Agar Ketaatan Tak Luntur setelah Bulan Ramadan Rampung, Isi Puasa dengan Banyak Dzikir
Memperbanyak dzikir kepada Allah menjadi solusi mempertahankan ketaatan kaum muslim di luar bulan Ramadan saat menjalankan kehidupan sehari-hari.
Penulis:
Guruh Putra Tama
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Salah satu hal yang menjadi permasalahan soal puasa adalah tak memberikan efek kepada pelaksananya.
- Mengisi puasa dengan kegiatan atau sesuatu yang melalaikan menjadi sebab utama puasa tersebut tak memberikan dampak positif.
- Sedianya puasa diisi dengan dzikir kepada Allah agar menjadi hamba yang bertakwa.
TRIBUNNEWS.COM - Bergulirnya bulan Ramadan sejalan dengan berlangsungnya ibadah puasa yang dijalankan kaum muslimin di seluruh dunia.
Pada umumnya, kaum muslimin berlomba memperbanyak amal saat menjalani hari-hari di bulan suci ini.
Bisa dibilang, banyaknya amal yang dijalankan saat Ramadan terkadang tak berbekas saat orang-orang meninggalkan bulan tersebut.
Dengan kata lain, ketaatan itu hanya dilakukan secara masif saat mereka berada di bulan Ramadan.
Selebihnya, orang-orang cenderung kembali ke kebiasaan condong kepada aktivitas duniawi.
Lunturnya kualitas ibadah dan ketaatan ini kerap menjadi pertanyaan dari tak sedikit kaum muslimin.
Baca juga: Jadwal Buka Puasa Kota Samarinda Senin, 23 Februari 2026
Apa yang seharusnya dilakukan agar ketaatan itu tetap tinggi bahkan saat Ramadan berakhir?
Pengajar mata pelajaran tafsir Al-Qur'an di Pondok Pesantren Imam Bukhari, Rizky Narendra, Lc, menjabarkan terkait persoalan tersebut.
Pria lulusan Universitas Islam Madinah tahun 2013 ini menyoroti kualitas puasa yang dijalani kaum muslimin.
Kunci mempertahankan ketaatan di luar bulan Ramadan dimulai dari puasa yang sungguh-sungguh dan tidak lalai.
Maksudnya, kaum muslim sedianya memperbanyak dzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
"Mengapa terkadang orang merasa berpuasa selama bertahun-tahun tetapi tidak mengalami perubahan? Ada dua kemungkinan, perintah puasanya yang salah, atau puasa yang dilakukan orang itu yang salah," kata Ustadz Rizky Narendra saat ditemui Tribunnews di lantai dua masjid Pondok Pesantren Imam Bukhari, Selokaton, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (23/2/2026).
"Apakah perintah Allah yang salah? Tidak mungkin, karena wahyu tidak mungkin salah."
"Berarti puasa yang dilakukan orang ini yang salah. Apa yang salah? Puasanya tidak sungguh-sungguh (main-main), banyak lalai dari dzikir kepada Allah," sambungnya.
Baca tanpa iklan