Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Ramai-ramai Wujudkan Mimpi Tinggal di Rumah Sendiri

Kisah dua pasangan dari generasi milenial di Karanganyar berani ambil KPR demi rumah pertama. Dari cicilan UMR hingga mimpi yang akhirnya terwujud.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Sri Juliati
Editor: Bobby Wiratama
zoom-in Ramai-ramai Wujudkan Mimpi Tinggal di Rumah Sendiri
Istimewa/Nanda Lusiana
RUMAH SUBSIDI - Kawasan perumahan subsidi di wilayah Jeruksawit, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar. Inilah kisah dua pasangan dari generasi milenial di Karanganyar berani ambil KPR demi rumah pertama. Dari cicilan UMR hingga mimpi yang akhirnya terwujud. 

TRIBUNNEWS.COM - Pagi itu, aroma tanah basah sisa hujan deras semalam masih menempel di udara Perumahan Taman Harmoni Jeruksawit, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Meski langit belum sepenuhnya terang, kesibukan sudah tampak di salah satu rumah berkelir abu-abu.

Berdiri di depan kompor, Nanda Lusiana terlihat sibuk di dapur. Uap tipis mengepul dari wajan berisi tumisan sederhana untuk bekal makan siang keluarganya. Tangannya cekatan mengaduk, sesekali melirik panci nasi yang hampir matang.

Di meja kecil dekat jendela, dua kotak makan telah tersusun rapi. Ia membaginya dengan porsi pas untuk suami dan dirinya yang sama-sama akan bekerja seharian.

"Kebetulan minggu ini kami sama-sama masuk kerja shift pagi," kata Nanda yang merupakan seorang pekerja media, kepada Tribunnews.com, Senin (23/2/2026).

Sementara sang suami, Ryan Hidayat yang bekerja di bidang retail, juga tak kalah sibuk. Ia bersiap di ruang depan, memastikan perlengkapan kerja telah masuk ke dalam tas. 

Melihat sang istri kerepotan dengan persiapan pagi itu, ia membantu menutup kotak makan sebelum memasukkannya ke tas. Motor di teras sudah dipanaskan sejak beberapa menit lalu, suaranya berpadu dengan aktivitas warga lain yang juga bersiap berangkat kerja.

"Kalau sama-sama shift pagi begini memang harus lebih cepat," ujarnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Bagi pasangan yang menikah pada Juni 2024, rutinitas pagi yang padat bukanlah keluhan. Justru dari rumah sederhana seluas 60 meter persegi itulah, mereka merasa lebih tenang menjalani hari.

Setelah berbulan-bulan tinggal bersama orang tua Ryan di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, memiliki rumah sendiri menjadi pencapaian besar bagi Ryan dan Nanda yang dulu terasa jauh dari jangkauan.

"Sebelum menikah, kami memang sudah berkomitmen untuk cari rumah sendiri, hidup mandiri berdua," kata Ryan.

Rumah tipe sederhana itu memang tak luas, tetapi cukup menampung harapan mereka. Setiap sudut diisi dengan perabot yang masih layak pakai hingga tanaman kecil di teras yang dirawat saban pagi.

Di perumahan tersebut, kisah Nanda dan Ryan bukan satu-satunya. Banyak keluarga muda yang datang dengan latar belakang pekerjaan berbeda seperti buruh pabrik, karyawan swasta, pedagang, hingga pekerja informal, bersama-sama memulai babak baru kehidupan dari rumah-rumah tipe sederhana di kawasan tersebut.

Baca juga: Mudik Gratis BTN 2026 Sediakan Kuota 3.500 Orang, Cek Syarat dan Rute Perjalanannya

KPR Jadi Pilihan Realistis

Keputusan Ryan dan Nanda untuk memiliki tempat tinggal sendiri tak semata-mata soal gengsi. Ada pertimbangan jarak, waktu, dan energi yang setiap hari mereka rasakan.

Tinggal di rumah orang tua memang membuat mereka lebih hemat. Namun, perjalanan pulang-pergi yang panjang perlahan menguras tenaga.

Diketahui, Nanda bekerja di sebuah perusahaan media yang berlokasi di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar. Sementara Ryan bekerja di sebuah supermarket di Kecamatan Pabelan, Kabupaten Sukoharjo.

Saban hari mereka harus menempuh jarak sekitar 30 km dari rumah orang tua atau sekira satu jam untuk sampai ke tempat kerja masing-masing.

"Apalagi istriku ada kerja shift malam. Dari kantor jam 22.00 WIB, sampai rumah bisa lebih dari jam 23.00 WIB. Kasihan juga," ungkapnya.

Melihat kondisi sang istri yang kerap tiba di rumah dalam keadaan lelah, tekad Ryan untuk segera memiliki hunian sendiri semakin kuat. Bersama Nanda, ia mulai mencari informasi tentang rumah di daerah penyangga Kota Surakarta tersebut.

Namun, mewujudkan keinginan itu jelas bukan perkara sederhana. Sebab, baik di Sukoharjo maupun Karanganyar, harga hunian tak lagi seperti lima atau sepuluh tahun silam.

Kawasan yang dulu dianggap pinggiran kini perlahan dipadati perumahan baru. Harganya pun terus merangkak naik.

Hal ini tentu tidak sebanding dengan penghasilan mereka yang berada di kisaran Rp 2 jutaan per bulan, tak jauh dari upah minimum kabupaten. Itu pun masih harus dibagi kebutuhan sehari-hari. 

Meski sama-sama bekerja, keduanya tetap masuk dalam kategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Merujuk pada Peraturan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukinan Republik Indonesia No. 5 Tahun 2025, MBR adalah masyarakat dengan penghasilan maksimal Rp 8,5 juta bagi yang belum menikah dan Rp 10 juta bagi yang sudah menikah khusus di Zona 1 meliputi Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi (kecuali Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang).

Setelah melalui banyak diskusi dan pertimbangan, membeli rumah bersubsidi melalui skema kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi pilihan paling realistis bagi Ryan dan Nanda. 

"Saat mencari lokasi yang cocok, ketemulah dengan rumah yang sekarang kami tempati. Pertama kali lihat, saya sama istri langsung jatuh cinta karena desain bangunannya estetik, beda dari perumahan yang lain," tuturnya.

Bukan hanya soal desain, akses menuju tempat kerja juga menjadi pertimbangan utama. Dari rumah baru itu, mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit ke kantor masing-masing, memangkas hampir 40 menit perjalanan dibanding sebelumnya.

Keyakinan mereka semakin mantap ketika mengetahui bank penyalur KPR yang memfasilitasi adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Secara nasional, bank pelat merah tersebut memang menjadi penopang utama pembiayaan rumah subsidi.

Mereka pun segera melengkapi persyaratan untuk mengikuti program KPR BTN Sejahtera, yakni KPR bersubsidi dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang ditujukan bagi MBR. Dengan uang muka ringan mulai 1 persen, suku bunga tetap 5 persen, tenor hingga 20 tahun, serta bebas PPN dan premi asuransi tertentu, program ini terasa seperti jalan yang selama ini mereka cari.

"Saat itu, pihak bank sangat membantu kami mengurus persyaratan. Bahkan kami tetap dilayani meski jam operasional hampir tutup. Kami datang ke kantor sekitar pukul 16.30 WIB," kenang Ryan.

Setelah melalui sejumlah tahapan, pengajuan KPR mereka disetujui. Mulai Oktober 2024, Ryan dan Nanda resmi menjadi pemilik rumah sederhana yang mereka perjuangkan bersama.

"Cicilan saya per bulan Rp 1.070.000 dengan tenor 20 tahun. Masih terjangkau bagi pekerja seperti kami dengan gaji UMR," tandasnya.

Bagi keduanya, angka itu bukan sekadar nominal cicilan. Itu adalah komitmen jangka panjang sekaligus pengingat, keberanian mengambil keputusan bisa membuka pintu pada kehidupan yang lebih tenang dan terarah.

Berhasil Wujudkan Mimpi

lihat fotoPERUMAHAN SUBSIDI - Suasana Perumahan Taman Harmoni Jeruksawit, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar saat malam hari, Selasa (24/2/2026).
PERUMAHAN SUBSIDI - Suasana Perumahan Taman Harmoni Jeruksawit, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar saat malam hari, Selasa (24/2/2026).

Tak jauh dari rumah Ryan dan Nanda, di deretan yang sama di Perumahan Taman Harmoni Jeruksawit, cerita serupa juga datang dari pasangan Abelian Jordi Wicaksono dan Lanny Latifah.

Sebagai pasangan muda sekaligus perantau, Abel dan Lanny pun menapaki jalan yang tak jauh berbeda: berjuang memiliki rumah pertama di kota tempat mereka menggantungkan harapan.

Lanny berasal dari Pati, sedangkan Abel dari Sragen. Kabupaten Karanganyar menjadi tempat mereka bekerja sekaligus menetap setelah menikah pada September 2022. 

Sebelum memiliki rumah sendiri, mereka sempat berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, menyesuaikan dengan kemampuan dan jarak ke tempat kerja.

Sebagai perantau, keinginan untuk memiliki hunian tetap terasa semakin kuat. Mereka ingin memiliki tempat pulang yang benar-benar bisa disebut milik sendiri, tanpa rasa sungkan atau khawatir masa sewa habis.

Namun seperti banyak pasangan muda lain, keinginan memiliki rumah sendiri tak serta-merta mudah diwujudkan. Dengan penghasilan yang berada di kisaran UMK Karanganyar, membeli rumah secara tunai jelas bukan pilihan realistis.

"Akhirnya, kami mengambil keputusan besar. Dengan kondisi finansial saat ini yang belum memungkinkan untuk cash, kami membeli rumah dengan cara KPR," kata Abel yang kini bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Pada November 2023, mereka mulai aktif mencari informasi perumahan. Targetnya jelas: rumah subsidi yang harganya lebih terjangkau agar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Pencarian itu berujung pada sebuah perumahan yang ditempati.

Keyakinan semakin mantap ketika mengetahui bank penyalur KPR yang memfasilitasi adalah BTN. "Selama ini yang kami tahu, BTN menjadi salah satu bank resmi penyalur pinjaman KPR subsidi. Jadi mindset-nya, kalau mau beli rumah secara KPR, ingatnya BTN," ujar Abel.

Tak hanya itu, suku bunga tetap 5 persen sepanjang tenor menjadi pertimbangan utama. Mereka memilih tenor 20 tahun dengan harapan cicilan terasa lebih ringan dan stabil.

Menurut Abel, proses pengajuan hingga akad kredit pun berlangsung cepat dan tidak berbelit-belit. Dalam waktu sekitar satu bulan, seluruh tahapan rampung.

Impian itu akhirnya terwujud pada Desember 2023. Dari sisa tabungan pernikahan, mereka membayar uang muka (down payment). Menjelang akhir tahun, akad KPR BTN subsidi resmi digelar dan mereka resmi tinggal di rumah sendiri.

Solusi Terbaik

Ida Puspitarini W
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto
Ida Puspitarini W, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto (ISTIMEWA/TRIBUNNEWS.COM)

Kisah Ryan dan Nanda serta Abel dan Lanny mencerminkan realitas yang banyak dialami pasangan muda: keberanian mengambil KPR demi memiliki rumah pertama lebih cepat, alih-alih menunggu hingga mampu membeli secara tunai.

Menanggapi fenomena tersebut, perencana keuangan, Ida Puspitarini W mengatakan, KPR memang menjadi langkah tepat sekaligus solusi realistis bagi generasi milenial. Menurutnya, kenaikan harga rumah dan tanah terjadi setiap tahun dan sulit dikendalikan, sehingga menunda pembelian justru berisiko membuat harga semakin tidak terjangkau.

"KPR itu merupakan solusi terbaik supaya segera mendapatkan rumah, karena peningkatan harga tanah memang tidak bisa kita tahan lagi. Setiap tahun bisa naik sekitar 10 persen. Kalau nggak pakai bantuan KPR, mau sampai kapan dapat rumahnya?" kata Ida, beberapa waktu lalu.

Ia menekankan, keputusan membeli rumah tetap harus direncanakan dengan matang menggunakan konsep SMART: spesifik (jelas rumah di mana dan tipe apa), measurable (harga terukur), achievable (sesuai kemampuan penghasilan), realistic (masuk akal), dan timely (memiliki target waktu yang jelas).

Secara sederhana, lanjut Ida, harga rumah idealnya tidak lebih dari lima kali penghasilan setahun. Misalnya, dengan gaji Rp5 juta per bulan atau Rp60 juta per tahun, maka harga rumah yang disarankan sekitar Rp300 juta agar tidak memberatkan kondisi keuangan.

Dalam persiapan KPR, ada beberapa komponen yang perlu diperhitungkan. Pertama, uang muka (DP) yang umumnya berkisar 20–30 persen. Kedua, biaya tambahan seperti administrasi, provisi, asuransi, notaris, hingga biaya pengikatan. Ketiga, memastikan angsuran bulanan tidak melebihi 30–35 persen dari penghasilan agar rasio utang tetap sehat.

Dalam memilih bank penyalur KPR, ia juga mengingatkan agar tidak hanya tergiur DP kecil. Fasilitas seperti pelunasan sebagian (partial prepayment), apalagi tanpa penalti, justru lebih penting karena memberi fleksibilitas ketika kondisi keuangan membaik.

Soal tenor 20 hingga 35 tahun, menurutnya, hal itu sah saja jika memang menjadi jalan untuk memiliki rumah pertama. Namun tetap disarankan memiliki komitmen melunasi lebih cepat ketika penghasilan meningkat agar beban utang tidak terlalu panjang.

"Intinya, KPR bisa menjadi jalan realistis bagi milenial untuk memiliki rumah, asalkan direncanakan matang, disiplin, dan rasio cicilannya tetap sehat," ujar Ida yang juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto.

Pandangan tersebut sejalan dengan apa yang terjadi di lapangan. Minat pasangan muda terhadap rumah subsidi terus tumbuh, terutama di daerah penyangga kota-kota besar seperti Solo Raya. Skema KPR bersubsidi menjadi pintu masuk yang paling masuk akal bagi mereka yang ingin segera memiliki hunian tanpa harus menunggu tabungan terkumpul penuh.

Konsisten Layani Segmen MBR

JAGA KINERJA - Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, BTN berhasil menjaga pertumbuhan kinerja yang konsisten hingga menjelang akhir tahun 2025 seiring dengan penerapan strategi penyaluran kredit yang lebih terarah dan terstruktur, serta upaya peningkatan dana murah di tengah tren penurunan biaya dana (cost of fund).
JAGA KINERJA - Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, BTN berhasil menjaga pertumbuhan kinerja yang konsisten hingga menjelang akhir tahun 2025 seiring dengan penerapan strategi penyaluran kredit yang lebih terarah dan terstruktur, serta upaya peningkatan dana murah di tengah tren penurunan biaya dana (cost of fund). (Tribunnews.com/HO)

Sejalan dengan tingginya kebutuhan tersebut, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) kembali menegaskan posisinya sebagai bank utama pembiayaan rumah rakyat. 

Hingga 30 September 2025, BTN telah menyalurkan 142.749 unit KPR Sejahtera FLPP. Realisasi tersebut mencapai 64,89 persen dari target penyerapan kuota BTN sebesar 220.000 unit dan setara dengan 40,7 persen dari total kuota nasional 350.000 unit.

Dari total tersebut, sebanyak 99.441 unit disalurkan melalui BTN konvensional dan 43.308 unit melalui unit usaha syariah, dengan nilai pembiayaan mencapai Rp17,66 triliun dari total kuota Rp26,40 triliun.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu mengatakan, pencapaian ini mencerminkan mandat besar yang diemban BTN dalam membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) memiliki rumah layak huni.

Berdasarkan kajian BTN Housing Finance Center, kepemilikan rumah subsidi terbukti meningkatkan kualitas hidup, rasa bangga, serta kemampuan masyarakat dalam menata keuangan keluarga. Menariknya, 88,43 persen penerima KPR Subsidi BTN merupakan generasi milenial berusia 29–44 tahun, menunjukkan kuatnya kebutuhan dukungan pembiayaan bagi kelompok usia produktif.

Sebagai bank yang konsisten melayani segmen MBR selama lebih dari satu dekade, BTN juga memperluas akses pembiayaan bagi pekerja sektor informal, termasuk pedagang kecil, pekerja harian, hingga mitra pengemudi aplikasi.

Melalui kolaborasi dan inovasi skema pembayaran, BTN memastikan semakin banyak keluarga Indonesia dapat memperoleh hunian yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kepemilikan rumah. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas