Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun
LIVE ●
tag populer

Kesalehan Sosial

KEGIATAN ibadah dalam Islam, sebagaimana juga dalam agama lain, selalu mengandung dua dimensi: esoteris dan eksoteris.

Menarik direnungkan, ajaran agama dibangun oleh para Rasul Tuhan yang hidup ribuan tahun yang lalu, sebelum jumlah manusia sebanyak hari ini dan perkembangan ilmu pengetahuan belum semaju sekarang.

Secara hermeneutic, kita bisa menyimpulkan bahwa sebelum manusia dengan kekuatan jiwa nabati, hewani dan insani menggubah dunia dan membangun peradaban, Tuhan lebih dahulu mengirim para Rasul-Nya untuk meletakkan fondasi moral-spiritual  berupa ajaran agama yang bersifat abadi untuk membimbing dan mendampingi perjalanan hidup manusia.

Pesan dasar agama yang berkaitan dengan moral-spiritual sejak dahulu sampai sekarang  sifatnya simple, universal, tidak berubah. Kalau saja prinsip ini dijaga bersama maka hubungan antar manusia dan antar pemeluk agama berjalan lebih baik. Konflik sosial muncul seringkali disebabkan oleh perselisihan dalam menafsirkan dan melaksanakan prinsip keadilan ekonomi dan politik. Dan  ketika politik meninggalkan pesan moral-spiritual, maka peradaban manusia akan terjatuh pada kehidupan level hewani, homo-homini-lopus.

Jika kita konstruksikan perkembangan dan piramida peradaban manusia, maka secara historis akan terlihat bahwa fondasi awal yang dibangun oleh para nabi adalah landasan moral-spiritual. Fondasi ini dianggap telah selesai, sebagaimana telah berakhirnya kenabian. Tuhan telah mempercayakan pada evolusi kematangan dan otonomi manusia untuk membangun peradaban di muka bumi berlandaskan warisan luhur para nabi, namun tanpa intervensi mereka.

Sebagai master piece dan mandataris Tuhan, manusia diberi akal yang sangat hebat, namun dengan kehebatannya itu muncul dua kemungkinan. Pertama, manusia bisa merasa sangat otonom dan tidak lagi butuh Tuhan dan tidak memberi ruang pada agama karena sudah cukup dengan kekuatan nalarnya untuk mengatur dan menyelesaikan semua persoalan hidupnya.

Kedua, dengan nalarnya yang hebat dan dipandu oleh kesadaran spiritualnya itu maka manusia akan beriman, mengagumi kebesaran Tuhan dan mensyukuri  segala anugerahnya yang melimpah. Semoga kita semua termasuk golongan yang kedua ini. (*)

Rekomendasi Untuk Anda
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas