Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Euforia War Takjil Saat Berbuka Puasa Ternyata Picu Risiko Jantung, Ini Penjelasan Dokter

Ramadan seharusnya jadi momentum memperbaiki kesehatan jantung bukan justru picu lonjakan berat badan dan gangguan metabolik akibat euforia war takjil

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto

Ringkasan Berita:
  • Aktivitas fisik yang cenderung menurun selama Ramadan serta kurangnya asupan cairan dapat mempercepat penambahan berat badan
  • Puasa mampu memperbaiki tekanan darah, menurunkan LDL, serta meningkatkan efisiensi metabolisme.
  • Berbuka puasa disarankan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan air putih.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Fenomena “war takjil” setiap Ramadan seolah sudah menjadi tradisi tahunan. Menjelang waktu berbuka, deretan pedagang diserbu pembeli yang ingin mendapatkan aneka makanan manis dan minuman segar. Kolak, es buah, gorengan, sirup berwarna-warni hingga kue-kue tinggi gula menjadi incaran utama.

Baca juga: Ekonom Soroti War Takjil, Jadi Peluang UMKM Tingkatkan Penjualan

Namun dibalik euforia berburu takjil tersebut, para ahli mengingatkan ada risiko kesehatan serius yang mengintai, terutama bagi kesehatan jantung.

Alih-alih menjadi momen memperbaiki metabolisme tubuh, kebiasaan makan berlebihan dan tinggi gula saat berbuka justru bisa memicu lonjakan gula darah, resistensi insulin, hingga peningkatan risiko penyakit jantung.

Dokter Spesialis Gizi Klinik dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr. Oqti Rodia, Sp.GK menegaskan bahwa puasa pada dasarnya memiliki dampak positif signifikan terhadap kesehatan jantung. Namun manfaat tersebut bisa berkurang drastis jika pola makan saat berbuka tidak terkontrol.

Rekomendasi Untuk Anda

“Kalau secara umum memang puasa itu memiliki dampak positif yang sangat signifikan terhadap kesehatan jantung,” ujarnya dalam talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (23/2/2026).

Menurut dr. Oqti, selama berpuasa tubuh mengalami berbagai perbaikan, seperti profil lipid yang membaik, tekanan darah lebih terkendali, peningkatan sensitivitas insulin, serta penurunan inflamasi. Bahkan pembuluh darah menjadi lebih elastis dan sehat.

Namun kondisi tersebut bisa berubah ketika tubuh yang seharian berada dalam metabolisme lebih rendah tiba-tiba menerima asupan kalori besar dalam waktu singkat saat berbuka.

Budaya war takjil yang identik dengan konsumsi makanan tinggi gula menjadi pemicu utama. Minuman manis dan karbohidrat sederhana menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis. Ketika ini terjadi berulang setiap hari selama Ramadan, tubuh kesulitan mengelola kelebihan gula tersebut secara efisien.

“Jadi pada saat metabolisme kita turun tapi kemudian dihantam dengan asupan kalori yang besar pada saat buka puasa, tubuh kita ini kaget. Jadi tidak mampu untuk membakar kalori dengan efisien,” jelas dr. Oqti.

Baca juga: Nagita Slavina Sediakan Tempat War Takjil Ramadan Lewat Jajarans

Lonjakan gula darah mendadak tidak hanya berdampak pada kenaikan berat badan, tetapi juga berpotensi memicu resistensi insulin. Dalam jangka panjang, kondisi ini menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit jantung dan gangguan metabolik lainnya.

Selain tingginya asupan gula, konsumsi gorengan dan makanan berlemak jenuh yang sering menjadi bagian dari takjil turut memperburuk kondisi. Lemak jenuh dapat meningkatkan kadar Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat, yang berkontribusi pada penyempitan pembuluh darah.

Ditambah lagi, aktivitas fisik yang cenderung menurun selama Ramadan serta kurangnya asupan cairan dapat mempercepat penambahan berat badan. Situasi ini membuat puasa yang seharusnya menjadi momen “reset” tubuh justru berubah menjadi periode peningkatan risiko kardiometabolik.

Padahal, berdasarkan berbagai studi, puasa mampu memperbaiki tekanan darah, menurunkan LDL, serta meningkatkan efisiensi metabolisme jika dilakukan dengan pola makan seimbang. Kunci utamanya terletak pada pengendalian porsi dan pemilihan makanan saat berbuka maupun sahur.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas