Tribun Ramadan
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Ramadan 2017

Etika Bertetangga

Sudah terlalu sering kita mendengar cerita seputar tengkar antartetangga. Satu di antara tanda keimanan seseorang menghargai dan mencintai tetangga.

Etika Bertetangga
Kompas.com/Banar Fil Ardhi
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat. 

Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat, Guru Besar UIN Syarif Hidyatullah

TRIBUNJATENG.COM - Sudah terlalu sering kita mendengar cerita seputar tengkar antartetangga. Minimal sekali gosip yang bernada nyinyir. Padahal, menurut Rasulullah satu di antara tanda keimanan seseorang adalah menghargai dan mencintai tetangga.

Nasihat klasik juga mengatakan, tetangga yang baik itu jauh lebih berharga dari saudara kandung yang tinggal berjauhan. Pasalnya, jika terjadi musibah tetangga lah yang paling siap, dekat, dan cepat mengulurkan pertolongan.

Terutama mereka yang tinggal di kompleks perumahan, berbagai cerita persaingan dan perseteruan antartetangga ini begitu populer. Sampai-sampai dijadikan bahan cerita sinetron atau ceramah. Misalnya saja, seorang istri sering menceritakan, mengapa suaminya dan tetangga yang sama-sama pegawai negeri sipil - pangkat atau golongan sama - tetapi gaya hidupnya kok beda. Bangunan rumah dan mobilnya lebih bagus.

Begitupun yang suaminya militer atau polisi berpangkat sama, bahkan lebih rendah, mengapa gaya hidupnya lebih mewah. Hal-hal demikian seringkali menjadi bahan cerita bernada nyinyir, kecemburuan, bahkan bisa mengarah pada fitnah. Dari mana lagi kalau bukan korupsi, katanya.

Gosip lain juga menyasar pada teman kuliah yang setelah tamat aktif terjun di dunia politik, misalnya jadi anggota DPR. Mereka yang senang bergosip menceritakan bagaimana sengsaranya ketika sama-sama jadi mahasiswa.

Sama-sama miskinnya, bareng-bareng naik-turun bus kota, bareng keluar masuk warteg (warung tegal) yang dikenal murah, harganya cocok bagi mahasiswa miskin. Tetapi, katanya, setelah lama tak berjumpa dan sekarang jadi anggota DPR, kekayaannya tak terduga. Itu dilihat dari rumahnya, jumlah dan juga merek mobilnya, serta gaya hidupnya.

Karena enggan campur dengan tetangga, untuk menjaga privasi, banyak orang kaya yang kemudian membangun rumah dikelilingi tembok tinggi. Mereka saling tidak kenal, dan tidak tertarik untuk kenal dengan tetangganya.

Secara sosiologis, pribadi demikian ini bagaikan pulau-pulau kecil terpisah dari yang lain akibat persaingan hidup di kota besar membuat lelah. Rumah diposisikan sebagai tempat istirahat dan untuk menjaga privasi.

Proses individualisasi ini juga didorong oleh tata kota, karena pembangunan jalan-jalan dan pagar itu telah menciptakan pulau-pulau terpisah dari tetangganya. Ketika di rumah, bangunan yang besar itu terdiri dari kamar-kamar laksana gua, masing-masing penghuni memiliki hobi dan agenda harian berbeda-beda. Tak pelak ada keluarga yang jarang bisa berkumpul.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Y Gustaman
  Loading comments...

Berita Terkait :#Ramadan 2017

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas