Apakah Tidur Seharian saat Berpuasa Diperbolehkan? Simak Penjelasannya
Puasa tetap sah meskipun seseorang tidur dari Subuh hingga Asar, selama sudah berniat puasa sejak malam hari, karena tidur tidak membatalkan puasa.
Penulis:
Lanny Latifah
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Puasa tetap sah meski seseorang tidur dari Subuh hingga Asar, selama sudah berniat puasa sejak malam hari, karena tidur tidak membatalkan puasa.
- Tidur bisa bernilai pahala jika diniatkan untuk ibadah atau menghindari maksiat, namun pahala memiliki tingkatan sehingga aktivitas yang lebih produktif tetap lebih utama.
- Meski diperbolehkan, umat Islam dianjurkan mengisi waktu puasa dengan kegiatan yang bermanfaat dan ibadah agar Ramadan tidak hanya sah secara hukum, tapi juga maksimal dalam pahala.
TRIBUNNEWS.COM - Bulan Ramadan adalah momen untuk memperbanyak ibadah dan menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai pahala.
Namun, ada satu pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat: apakah puasa tetap sah jika seseorang tidur dari Subuh sampai Asar?
Secara hukum fikih, puasa tetap sah meskipun seseorang tidur hampir sepanjang hari, selama ia telah berniat puasa sejak malam hari.
Dosen Ilmu Hukum Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta, Suciyani, SHI., M.Sos., menyebut bahwa tidur bukan termasuk hal yang membatalkan puasa.
Artinya, dari sisi keabsahan, tidak ada masalah jika seseorang menghabiskan sebagian besar waktu puasanya dengan tidur.
Bahkan, jika tidurnya diniatkan sebagai ibadah, maka bisa bernilai pahala.
"Misalnya, ia berniat agar tubuhnya kuat untuk beribadah, atau berniat untuk menghindari perbuatan maksiat seperti menonton hal-hal yang tidak baik maka itu juga bisa menjadi pahala," jelas Suciyani, dilansir dari Tayangan YouTube Oase Tribunnews.com pada Minggu (22/2/2026).
Namun, dalam Islam pahala itu memiliki tingkatan.
Seperti halnya salat sendirian dan salat berjamaah, keduanya sama-sama sah, tetapi pahalanya berbeda. Begitu juga dengan aktivitas saat berpuasa.
Tidur memang diperbolehkan, apalagi jika tujuannya untuk menjaga diri dari hal-hal yang bisa merusak nilai puasa.
Jika pilihannya hanya antara melakukan hal yang kurang bermanfaat atau tidur, maka tidur tentu lebih baik.
Baca juga: Mengapa Umat Islam Diperintahkan Berpuasa di Bulan Suci Ramadhan? Ini Penjelasannya
"Akan tetapi, jika seseorang mampu melakukan aktivitas yang lebih produktif, maka itu lebih dianjurkan. Misalnya bekerja untuk mencari nafkah, berolahraga ringan agar tubuh tetap sehat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, atau melaksanakan salat sunah. Aktivitas-aktivitas ini tentu memiliki nilai pahala yang lebih besar, maka itu lebih dianjurkan," ungkapnya.
Dalam penjelasan para ulama, termasuk dalam mazhab Syafi’i dan keterangan Imam Nawawi, disebutkan bahwa seseorang yang berpuasa dan tidur sepanjang hari tetap sah puasanya, selama ia memang berniat puasa.
Namun, mayoritas ulama juga menekankan bahwa sebaiknya orang yang berpuasa mengisi waktunya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan produktif.
"Tidur boleh saja, tetapi secukupnya, misalnya tidur siang sebentar (qailulah) agar tubuh tetap segar dan kuat untuk beribadah di siang maupun malam hari," ungkap Suciyani.
Jadi, kesimpulannya, puasa tetap sah meskipun tidur dari Subuh sampai Ashar.
Tetapi yang lebih utama adalah memanfaatkan waktu puasa di bulan Ramadan untuk memperbanyak amal dan aktivitas yang bernilai ibadah.
Sebab Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kualitas diri dan kedekatan kepada Allah.
(Tribunnews.com/Latifah)
Baca tanpa iklan