Ramadan, Bulan Reparasi Hati dan Momentum Memperbaiki Akhlak
Puasa ramadan tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi menjadi sarana memperbaiki hati, akhlak, serta melakukan muhasabah diri.
Penulis:
Lanny Latifah
Editor:
Ayu Miftakhul Husna
Ringkasan Berita:
- Puasa ramadan tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi menjadi sarana memperbaiki hati, akhlak, serta melakukan muhasabah diri.
- Melalui puasa ramadan, manusia diajarkan mencapai tingkatan akhlak yang lebih tinggi, yakni membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih besar bahkan tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat zalim.
- Puasa ramadan juga berfungsi melemahkan hawa nafsu agar manusia mampu mengendalikan diri dan menjadikan akal serta hati sebagai penuntun dalam menjalani kehidupan.
TRIBUNNEWS.COM - Puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan haus.
Lebih dari itu, puasa merupakan sarana untuk memperbaiki hati dan akhlak manusia.
Melalui ibadah ini, setiap muslim diajak untuk melakukan refleksi diri serta memperbaiki sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Sofyan Lestaluhu dalam Tayangan Mutiara Ramadan di kanal YouTube Tribunnews, menyebutkan puasa hadir untuk memberikan sentuhan yang baru terhadap kepribadian, akhlak, dan tingkah laku manusia.
Puasa juga disebut sebagai bulan reparasi, yaitu waktu untuk memperbaiki hati, menata kembali sikap, serta meningkatkan kualitas akhlak.
Dalam kehidupan manusia, terdapat tiga tingkatan akhlak yang dapat menjadi cerminan kepribadian seseorang.
"Ada tiga tingkatan kepribadian atau akhlak kita yang dapat kita soroti di dalam kehidupan ini," kata Sofyan Lestaluhu, dikutip pada Kamis (5/3/2026).
Tingkatan pertama adalah akhlakul hasanah.
Akhlak ini tercermin ketika seseorang membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan yang sama.
Tingkatan kedua adalah akhlakul karimah.
Pada tingkatan ini, seseorang tidak hanya membalas kebaikan dengan kebaikan yang sama, tetapi dengan kebaikan yang lebih besar dari yang diterimanya.
Baca juga: Amalan yang Dianjurkan saat Itikaf dan Keutamaannya di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
Adapun tingkatan ketiga adalah akhlakul azimah.
Tingkatan ini menunjukkan akhlak yang lebih tinggi, yakni ketika seseorang tetap membalas dengan kebaikan meskipun orang lain berbuat zalim, memfitnah, atau melakukan kejahatan terhadap dirinya.
"Akhlakul azimah ini apabila orang lain melakukan suatu kejahatan kepada kita, menzalimi kita, memfitnah kita, berbuat suatu kejahatan dan kezaliman terhadap kita, namun kita tidak pernah membalasnya dengan kejahatan yang sama, dengan tidak kembali memfitnah orang itu, dengan tidak kembali melakukan suatu kemungkaran kepada orang itu, namun kita tetap membalasnya dengan kebaikan," jelasnya.
Baca tanpa iklan