Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Saksikan Festival Tradisi Lampu Colok di Karimun

Tradisi budaya berupa pemasangan ratusan lampu colok di tempat-tempat keramaian saat menyambut Idul Fitri, menjadi ciri khusus kota Karimun.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Laporan Muhammad Sarih Wartawan Tribunnewsbatam.com

TRIBUNNEWS.COM, KARIMUN - Tradisi budaya berupa pemasangan ratusan lampu colok di tempat-tempat keramaian saat menyambut Idul Fitri, menjadi ciri khusus kota Karimun. Hampir di setiap jalan masuk pemukiman warga selalu didapati pemasangan lampu colok untuk memeriahkan datangnya hari kemenangan ini.

Guna melestarikan tradisi ini, Dinas Pariwisata Seni Budaya (Dinparsebud) Karimun menggelar  Festival Lampu Colok Idul Fitri 1432 Hijriah. Tahun ini panitia telah menyiapkan hadiah berupa uang tunai mencapai total Rp 36 Juta.

Hadiah ini akan diperuntukan bagi lima penampilan terbaik pesertanya. Untuk pemenang pertama disediakan hadiah sebesar Rp 10 juta, seterusnya dari pemenang II sampai harapan III masing-masing mendapat, Rp 8 juta, Rp 6 juta, Rp 5 juta, Rp 4 juta rupiah dan Rp 3 Juta.

"Totalnya mencapai 36 jutaan rupiah, dan belum termasuk pajak. Hadiah ini dibagi dalam enam pemenang yang dekorasi lampu coloknya dan penampilannya menarik dan indah dilihat," ujar Kepala Dinparsebud Karimun, Syuryaminsyah atau kerap disapa Wak Min kepada Tribun, kemarin.

Untuk tahun ini, festival lampu colok masih sebatas diselenggarakan di tiga kecamatan di Kabupaten Karimun, (Kecamatan Karimun, Meral dan Tebing). Keterbatasan anggaran berupa tim penilai yang harus mencapai pulau-pulau lain seperti Buru, Kundur, Moro dan Durai, maka tahun ini belum bisa diperluas penyelenggaraannya.

"Tahun ini di tiga kecamatan dulu, sebab untuk melakukan penilaian ke pulau-pulau masih terbatas anggaran. Tahun depan kita akan upayakan meluas sampai ke pulau-pulau. Walau tidak diperlombakan, masyarakat pulau kita lihat selalu melaksanakannya setiap tahunnya. Kita juga mengimbau agar tradisi ini terus dilaksanakan," ungkapnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Lampu colok merupakan salah satu tradisi masyarakat Melayu dalam rangka menyambut raye (sebutan orang Melayu untuk padanan kata hari raya Idul Fitri). Hampir di setiap warga kampung sejak dahulu kala memasang lampu colok yang dibuat dari bahan bakar minyak tanah dengan aneka ragam bentuknya.

Saat inipun lampu colok masih banyak yang dibuat dari batang bambu, walau sebenarnya masyarakat sudah banyak yang menggunakan kaleng-kaleng bekas seperti kaleng susu dan kaleng sejenisnya. Kaleng-kaleng ini kemudian diisi minyak tanah sebagai bahan bakarnya.

Menyalakan lampu colok seiring perkembangannya, semakin menarik dilakukan sejumlah warga. Tak hanya dipasang di pinggir-pinggir jalan menuju pemukiman, lampu colok juga sudah merambah pada bentuk gapura di depan pintu masuk sebuah pemukiman.

Sinar lampu yang dihasilkan dari lampu colok ini akan menghasilkan keindahan-keindahan hiasan bertemakan Islami. Seperti misalnya deretan sinar lampu yang dipasang di gapura bercahaya redup dan agak gelap akan membentuk gambar mesjid, ucapan selamat Idul Fitri dan aneka bentuk gambar lainya yang menarik hati.

Kendati masih sekitar dua minggu lagi, festival lampu colok ini diberi penilaian, namun jauh-jauh sejumlah masyarakat sudah mulai berpartisipasi  mempersiapkannya. Dan panitia juga jauh-jauh hari diimbau untuk mendaftarkan hasil karya lampu coloknya tersebut.

"Memang jauh-jauh hari kita umumkan agar masyarakat yang ingin berpartisipasi bisa lebih siap. Sebab mempersiapkan sebuah penampilan lampu colok yang bagus dan unik dibutuhkan imajinasi seni yang kuat dan persiapan pengelolaan tata lampu yang matang," jelas Wak Min.

Sumber: Tribun Batam
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas