Ibadah Puasa di Akhir Zaman, Ujian Iman Umat Muslim
Puasa akhir zaman bukan sekadar menahan lapar, tapi perisai iman menghadapi fitnah, sekularisme, dan godaan dunia.
Editor:
Glery Lazuardi

IBADAH puasa satu bulan penuh di bulan Ramadan, bukanlah hal yang baru bagi umat Islam terkhusus Orang-orang yang beriman, karena kewajiban itu sudah mulai ditunaikan sejak usia dini, namun seiring waktu tantangannya semakin berat di akhir zaman ini. Hal ini sudah diingatkan Rasullullah dalam hadist
"Segeralah beramal sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita, seseorang di pagi hari beriman, di sore hari kafir…” (HR. Muslim).
Tantangan utama akhir zaman bagi orang beriman adalah fitnah (ujian) berat yang menggoyahkan akidah, melemahnya keimanan, derasnya arus sekularisme, kerusakan moral, dan godaan duniawi. Orang beriman juga akan merasa terasing, menghadapi kesulitan ekonomi, serta disinformasi yang merusak sosial. Sebagaimana hadist Rasulullah;
"Waktu semakin berdekatan, ilmu diangkat, fitnah muncul, kikir disebarkan, dan banyak terjadi Al-Harj." Para sahabat bertanya: "Apa itu Al-Harj?" Beliau menjawab: "Pembunuhan." (HR. Bukhari dan Muslim).
Berpuasa di akhir zaman bukan sekadar menahan lapar dan haus dari subuh hingga maghrib, melainkan juga menahan diri (imsak) dari fitnah, syahwat, dan godaan maksiat yang semakin masif. Puasa berfungsi sebagai perisai (junnah) yang mendidik jiwa menjadi bertakwa.
Akhir zaman merupakan periode atau masa terakhir kehidupan di dunia yang ditandai dengan berbagai fitnah, tanda-tanda kecil, dan tanda-tanda besar sebelum terjadinya kiamat, dimulai sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Ini adalah fase akhir perjalanan dunia menuju kebangkitan dan pengadilan akhirat. Hal itu ditegaskan Rasullullah sebagaimana hadistnya;
"Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh kedustaan. Pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, dan amanah dikhianati. Dan berbicaralah Ruwaibidhah." Sahabat bertanya, "Apa itu Ruwaibidhah?" Nabi menjawab, "Orang bodoh yang mengurusi urusan umat." (HR. Ibnu Majah).
Namun demikian manusia yang ditakdirkan sebagai kalifah dimuka bumi mempunyai kecerdasan Intelektual, Spritual, Emosional, dan Sosial yang mumpuni untuk tetap eksis dalam menghadapi tantangan akhir zaman, termasuk dalam menunaikan ibadah puasa.
1. Kiat Spiritual (Meningkatkan Kualitas Iman)
"Innamal a'malu binniyat wa innama likullimriin ma nawa" adalah penggalan hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim yang berarti: "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan".
Hadits ini menegaskan bahwa keikhlasan niat di hati menjadi penentu utama sah atau tidaknya serta diterima atau tidaknya amal ibadah di sisi Allah SWT. Meluruskan Niat (Tashihun Niat), Pastikan puasa dilakukan semata-mata karena iman dan mengharap ridho Allah, bukan sekadar ikut-ikutan atau tradisi.
Kemudian meningkatkan Intensitas Ibadah (Taraqqi), untuk menjaga konsentensi dan kualitas ibadah puasa, maka harus diperkuat dengan ibadah lain, seperti salat tarawih, qiyamul lail (tahajud), tilawah Al-Qur'an, dan sedekah untuk menaikkan derajat takwa.
Belum cukup amalan itu saja, masih perlu benteng spiritual yang lain, yaitu dengan memperbanyak Dzikir dan Doa, dengan mengingat Allah adalah cara terbaik menenangkan hati dan menjauhkan diri dari pikiran negatif serta godaan maksiat. Dan tak kalah pentingnya senantiasa membaca banyak hal tentang keutamaan ibadah puasa Ramadan, sehingga dapat memahami dan menghayati bahwa puasa adalah madrasah untuk pengendalian diri (self-control) dari hawa nafsu.
2. Kiat Menahan Diri (Iman dan Amal)
"Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Hadist ini seyogya menjadi cambuk bagi orang-orang beriman sebagai peringatan keras karena begitu banyak yang puasa sia-sia zonk belaka, tiada nilai apapun dihadapan Allah.
Untuk itu setelah meningkatkan kualitas iman, langkah berikutnya adalah menjaga Panca Indra (Puasa Mata, Telinga, Mulut), dengan menghindari tontonan, pendengaran, dan ucapan yang sia-sia, haram, atau mendekati maksiat, terutama di media sosial. Menghindari Perdebatan dan Emosi, menahan diri dari amarah dan pertengkaran, karena hal ini dapat mengurangi atau menghilangkan pahala puasa.
Menyegerakan berbuka dan sahur berkah, menjadi langkah berikutnya, sebagaimana Rasulullah SAW mengajarkan untuk menyegerakan berbuka (saat waktunya tiba) agar mendapat energi dan meneladani sunnah. Sahur yang bergizi membantu stamina agar tidak mudah emosi, malas, dan tidur selama puasa.
Baca tanpa iklan