Puasa Melatih Diri untuk Diam, Hanya Bicara untuk Kebenaran
Salah satu hikmah puasa ialah melatih diri untuk diam. Bicara hanya untyk menyampaikan kebenaran.
Editor:
Anita K Wardhani
MUTIARA RAMADAN
Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Salah satu hikmah puasa ialah melatih diri untuk diam. Bicara hanya untyk menyampaikan kebenaran.
Demikian dikatakan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam program Mutiara Ramadan Tribunnews.com.
Baca juga: Mutiara Ramadan Hari Ke-12, Belajar dari Sifat-sifat Tuhan
Ada pepatah kuno mengatakan: Diam adalah emas dan bicara adalah perak. Kita bisa setuju atau tidak dengan pepatah ini tetapi yang pasti kita sendiri sering kali menyesal karena terlalu banyak bicara.
Kita juga sering bersyukur karena bisa bersikap diam dan mengendalikan diri sehingga terbebas dari fitnah dan marabahaya.
Kita juga sering setuju dengan pernyataan: Kita lebih gampang disuruh bicara ketimbang disuruh diam. Yang pasti mungkin semuanya kita pernah memilih diam sebagai jawaban yang paling tepat.
Dalam Alquran juga disebutkan Nabi Zakaria pernah mengalami hal ini sebagaimana diungkapkan dalam Surah Maryam. Ia sangat berhasrat memiliki anak. Ia tak pernah berhenti berdoa meskipun usianya sudah tua dan isterinya juga demikian.
Sebagai wujud tanda syukur dan sekaligus nazar sekiranya ia berhasil dikaruniai anak maka ia akan berpuasa bicara selama tiga hari, sebagaimana disebutkan dalam Alquran:
“Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat". (Q.S. Maryam/19:10). Akhirnya doanya dikabulkan dan Nabi Zakariya pun menunaikan nazarnya dengan berpuasa bicara selama hari yang ditentukan.
Diam atau puasa bicara bukan pekerjaan mudah bagi orang normal. Namun Allah SWT selalu mengingatkan kita agar hati-hati soal bicara, sebagaimana firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. (QS. Al-Ahzab/33:70).
Dalam hadis Nabi disebutkan: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasulunya maka hendaklah ia mengatakan yang benar atau lebih baik diam”.
Nabi juga mengingatkan kita: “Sesungguhnya dosa yang paling banyak dilakukan oleh anak cucu Adam adalah pada lidahnya”.
“Musibah itu terwakili melalui ucapan”. “Sesungguhnya dosa yang paling banyak dilakukan oleh anak cucu Adam adalah pada lidahnya”. “Barangsiapa yang banyak bicara, banyak juga kekeliruannya. Barangsiapa yang banyak kekeliruannya, banyak juga dosanya. Barangsiapa yang banyak dosanya, maka nerakalah yang paling tepat tempatnya”. Banyak lagi ayat dan hadis mengingatkan kita agar jangan mengumbar pembicaraan yang tidak perlu.