Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

KH Cholil Nafis Ungkap Awal Mula Dipanggil Kiai di Layar Televisi

Menurutnya, sebutan tersebut muncul bukan karena direncanakan sejak awal, melainkan dari perjalanan hidup yang ia sebut sebagai “kecelakaan”

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Chaerul Umam
Ringkasan Berita:
  • KH Muhammad Cholil Nafis, mengungkap kisah awal dirinya dipanggil “kiai” oleh publik
  • Menurutnya, sebutan tersebut muncul bukan karena direncanakan sejak awal, melainkan dari perjalanan hidup yang ia sebut sebagai “kecelakaan”
  • Saat menempuh pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, ia sempat meminta orang tuanya agar dipindahkan ke sekolah dasar negeri agar bisa melanjutkan ke SMP umum

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis, mengungkap kisah awal dirinya dipanggil “kiai” oleh publik. 

Menurutnya, sebutan tersebut muncul bukan karena direncanakan sejak awal, melainkan dari perjalanan hidup yang ia sebut sebagai “kecelakaan”.

Baca juga: Cholil Nafis: Presiden Prabowo Siap Keluar BoP Jika Tak Bela Palestina

Hal itu diungkapkannya saat wawancara khusus dengan Tribun Network, dalam program 'Cerita Kiai', di Jakarta, Senin (16/2/2026).

Cholil mengungkapkan, sejak kecil ia sebenarnya tidak bercita-cita menjadi ulama.

Baca juga: Sosok Ketua MUI Cholil Nafis, Rekening Yayasannya Diblokir, PPATK: Bukan Kami, tapi Bank

Bahkan sebenarnya Kiai Cholil ingin menekuni bidang desain dan bersekolah di jalur pendidikan umum.

“Jadi dulu masih kecil itu, saya punya keinginan menjadi orang yang menekuni desain. Jadi ketika saudara-saudara mondok, saya itu minta sekolah umum,” ungkapnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Saat menempuh pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, ia sempat meminta orang tuanya agar dipindahkan ke sekolah dasar negeri agar bisa melanjutkan ke SMP umum. 

Namun kondisi ekonomi keluarga saat itu tidak memungkinkan.

“Saya itu sekolahnya di ibtidaiyah, saya minta pindah ke SD negeri supaya bisa masuk SMP. Tapi ketika itu orang tua sakit, tidak bisa membiayai saya. Akhirnya sekolahnya ke pesantren, lebih murah,” ucapnya.

Ia pun menyebut peristiwa itu sebagai titik balik yang tak direncanakan. “Jadi kecelakaan di pesantren itu,” ucapnya.

Memasuki masa kuliah di Jakarta, Cholil aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Saat itu, ia bercita-cita menjadi aktivis dan intelektual.

“Saya inginnya itu menjadi aktivis, menjadi intelektual. Menurut saya itu yang hebat kalau dia ngisi seminar, kalau jadi dosen. Jadi berpikirnya itu lebih pada yang umum,” katanya.

Namun lagi-lagi, ia menyebut ada “kecelakaan” yang mengubah arah hidupnya. 

Dia bertemu dengan almarhum Mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi dan diminta mendampingi ceramah di salah satu stasiun televisi swasta.

“Satu saat saya ketemu dengan Ki Hasyim Muzadi, diminta menemani beliau ngisi ceramah di TV. Nah kebiasaan, itulah saya dipanggil kiai,” ungkapnya.

Baca juga: Sosok Ketua MUI Cholil Nafis, Rekening Yayasannya Diblokir, PPATK: Bukan Kami, tapi Bank

Sebelum itu, Cholil memang kerap tampil di televisi sebagai narasumber. Namun, ia hadir dalam kapasitas akademisi atau ilmuwan yang membahas isu-isu keislaman dan sosial.

“Saya itu ngisi di beberapa stasiun TV memang ngisi, tetapi sebagai ilmuwan. Ada beberapa instansi itu berkenaan dengan keislaman, kesehatan, keluarga berencana, dan seterusnya. Tapi posisi sebagai agamawan, bukan kiai,” ujarnya.

Setelah mendampingi Hasyim Muzadi dalam ceramah di televisi, undangan ceramah datang silih berganti. 

Sejak saat itu pula, publik mulai menyematkan panggilan “kiai” kepada dirinya.

“Tapi diajak Ki Hasyim Muzadi untuk ceramah di salah satu TV. Akhirnya saya diundang ceramah di TV itu. Saya akhirnya dipanggil kiai,” katanya.

Bagi KH Cholil Nafis, perjalanan tersebut menjadi pelajaran bahwa jalan hidup sering kali tidak berjalan sesuai rencana. 
 

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas