Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Sering Diabaikan! Ketahui Tanda Dehidrasi Saat Puasa yang Bisa Jadi Alarm Bahaya

Berkeringat, berbicara, bahkan bernapas juga menyebabkan tubuh mengeluarkan air. Risiko dehidrasi di iklim tropis lebih tinggi saat puasa.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Sering Diabaikan! Ketahui Tanda Dehidrasi Saat Puasa yang Bisa Jadi Alarm Bahaya
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
BUKA PUASA - Umat muslim mengikuti buka puasa bersama yang disediakan Masjid Istiqlal di Jakarta, Jumat (20/2/2026). Selama bulan Ramadan 1447 Hijriah, Masjid Istiqlal menyediakan sebanyak 4.000 hingga 5.000 paket nasi kotak pada hari Senin hingga Kamis sementara Jumat, Sabtu, Minggu disediakan antara 7.000 sampai 10.000 paket nasi kotak sebagai menu untuk buka puasa gratis. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Ringkasan Berita:
  • Suhu panas dan kelembapan tinggi seperti di negara tropis membuat tubuh lebih mudah kehilangan cairan. Risiko dehidrasi meningkat
  • Dasar itulah yang buat puasa di negara tropis memiliki tantangan tersendiri
  • Mengenali tanda awal dehidrasi bisa menjadi langkah sederhana yang menyelamatkan kesehatan

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Puasa di negara tropis seperti Indonesia punya tantangan tersendiri. Suhu panas dan kelembapan tinggi membuat tubuh lebih mudah kehilangan cairan.

Risiko dehidrasi pun meningkat, terutama jika aktivitas di luar ruangan cukup padat.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Internis) Subspesialis Ginjal Hipertensi, dr. Yulia Wardhani, Sp.PD, Subsp. GH. (K), ada beberapa faktor yang memengaruhi kerentanan seseorang terhadap dehidrasi: usia, aktivitas, dan lingkungan.

Baca juga: Tips Mengatur Jadwal Minum Obat Saat Puasa Ramadan, Ini Panduan dari Kemenkes

Ginjal sebenarnya memiliki mekanisme adaptasi yang sangat baik untuk mengatur pengeluaran cairan melalui urin.

Namun ada satu hal yang tidak bisa dikontrol tubuh yaitu suhu dan kelembapan.

Rekomendasi Untuk Anda

Ketika temperatur meningkat, penguapan cairan melalui kulit (evaporasi) ikut meningkat. Berkeringat, berbicara, bahkan bernapas juga menyebabkan tubuh mengeluarkan air.

Inilah yang membuat risiko dehidrasi di iklim tropis lebih tinggi saat puasa.

Tanda Awal yang Sering Dianggap Sepele

Dehidrasi tidak selalu langsung berat. Pada kebanyakan orang sehat, kondisi ini biasanya ringan dan segera dikompensasi tubuh.

“Kalau dehidrasi ringan, paling gejala-gejala yang sering muncul seperti kita rasanya haus gitu ya, haus itu kan merupakan suatu bentuk adaptasi tubuh,"ungkapnya pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Selasa (24/2/2026). 

Selain itu, gejala ringan lain bisa berupa sedikit pusing dan perubahan warna urin.

Semakin cukup cairan dalam tubuh, warna urin akan kuning jernih atau bening. Namun jika cairan berkurang, urin menjadi lebih pekat dan frekuensi buang air kecil menurun. Ini adalah tanda yang sering diabaikan.

Kapan Jadi Berbahaya?

Masalah muncul ketika dehidrasi meningkat ke tingkat yang lebih berat.

“Nah, itu merupakan tanda dehidrasi yang sudah red flax atau alarm ya, tanda alarm, dan itu sudah harus membutuhkan penanganan medis,"imbuhnya. 

Tanda bahaya tersebut antara lain:

  • Konsentrasi menurun
  • Linglung
  • Sulit berkonsentrasi
  • Tidak merasa haus meski kekurangan cairan
  • Bibir sangat kering
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas