Sosok Luqmanul Hakim yang Menginspirasi, Bukan Nabi Tapi Namanya Ada di Dalam Alquran
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat mengambil hikmah dari sosok Luqmanul Hakim, figur sederhana yang namanya diabadikan dalam Alquran.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Ketika keduanya sama-sama naik ke atas keledai, cibiran tak berhenti. Bahkan saat mereka memutuskan berjalan kaki dan tidak menaiki keledai, tetap saja ada komentar miring.
Kisah ini memperlihatkan betapa subyektifnya penilaian manusia. Apa pun pilihan yang diambil, selalu ada sudut pandang yang mengkritik.
Di era sekarang, situasi ini terasa semakin nyata, terutama dalam kehidupan sosial yang penuh komentar.
Pelajaran yang bisa dipetik adalah keteguhan memegang nilai.
Agaknya mustahil memenuhi seluruh harapan masyarakat yang beragam dalam waktu bersamaan.
Karena itu, istiqamah pada nilai luhur menjadi kunci ketenangan.
Lidah dan Hati Penentu Baik Buruknya Hidup
Kisah lain yang sarat makna adalah saat Luqman diperintahkan tuannya menyembelih kambing dan mengambil daging terbaik.
Ia mengambil lidah dan hati. Ketika diminta mengambil daging terburuk, ia kembali membawa lidah dan hati.
Saat ditanya alasannya, Luqman menjawab:
”Wahai tuanku kalaulah lidah dan hati ini baik maka itu lebih bermanfaat dan apabila lidah dan hati ini jelek maka itu lebih jelek dan akan menimbulkan kerusakan.”
Jawaban ini menjadi refleksi mendalam, terutama di bulan Ramadan. Lidah dan hati adalah pusat kendali diri.
Ucapan yang baik membawa manfaat, sementara ucapan yang buruk bisa menimbulkan kerusakan.
Begitu pula hati, jika bersih akan melahirkan ketenangan, jika kotor akan memicu kesombongan dan konflik.
Ramadan melatih umat untuk menjaga keduanya. Tidak sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan lisan dan membersihkan niat.
Prinsip Hidup yang Membawa Kedamaian
Dalam kisah Luqman di Alquran, terdapat banyak pelajaran penting, tidak mempersekutukan Allah (QS 31:13), berbuat baik kepada orang tua (QS 31:14), menyadari pengawasan Allah (QS 31:16), mendirikan shalat, berbuat kebajikan, menjauhi kemungkaran, bersabar, dan menghindari kesombongan (QS 31:17–19).