Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Green Ramadan: Kesalehan Spiritual dan Etika Ekologis

Green Ramadan ajak umat Islam ubah kesalehan jadi etika ekologis: kurangi sampah, hemat air, dan cegah pemborosan.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Green Ramadan: Kesalehan Spiritual dan Etika Ekologis
Tribunnews.com
Dr. Samsul Hidayat, MA (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Pontianak) 
kolumnis ramadan
KOLUMNIS RAMADAN
Dr. Samsul Hidayat, MA
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Pontianak

SEJAK Januari hingga Maret tahun ini, saya mengikuti rangkaian konferensi dan loka karya internasional Preparing Religious Environmental Plans (PREP), sebuah program yang diinisiasi oleh Loka Initiative bekerjasama dengan University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat.

Forum ini mempertemukan akademisi, aktivis lingkungan, dan pemimpin komunitas lintas dari berbagai negara.

Bagi saya, rangkaian pertemuan tersebut bukan sekadar ruang diskusi akademik. Ia menjadi ruang refleksi.

Banyak isu global dibicarakan—keadilanenergi, krisis air, pengelolaan sampah, ketahanan pangan, hingga pera rumah ibadah dalam membangun budaya keberlanjutan. Namun, satu tema terasa sangat dekat dengan realitas keseharian umat Islam Indonesia: Green Ramadan.

Gagasan ini menempatkan Ramadan bukan hanya sebagai bulan peningkatan ibadah personal, tetapi juga sebagai momentum pembentukan etika ekologis bersama. Sebuah pergeseran makna yang, menurut saya, semakin mendesak.

Ramadan dan Paradoks Konsumsi

Ramadan dikenal sebagai bulan pengendalian diri. Umat Islam menahan lapar, dahaga, dan dorongan konsumtif sejak fajar hingga matahari terbenam. Secara ideal, puasa membentuk manusia yang lebih sederhana.

Namun dalam praktik sosial, saya sering menyaksikan fenomena yang berbeda. Ramadan justru menjadi periode lonjakan konsumsi.

Rekomendasi Untuk Anda

Pasar takjil ramai. Buka puasa bersama berlangsung hampir setiap malam. Di sekitar masjid dan ruang publik, tumpukan botol plastik, gelas minuman sekali pakai, kantong kresek, dan sisa makanan menjadi pemandangan yang akrab.

Paradoks ini perlu dibaca secara jujur. Di satu sisi, Ramadan mengajarkan kesederhanaan dan empati terhadap mereka yang kekurangan. Di sisi lain, praktik sosial yang berkembang kadang justru memperlihatkan pola konsumsi berlebih.

Di sinilah Green Ramadan menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar kampanye lingkungan musiman, melainkan upaya menafsirkan kembali makna puasa dalam konteks krisis ekologis global.

Dari Kesalehan Individual ke Kesalehan Ekologis

Dalam tradisi Islam, tujuan utama puasa adalah pembentukan takwa—kesadaranakan kehadiran Tuhan dalam seluruh dimensi kehidupan. Jika kesadaran ini sungguh-sungguh diinternalisasi, maka relasi manusia dengan bumi seharusnya menjadi bagian integral dari praktik keimanan.

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar manusia tidak berbuat israf (berlebihan) (QS. Al-A‘rāf: 31) dan tidak menimbulkan fasad (kerusakan) di bumi (QS. Al-Baqarah: 60). Pesan ini tidak bersifat simbolik. Ia berkaitan langsung dengan cara manusia memproduksi, mengonsumsi, dan membuang.

Green Ramadan mengajak memperluas makna kesalehan. Kesalehan tidak berhenti pada ritual personal, tetapi menjelma dalam tanggung jawab sosial dan ekologis.

1) Mengurangi sampah adalah ibadah.

2) Menghemat air adalah ibadah.

3) Menghindari pemborosan adalah ibadah.

Kalimat-kalimat sederhana ini penting untuk terus diulang di ruang-ruang keagamaan.

Takjil dan Etika Konsumsi Baru

Takjil merupakan simbol khas Ramadan di Indonesia. Ia merepresentasikan keramahan, kebersamaan, dan kegembiraan berbagi.

Namun, ekosistem takjil juga menjadi salah satupenyumbangutamasampahplastikselama Ramadan. Setiap sore, ribuankemasanplastikdigunakanhanyauntukbeberapamenitkonsumsi.

Dalam diskusi PREP, pendekatan yang dianggap realistis adalah memulai dari skala kecil.

Misalnya, tiga hingga lima pedagang takjil atau tiga hingga lima masjid sebagai proyek percontohan selama dua minggu pertama Ramadan.

Indikator keberhasilan dibuat sederhana:

  • berapa banyak plastik yang berkurang,
  • berapa botol yang tidak lagi digunakan,
  • dan bagaimana respons masyarakat.

Pendekatan berbasis data ini penting. Ia menunjukkan bahwa perubahan bukan sekadar wacana moral, tetapi sesuatu yang bisa diukur.

Masjid sebagai Pusat Transformasi

Masjid memiliki posisi strategis dalam membentuk budaya. Ia bukan hanya tempat salat, tetapi juga ruang pendidikan dan interaksi sosial.

Dalam kerangka Green Ramadan, masjid dapat menjadi laboratorium keberlanjutan. Langkahnya tidak harus rumit.

1) Menyediakan tempat sampah terpilah.

2) Memasang stasiun isi ulang air minum.

3) Mendorong jamaah membawa botol sendiri.

4) Mengelola sisa makanan menjadi kompos.

Saya pernah berdialog dengan beberapa pengelola masjid di Pontianak. Sebagian besar sebenarnya setuju dengan gagasan ini. Tantangannya bukan pada penolakan, tetapi pada kebiasaan lama yang sudah mengakar.Karena itu, perubahan harus dilakukan secara bertahap.

Pendidikan Berbasis Iman

Aspek terpenting Green Ramadan bukanlah teknologinya, melainkan narasinya. Perubahan perilaku akan lebih bertahan lama jika dibangun di atas makna. Khutbah, pengajian, dan kelas pendidikan dapat mengintegrasikan pesan-pesan tentang amanah menjaga bumi.

1) Mengurangi sampah sebagai wujud syukur.

2) Menghemat air sebagai bagian dari adab berwudu.

3) Menghindari pemborosan sebagai implementasi larangan israf.

Dengan pendekatan ini, isu lingkungan tidak terasa asing. Ia hadir sebagai bagian dari spiritualitas Islam itu sendiri.

Tantangan Implementasi

Tentu, implementasi Green Ramadan di Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Infrastruktur daur ulang masih terbatas. Kemasan ramah lingkungan sering dianggap lebih mahal. Perubahan kebiasaan membutuhkan waktu.

Namun, pengalaman banyak komunitas menunjukkan bahwa perubahan budaya bisa terjadi jika didorong secara konsisten dan kolektif.

Indonesia memiliki modal sosial yang besar. Jaringan masjid luas. Tradisi gotong royong kuat. Ini adalah aset.

Menuju Tradisi Baru Ramadan

Pada akhirnya, Green Ramadan mengajak kita membayangkan ulang wajah Ramadan di masa depan.

1) Iftar tanpa tumpukan plastik.

2) Masjid sebagai pusat edukasi lingkungan.

3) Anak-anak yang tumbuh dengan kesadaran bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah.

Transformasi ini tidak terjadi dalam semalam. Ia membutuhkan komitmen, keteladanan, dan keberanian untuk memulai.

Ramadan selalu disebut sebagai bulan perubahan. Pertanyaan Sederhana: perubahan apa yang ingin kita wariskan?

Green Ramadan menawarkan satu arah yang jelas—mengintegrasikan kesalehan spiritual dengan etika ekologis. Dari sinilah puasa menemukan makna terdalamnya: membentuk manusia yang taat kepada Tuhan sekaligus adil terhadap bumi dan generasi mendatang.Wallāhua‘lam.

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas