPR dan Superapp BTN
Tribunnews.com/Alfin Wahyu Yulianto
Enrico (27) menunjukkan Superapp Bale by BTN saat ditemui di rumahnya di Perumahan Griya Cengklik Permai, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (15/2/2026). Aplikasi tersebut digunakannya untuk mengakses layanan perbankan, termasuk memantau cicilan KPR dan transaksi keuangan secara digital. 

TRIBUNNEWS.C0M - Di usia 27 tahun, ketika banyak generasi Z masih ragu membeli rumah, Enrico Rizky Fitrananda justru mantap mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bank Tabungan Negara (BTN), untuk memiliki hunian pertamanya di Boyolali, wilayah penyangga Kota Solo, Jawa Tengah.

Enrico bekerja sebagai graphic designer di sebuah perusahaan Batik di Solo. 

Seperti banyak anak muda seusianya, penghasilannya dulu lebih banyak habis untuk hobi dan kebutuhan personal.

Ia mengaku belum pernah benar-benar memikirkan soal rumah untuk hunian masa depan.

“Tadinya saya tidak kepikiran ambil KPR. Saya masih single, kebutuhan belum banyak, penghasilan habis untuk hobi,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Perumahan Griya Cengklik Permai, Boyolali, Jawa Tenga, Minggu (15/2/2026).

Unit rumah KPR yang dibiayai BTN di Perumahan Griya Cengklik Permai, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (15/2/2026). Program pembiayaan perumahan ini memudahkan masyarakat, termasuk generasi muda, memiliki hunian dengan skema cicilan terjangkau.
Unit rumah KPR yang dibiayai BTN di Perumahan Griya Cengklik Permai, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (15/2/2026). Program pembiayaan perumahan ini memudahkan masyarakat, termasuk generasi muda, memiliki hunian dengan skema cicilan terjangkau. (Tribunnews.com/Alfin Wahyu Yulianto)

Namun, saran orang tua menjadi titik balik. Di tengah harga tanah dan rumah yang terus merangkak naik setiap tahun, ia mulai merasa perlu mengambil keputusan lebih serius untuk masa depan.

“Saya pikir, kenapa tidak ambil rumah saja? Harga tanah dan rumah tiap tahun naik, takut nanti tidak terjangkau,” katanya.

Rekomendasi Untuk Anda

Bagi generasi Z (Gen Z), memiliki rumah bukan perkara sederhana.

Tantangannya nyata di mana harga properti yang terus meningkat, kebutuhan uang muka yang tidak kecil, serta gaya hidup urban yang sering kali menyedot pendapatan bulanan. 

Banyak yang akhirnya menunda karena merasa belum cukup mapan atau takut terbebani cicilan jangka panjang.

Namun Enrico memilih pendekatan berbeda. Ia mulai melakukan riset.

Ia mencari tahu skema pembiayaan, berdiskusi dengan developer, dan menghitung kemampuan finansialnya sendiri. 

Dari proses itu, ia menemukan developer yang telah bekerja sama dengan BTN, sehingga proses pengajuan KPR menjadi lebih terintegrasi.

Proses yang ia bayangkan rumit ternyata berjalan relatif cepat.

“Setelah urus DP dan BI checking, prosesnya tidak lama. Rumah dibangun sekitar tiga sampai empat bulan. Setelah itu akad KPR, dan beberapa minggu kemudian serah kunci,” tuturnya.

Baginya, kejelasan alur menjadi kunci. Ia tahu kapan harus membayar uang muka, kapan proses pembangunan dimulai, dan kapan akad dilakukan. Tidak ada tahapan yang terasa membingungkan.

Enrico memilih tenor 15 tahun dengan angsuran sekitar Rp1,07 juta per bulan. 

Angka tersebut, menurutnya, masih sangat aman dari penghasilannya sebagai graphic designer.

Ia tetap bisa menyisihkan tabungan dan menikmati hobinya tanpa merasa tertekan.

“Saya hitung dulu benar-benar. Dengan cicilan segitu, saya masih bisa nabung dan tetap punya ruang untuk kebutuhan lain,” katanya.

Keputusan itu memberinya rasa aman yang sebelumnya tidak ia miliki. Rumah bukan lagi sekadar angan, melainkan aset nyata yang ia bangun dari hasil kerjanya sendiri.

Bagi Enrico, pengalaman memiliki rumah tidak berhenti pada proses akad dan serah terima kunci. 

Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelola kewajiban cicilan dan kebutuhan rumah tangga secara disiplin. Di sinilah peran digitalisasi terasa signifikan.

Untuk pembayaran angsuran, ia membuka rekening BTN dan mengaktifkan fitur autodebit agar cicilan terbayar otomatis setiap bulan. 

Namun yang paling sering ia gunakan adalah superapp Bale by BTN.

Melalui aplikasi tersebut, ia bisa memantau transaksi angsuran KPR sekaligus mengelola kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Selain cicilan rumah, saya juga pakai Bale untuk bayar PDAM dan beli pulsa listrik. Semua transaksi bisa dilakukan dari smartphone, cepat dan praktis,” jelasnya.

Bagi generasi yang tumbuh bersama smartphone, kemudahan ini bukan sekadar fitur tambahan. 

Digitalisasi membuat pengelolaan finansial terasa lebih transparan dan terkontrol. 

Ia bisa melihat histori pembayaran, memastikan cicilan terbayar tepat waktu, hingga melakukan transaksi lain tanpa harus datang ke kantor cabang.

Pengalaman Enrico sejalan dengan meningkatnya adopsi layanan digital di sektor perbankan. 

Hingga akhir 2025, pengguna Bale by BTN tercatat mencapai 3,7 juta orang, tumbuh signifikan dibanding tahun sebelumnya. 

Volume transaksinya pun mencapai miliaran transaksi dengan nilai ratusan triliun rupiah, menunjukkan semakin banyak nasabah yang beralih ke pengelolaan keuangan berbasis digital.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menilai kemudahan akses digital menjadi bagian penting dalam mendekatkan layanan perbankan kepada masyarakat, termasuk generasi muda.

“Dengan strategi Beyond Mortgage, BTN terus memantapkan diri menjadi consumer bank yang menyediakan solusi finansial terintegrasi sekaligus mendukung pembangunan perumahan nasional,” ujarnya.

Menurut Nixon, digitalisasi melalui Bale tidak hanya memudahkan pembayaran angsuran KPR, tetapi juga membantu nasabah mengelola berbagai kebutuhan finansial dalam satu aplikasi. 

Hal ini dinilai relevan dengan karakter generasi muda yang menginginkan layanan cepat, praktis, dan transparan.

Sebagai bank yang menguasai pangsa pasar KPR terbesar secara nasional, BTN terus memperkuat perannya dalam pembiayaan perumahan. 

Hingga akhir 2025, penyaluran kredit perumahan BTN mencapai ratusan triliun rupiah, dengan pertumbuhan positif baik pada segmen subsidi maupun non-subsidi.

Namun bagi Enrico, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia merasakan langsung dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang penting buat saya prosesnya jelas dan tidak ribet. Saya bisa punya rumah tanpa merasa terbebani,” katanya.

Ia juga menilai integrasi antara developer dan pihak bank membuat proses lebih terstruktur. 

Rekomendasi dari developer terhadap BTN memudahkannya dalam mengurus pengajuan KPR, terutama sebagai generasi muda yang baru pertama kali berurusan dengan pembiayaan properti.

Kini, beberapa waktu setelah menempati rumahnya, Enrico merasakan perubahan cara pandang terhadap keuangan.

Ia lebih disiplin mengatur pengeluaran dan lebih sadar pentingnya aset jangka panjang.

Memiliki rumah sendiri memberinya rasa tanggung jawab sekaligus kebanggaan. 

Ia tidak lagi hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan bulanan, tetapi juga untuk membangun masa depan.

“Punya rumah sendiri itu rasanya beda. Ada kepastian. Saya jadi lebih semangat kerja karena tahu ada yang sedang saya bangun,” ujarnya.

Ia menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kondisi finansial yang sama. 

Namun ia percaya, dengan perencanaan matang dan pemanfaatan fasilitas yang ada, generasi muda sebenarnya memiliki peluang yang sama untuk memiliki rumah.

Cerita Enrico menunjukkan bahwa tantangan generasi Z dalam memiliki rumah bukan tidak mungkin diatasi. 

Kuncinya ada pada keberanian memulai, kemampuan menghitung risiko, serta memanfaatkan kemudahan digital yang tersedia.

“Kalau dipikir-pikir, kalau terus menunda karena takut, mungkin sampai kapan pun tidak mulai. Padahal kalau dihitung, ternyata masih masuk akal,” katanya.

Baginya, rumah bukan sekadar simbol status. Rumah adalah bentuk kemandirian finansial dan langkah awal menuju stabilitas hidup. 

Dengan cicilan terjangkau dan dukungan layanan digital, ia membuktikan bahwa generasi Z pun bisa mengambil peran dalam kepemilikan hunian sejak dini.

“Saya harap teman-teman seumuran saya tidak ragu untuk mulai cari tahu. Punya rumah sendiri itu bukan cuma mimpi, tapi bisa jadi keputusan yang realistis,” tutup Enrico.

Kisah Enrico menjadi gambaran bagaimana transformasi layanan pembiayaan perumahan dan digitalisasi perbankan dapat menjawab kebutuhan generasi muda. 

Di tengah tantangan harga properti yang terus meningkat, akses KPR yang terstruktur dan dukungan superapp menjadi jembatan antara mimpi dan kenyataan.(Tribunnews.com/Alfin Wahyu Yulianto)

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas