Jejak Islam di Masjid Ar-Rahman Waipare NTT, Saksi Persaudaraan Lintas Budaya
Masjid Ar-Rahman Waipare, sebuah penanda sejarah masuknya Islam di Bumi Sikka sejak awal abad ke-20.
Editor:
Anita K Wardhani
Ringkasan Berita:
- Masjid Ar-Rahman Waipare di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur menorehkan jejak Islami.
- Masjid ini sebuah penanda sejarah masuknya Islam di Bumi Sikka sejak awal abad ke-20.
- Bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah cerita tentang pelayaran, persahabatan, dan persaudaraan lintas budaya yang tumbuh di tepi laut.
TRIBUNNEWS.COM, FLORES - Di bibir pantai utara Pulau Flores, deru ombak berkejaran dengan semilir angin yang menyentuh pucuk-pucuk kelapa.
Di antara rumah-rumah warga Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) berdiri kokoh Masjid Ar-Rahman Waipare, sebuah penanda sejarah masuknya Islam di Bumi Sikka sejak awal abad ke-20.
Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah cerita tentang pelayaran, persahabatan, dan persaudaraan lintas budaya yang tumbuh di tepi laut.
Bangunan utamanya tampil mencolok dengan atap tumpang berwarna biru cerah dan kubah emas kecil berpuncak bulan sabit dan bintang.
Di sisi kanan, menjulang menara tinggi bermotif zig-zag biru-putih dengan kubah cokelat tembaga. Bagi masyarakat setempat, menara itu bukan hanya ornamen arsitektur, melainkan penanda visual bagi para pelaut yang melintas di perairan Sikka, seolah memberi isyarat bahwa di daratan sana, azan akan selalu berkumandang.
Sumpah Darah di Tepi Laut
Menurut kisah tutur yang diwariskan turun-temurun, Islam hadir di wilayah ini sekitar tahun 1901. Para pelaut dari Gujarat dan Sulawesi, khususnya Bugis, berlayar melintasi Nusantara dan berlabuh di pesisir Kangae.
Pertemuan mereka dengan Raja Kangae tidak melahirkan ketegangan, melainkan persahabatan.
Muhammad Kadri (66), tokoh masyarakat setempat, menuturkan bahwa hubungan itu bahkan dikukuhkan melalui tradisi unik “minum darah”, sebuah simbol sumpah persaudaraan yang tak terputuskan.
"Menurut cerita orang-orang tua sebelum saya, Islam masuk di sini sekitar zaman Belanda hingga Jepang. Para pelaut Bugis yang membawa senjata dari Surabaya berlabuh di sini dan bertemu dengan Raja Kangae," ujar Kadri yang juga pensiunan ASN Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Kamis (19/2/2026).
Sebagai tanda penerimaan, Raja Kangae menghibahkan lahan di sepanjang pesisir hingga Tanjung Darat untuk dikelola para pendatang. Di atas tanah itulah permukiman dibangun, dan rumah ibadah sederhana pertama kali didirikan.
Masjid awalnya hanya berupa bangunan darurat. Pada awal 1980-an, bentuknya masih sederhana. Namun gempa bumi dan tsunami Flores tahun 1992 merobohkan bangunan lama hingga rata dengan tanah. Dari puing-puing itulah, semangat membangun kembali tumbuh.
Waipare, Air dan Kehidupan
Nama “Waipare” sendiri menyimpan makna filosofis. Dalam bahasa setempat, wai berarti air dan pare berarti beras. Konon, terdapat sumur dengan air yang tampak seperti air cucian beras, sumber kehidupan bagi masyarakat pegunungan saat musim panen.
Seiring waktu, terjadi akulturasi yang alami. Warga asli Waipare dan para pendatang Bugis saling berbaur, membangun keluarga, dan menetap. Kampung itu pun tumbuh sebagai ruang hidup bersama, tempat tradisi dan keyakinan saling menguatkan.
Jejak para pionir Islam masih bisa ditemukan melalui makam-makam tua berusia ratusan tahun, salah satunya makam Haji Taning.
Baca tanpa iklan