Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ramadan di Kota Belgorod Tak Seenak Takjil Indonesia

Teguh Imanullah (21) merupakan mahasiswa di Belgorod State National Research University Russia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Ramadan di Kota Belgorod Tak Seenak Takjil Indonesia
ISTIMEWA
Teguh Imanullah (21) mahasiswa State National Research University Russia 

TRIBUNNEWS.COM, BELGOROD-Teguh Imanullah (21) merupakan mahasiswa di Belgorod State National Research University Russia. Ia berbagi kisah selama ramadhan di sana. Teguh harus menjalani perkuliahan melalui dunia maya selama pandemi corona atau covid-19.

Di sana, sama seperti di Indonesia, menerapkan untuk menjaga jarak dan kegiatan perkuliahan untuk sementara harus melalui online. Hari-hari Teguh diisi dengan kegiatan seperti mengerjakan tugas dan diskusi secara online.

Baca: Temani Ferdian Paleka Ngeprank Waria, Tubagus Fahddinar Jadi Tersangka, Pelaku Utamanya Masih Buron

Kadang untuk menjaga silaturahmi dengan teman sebaya, mereka menggunakan sosial media untuk berkomunikasi. "Untuk menjaga silaturahmi dengan teman-teman di Indonesia, kita biasanya teleponan atau video call," kata Teguh kepada Tribun Network.

Empat tahun sudah Teguh tinggal di Rusia. Ia rindu dengan negaranya tercinta, Indonesia. Pria asal Jambi ini sangat ingin berbuka puasa bersama keluarga. Dan mencicipi masakan ibunda.

"Makanan takjil tidak seenak dan selezat makanan Indonesia, kita punya cendol, saya sangat rindu makanan rumahan buatan ibu, itu yang saya rindukan," tutur Teguh.

Baca: Dampak Corona, United Airlines Berniat Memangkas 3.400 Karyawan

Berbeda dengan Indonesia, kata Teguh, di Belgorod tak ada orang-orang yang keliling membangunkan saat sahur. "Jadi pakai alarm-alarm sendiri," ucapnya.

Sehingga suasananya sungguh jauh berbeda. Tak seramai di Indonesia. Teguh mengenang saat-saat mencari takjil jelang berbuka puasa. Suara adzan atau beduk yang nyaring terdengar saat maghrib."Karena di sini masjidnya jauh. Dan suara adzan di dalam masjidnya saja, tidak ke luar masjid itu yang paling dirindukan," kata Teguh.

Rekomendasi Untuk Anda

Beri Tumpangan Sampai ke Masjid
Teguh bercerita meski tak saling mengenal, umat muslim di Belgorod suka saling membantu. Jarak antara asrama dengan masjid, kata Teguh, cukup jauh. Terkadang jika bertemu seorang muslim di jalan, meski tak kenal mereka akan memberikan tumpangan naik mobil.

"Ada teman-teman muslim lain yang sudah punya mobil, kita naik mobil mereka, pas baliknya karena sudah malam kita pulang jam 23.00 ya akhirnya diantar sama teman kita ini," imbuh Teguh.

Teguh pun merasakan indahnya berbagi antar sesama muslim di sana. Terutama di masjid, yang biasanya disediakan makanan berbuka gratis."Kita di sini dikasih makanan gratis, buka gratis 30 hari di masjid," ujar Teguh.

Baca: Penjelasan Mengapa Sandiaga Uno Bagikan Sembako Bersama Relawan Jokowi di Bantargebang

"Dan yang paling unik dan berkesan kekompakan, kesolidan, teman-teman muslim di Belgorod," sambungnya.

Teguh bercerita di Belgorod hanya ada satu masjid. Karena muslim di sana bagian dari kelompok minoritas. "Yang tidak terlalu besar tapi solid luar biasa, kita sharing, cerita," ucap Teguh.

Masjid menjadi tempat ngumpul dan berbagi cerita. Di sana juga mereka mengaji bersama. Meski berasal dari berbeda negara, suasana guyub pun terasa. "Jadi momen bertukar cerita dan momen pertukar pandangan dan kebudayaan," tutur Teguh.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas