Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Puasa di Tengah Ketidakpastian Ekonomi: Ujian Kesabaran Kolektif

Dalam situasi ekonomi ini, Ramadhan hadir sebagai bulan yang mengajak kita untuk merenung, memperbaiki diri, dan menemukan ketenangan batin.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Puasa di Tengah Ketidakpastian Ekonomi: Ujian Kesabaran Kolektif
Dok Pribadi
kolumnis ramadan: Ema Elisa, M.E.I - Dosen FEBI IAIN Pontianak 

kolumnis ramadan
KOLUMNIS RAMADAN
Ema Elisa, M.E.I
Dosen FEBI IAIN Pontianak

TRIBUNNEWS.COM - Kehidupan ekonomi beberapa tahun terakhir terasa tidak stabil. Harga kebutuhan pokok yang naik turun dan biaya hidup yang semakin tinggi menambah beban banyak orang yang harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan kondisi yang sama. 

Ketidakpastian ekonomi ini tidak hanya tercermin dalam angka laporan ekonomi, tetapi juga langsung mempengaruhi kehidupan sehari-hari dari meja makan keluarga hingga usaha kecil yang berjuang bertahan. 

Baca juga: Mutiara Ramadan, Menggapai Ketenangan Batin saat Puasa Hari Ketujuh

Dalam situasi ini, Ramadhan hadir sebagai bulan yang mengajak kita untuk merenung, memperbaiki diri, dan menemukan ketenangan batin. Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga soal mengendalikan diri di tengah ketidakpastian.

Puasa mengajarkan kita untuk sabar, tidak hanya dalam aspek pribadi tetapi juga sosial. 

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah mewajibkan puasa agar umat-Nya menjadi pribadi yang bertakwa. 

Takwa di sini bukan hanya soal ritual ibadah, tetapi juga kemampuan menjaga diri, bersikap adil, dan peduli pada sesama. Dalam konteks ekonomi yang tidak menentu, nilai-nilai ini menjadi landasan penting. 

Rekomendasi Untuk Anda

Ketika tekanan ekonomi meningkat, ketenangan batin yang seringkali goyah. Banyak orang merasa cemas dan khawatir tentang masa depan mereka, bahkan takut kehilangan pekerjaan atau sumber penghidupan. Ramadhan mengingatkan kita bahwa meskipun banyak hal yang berada di luar kendali kita, bagaimana kita merespons keadaan adalah pilihan kita.

Puasa juga menjadi pelatihan untuk mengelola dorongan emosi dan keinginan berlebihan. Rasulullah saw. menyebut puasa sebagai perisai dari dorongan berlebihan, kemarahan, dan keputusan yang diambil dalam keadaan emosi. Dalam situasi ekonomi yang penuh tekanan, kemampuan untuk menahan diri menjadi kekuatan yang sangat penting. 

Puasa mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Ketika kita belajar menahan amarah dan kecemasan, kita menjadi lebih rasional dan lebih terukur dalam bertindak. Allah berfirman dalam Surah At-Talaq ayat 3 bahwa siapa yang bertakwa akan diberi jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, sebuah pengingat bahwa meskipun keadaan sulit, harapan selalu ada.

Lebih jauh lagi, puasa mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap keadaan sosial. Ketika kita merasakan lapar, kita diingatkan akan orang-orang yang merasakannya tidak hanya sebulan, tetapi sepanjang tahun. Surah Al-Hasyr ayat 9 mengajarkan kita untuk mendahulukan orang lain meskipun diri kita sendiri juga membutuhkan. 

Hal ini sangat penting dalam menghadapi tekanan ekonomi. Ketika sebagian orang kesulitan, solidaritas menjadi kunci agar kesulitan tidak berubah menjadi perpecahan. Namun, kita juga perlu jujur melihat kenyataan bahwa meskipun pesan kesederhanaan begitu kuat, seringkali pola konsumsi justru meningkat selama Ramadhan. 

Fenomena ini perlu direnungkan, apakah puasa benar-benar mengajarkan pengendalian diri atau hanya menggeser waktu makan tanpa mengubah cara pandang kita terhadap harta.


Puasa tidak hanya mengajarkan kita untuk menahan lapar, tetapi juga untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, kemampuan untuk merasa cukup menjadi kekuatan yang luar biasa. Banyak masalah muncul bukan karena kekurangan, tetapi karena standar hidup yang semakin tinggi tanpa diimbangi dengan kemampuan yang memadai. Puasa mengajarkan keseimbangan, untuk tidak berlebihan dan tidak mengeluh berlebihan. 

Selain itu, tekanan ekonomi juga sering mempengaruhi hubungan sosial kita. Orang menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, bahkan mudah menyalahkan keadaan atau pihak lain. 

Di sinilah nilai puasa kembali diuji. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa ketika seseorang diajak bertengkar saat berpuasa, ia cukup menjawab bahwa dirinya sedang berpuasa. Sikap ini mengajarkan pengendalian diri dan kedewasaan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas