Menteri Agama Ungkap Keutamaan Bulan Ramadan dan Hikmah Puasa Dalam Perspektif Sejarah Islam
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan kedudukan khusus bulan ini dalam Islam.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Bulan Ramadan selalu hadir sebagai momen paling dinanti umat Islam.
- Ramadan bukan hanya periode ibadah tahunan.
- Ramadan juga bulan yang sarat makna sejarah dan spiritual.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bulan Ramadan selalu hadir sebagai momen paling dinanti umat Islam.
Ia bukan hanya periode ibadah tahunan, tetapi juga bulan yang sarat makna sejarah dan spiritual.
Baca juga: Mutiara Ramadan, Makna di Balik Perintah Puasa, Agar Umat Takwa, Syukur, dan Cerdas
Dalam perspektif keislaman, Ramadan menempati posisi istimewa sebagai pusat berbagai peristiwa monumental yang membentuk perjalanan umat.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan kedudukan khusus bulan ini dalam Islam.
“Dalam Islam bulan Ramadan disebut penghulunya bulan (sayyid al-syahr),"ungka Nasaruddin dalam keterangannya, Kamis (19/2/2026).
Ramadan sebagai Bulan Kewajiban Puasa
Ramadan menjadi bulan diwajibkannya puasa sebagai salah satu rukun Islam.
Ibadah ini tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter spiritual.
Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Hai orang- orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. al-Baqarah/2:183).”
Ayat tersebut menempatkan puasa sebagai jalan menuju ketakwaan. Ramadan menjadi ruang latihan pengendalian diri sekaligus penguatan hubungan manusia dengan Tuhan.
Bulan Sejarah Besar Peradaban Islam
Ramadan juga tercatat sebagai saksi berbagai peristiwa besar dalam sejarah Islam.
Turunnya wahyu pertama menandai pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul.
Baca tanpa iklan