Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Belanja Ramadhan dengan PayLater: Antara Kebutuhan dan Kendali Diri

Ramadhan ajak refleksi belanja bijak: kebutuhan vs PayLater, kendali diri penting agar keuangan tetap sehat dan manfaat luas.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Belanja Ramadhan dengan PayLater: Antara Kebutuhan dan Kendali Diri
HO/IST
BULAN RAMADAN - Ramadhan ajak refleksi belanja bijak: kebutuhan vs PayLater, kendali diri penting agar keuangan tetap sehat dan manfaat luas. 

kolumnis ramadan
KOLUMNIS RAMADAN
Eka Junila Saragih
Penulis adalah Dosen Program Studi Manajemen Bisnis Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Pontianak

RAMADHAN selalu datang dengan suasana yang khas. Ada rasa haru, ada semangat baru, ada pula geliat ekonomi yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Pada momen ini terjadi peningkatan konsumsi di kalangan masyarakat muslim. Mulai dari kebutuhan berbuka puasa, persiapan sahur, hingga belanja untuk Hari Raya Idul Fitri, semuanya berkontribusi pada lonjakan transaksi.

Pusat perbelanjaan lebih ramai, pasar tradisional lebih hidup, dan toko daring menawarkan beragam promo bertajuk “Spesial Ramadhan”. Dalam beberapa tahun terakhir, satu fitur yang semakin akrab dalam pola belanja masyarakat adalah PayLater. Dengan beberapa klik, barang yang diinginkan bisa langsung dimiliki, sementara pembayarannya menyusul kemudian.

Di satu sisi, kemudahan ini terasa membantu. Namun di sisi lain, Ramadhan sejatinya adalah bulan pengendalian diri. Di sinilah muncul pertanyaan reflektif: ketika belanja Ramadhan bertemu dengan PayLater, apakah kita sedang memenuhi kebutuhan atau sekadar mengikuti keinginan?

Fenomena PayLater tumbuh seiring perkembangan ekonomi digital. Platform e-commerce dan layanan keuangan berbasis aplikasi menawarkan kemudahan transaksi tanpa perlu kartu kredit. Cukup mendaftar, melakukan verifikasi, dan limit pembiayaan pun tersedia.

Dalam konteks tertentu, PayLater memang memberi solusi praktis. Misalnya, ketika seseorang membutuhkan perlengkapan ibadah baru, bahan makanan dalam jumlah besar untuk usaha takjil, atau kebutuhan mendesak lainnya menjelang Idulfitri. Namun, kemudahan ini sering kali hadir bersamaan dengan godaan diskon besar, flash sale, dan promosi waktu terbatas yang mendorong keputusan impulsif.

Ramadhan sebenarnya mengajarkan nilai yang berbeda dari sekadar konsumsi. Puasa melatih manusia menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari sikap berlebihan. Dalam tradisi Islam, sikap moderat atau wasathiyah menjadi prinsip penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam mengelola harta.

Rekomendasi Untuk Anda

Belanja tentu bukan sesuatu yang dilarang. Bahkan memenuhi kebutuhan keluarga saat Ramadhan adalah bagian dari tanggung jawab. Namun, ketika belanja berubah menjadi ajang pemuasan hasrat tanpa perhitungan, di situlah makna pengendalian diri mulai terkikis.

Salah satu karakter Ramadhan adalah meningkatnya pengeluaran rumah tangga. Data dari berbagai lembaga survei menunjukkan bahwa belanja masyarakat cenderung naik pada bulan ini. Kebutuhan bahan pokok meningkat karena adanya sahur dan berbuka.

Tradisi berbagi takjil, buka bersama, hingga persiapan Idulfitri turut menambah daftar pengeluaran. Di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif dan harga yang tidak selalu stabil, sebagian orang merasa PayLater menjadi jalan keluar yang praktis. Tanpa harus menguras tabungan sekaligus, kebutuhan dapat terpenuhi lebih dulu.

Namun perlu diakui bahwa tidak semua penggunaan PayLater berangkat dari kebutuhan. Ramadhan juga identik dengan budaya konsumsi simbolik. Baju baru, peralatan makan baru, dekorasi rumah bertema Lebaran, hingga gadget terbaru sering kali dianggap sebagai bagian dari “merayakan” bulan suci. Media sosial turut memperkuat tren ini.

Foto hampers yang estetik, video unboxing perlengkapan Ramadhan, dan konten promosi diskon menciptakan standar gaya hidup tertentu. Tanpa disadari, kita membandingkan diri dengan orang lain dan merasa perlu mengikuti arus.

Di sinilah relevansi kendali diri menjadi penting. Puasa tidak hanya mengajarkan menahan diri dari yang haram, tetapi juga dari yang berlebihan dalam hal yang halal. Menggunakan PayLater pada dasarnya bukan tindakan yang otomatis salah.

Yang menjadi persoalan adalah motif dan perencanaannya. Apakah transaksi itu sudah dipertimbangkan dengan matang? Apakah kita memiliki kemampuan membayar sesuai tenggat waktu? Ataukah kita sekadar tergoda oleh promo “bayar nanti” tanpa menghitung konsekuensinya?

Dalam perspektif etika keuangan, setiap keputusan pembiayaan seharusnya didasarkan pada kemampuan bayar dan perencanaan anggaran. Ramadhan justru menjadi momentum yang tepat untuk mengevaluasi kebiasaan finansial.

Banyak orang membuat resolusi spiritual di bulan ini, seperti menambah ibadah atau memperbanyak sedekah. Namun jarang yang menjadikannya sebagai titik awal disiplin keuangan. Padahal, pengelolaan harta yang baik juga bagian dari tanggung jawab moral.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas