Jadwal Imsakiyah Kota Samarinda Sabtu, 7 Maret 2026
Berikut jadwal imsakiyah untuk wilayah Kota Samarinda, Kalimantan Timur, pada Jumat, 6 Maret 2026.
Penulis:
Muhamad Deni Setiawan
Editor:
Febri Prasetyo
TRIBUNNEWS.COM - Berikut jadwal imsakiyah untuk wilayah Kota Samarinda, Kalimantan Timur, pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Jadwal imsakiyah ini memuat informasi waktu imsak, Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, hingga Isya sebagai panduan umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Waktu imsak menjadi penanda berakhirnya sahur, sementara azan Magrib menandai waktu berbuka puasa.
Adapun jadwal imsak di Samarinda pada Sabtu ialah pukul 04.55 Wita, kemudian Subuh pada 05.05 Wita.
Sementara itu, Magrib yang menandakan waktu berbuka puasa berkumandang pada 18.29 Wita. Berikut jadwal selengkapnya.
Doa Niat Berpuasa
Bacaan niat puasa Ramadan:
Nawaitu shauma ghodin ‘an ada’i fardhi syahri ramadhana hadzihis sanati lillahi ta‘ala.
Artinya: "Aku berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala."
Baca juga: Jadwal Imsak Kota Bengkulu, Jumat 6 Maret 2026, Disertai Bacaan Niat Puasa
Puasa untuk Latihan Kontrol Diri
Di era modern, hampir semua hal bisa didapat dalam hitungan detik.
Ingin kopi, tinggal pesan. Ingin hiburan, cukup sentuh layar. Tanpa sadar, pola hidup ini membentuk kebiasaan serba instan yang berdampak pada cara kerja otak.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari RSUP Surakarta, dr. Indah Puji Handayani, Sp.KJ, M.Gizi, menilai puasa justru menjadi momen penting untuk melatih ulang kontrol diri dan kesadaran di tengah derasnya budaya instant reward.
Menurutnya, puasa berkaitan erat dengan mindfulness dan self-control, dua hal yang sangat relevan dalam kehidupan modern.
Mindfulness Bukan Sekadar Tren, tapi Sikap Sadar Penuh
Istilah mindfulness memang sedang tren. Namun secara konsep, mindfulness adalah sikap untuk terhubung sepenuhnya dengan kondisi saat ini atau present moment.
“Mindfulness itu sebenarnya kalau didefinisikan itu semacam sikap. Sebuah sikap di mana seseorang itu lebih untuk terhubung dengan kondisi saat ini atau present momentnya,"ungkapnya pada live streaming Healthy Talk di kanal YouTube Tribun Health, Selasa (3/3/2026).
Mindfulness berarti memberi perhatian penuh pada apa yang sedang dialami, baik secara fisik maupun emosional, tanpa penghakiman.
Saat puasa, sensasi lapar, haus, atau lemas menjadi pengalaman yang disadari sepenuhnya.
Seseorang bisa melakukan body scanning, menyadari napas, merasakan sensasi di tubuh, hingga mengenali bunyi perut tanpa langsung bereaksi.
Proses ini membuat seseorang belajar mengobservasi, bukan menghakimi.
Ketika rasa lapar muncul, ia tidak langsung berpikir negatif atau impulsif. Ia mengakui, “Ada rasa lapar,” lalu memprosesnya secara sadar.
Puasa Aktifkan Prefrontal Cortex dan Latih Self-Control
Dalam kondisi sadar tersebut, sensasi yang muncul akan diproses di bagian otak bernama prefrontal cortex, yaitu pusat pengambilan keputusan dan kontrol diri.
Alih-alih langsung bereaksi, otak diberi waktu untuk mempertimbangkan pilihan: makan sekarang atau menunggu waktu berbuka. Proses inilah yang melatih fleksibilitas kognitif.
“Karena dari latihan-latihan seperti itu, orang akan lebih sadar dengan kondisinya yang terjadi. Juga menunda untuk langsung bereaksi," lanjutnya.
Menunda respons berarti memberi ruang pada otak untuk berpikir. Dari situ, seseorang memiliki lebih banyak opsi dan mampu memilih tindakan sesuai nilai yang dianutnya.
Self-control yang terlatih ini berdampak besar. Emosi menjadi lebih stabil, keputusan lebih matang, dan perilaku lebih adaptif dalam kehidupan sosial.
Reset Dopamine di Era Instant Reward
Dr. Indah menyoroti bahwa kehidupan modern membuat sistem reward dopamine di otak terlalu sering terpapar kepuasan cepat. Hal ini bisa memicu perilaku impulsif hingga adiktif.
Saat seseorang terbiasa mendapatkan kesenangan secara instan, sensitivitas dopamine bisa terganggu.
Otak menjadi kurang terlatih untuk menunda kepuasan.
Puasa justru menghadirkan proses kebalikan: kepuasan ditunda. Rasa lapar tidak langsung dipenuhi. Keinginan tidak segera dituruti.
“Jadi ketika berpuasa, ini akan terkait sekali dengan kita melatih yang namanya self-control dan juga mindfulness yang itu akan bermanfaat sekali bagi kita,"lanjutnya.
Dengan menunda reward, sistem dopamine menjadi lebih sensitif dan seimbang kembali.
Hal ini membantu seseorang menjauh dari perilaku berulang yang kompulsif serta membuat kontrol diri lebih kuat.
Dampaknya untuk Emosi dan Relasi Sosial
Latihan menunda reaksi saat puasa memberi waktu bagi emosi untuk tidak meledak.
Respons yang biasanya impulsif menjadi lebih terkontrol karena sudah diproses secara sadar.
Manfaatnya bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga dalam relasi sosial.
Seseorang dengan kontrol diri yang baik cenderung lebih adaptif, lebih mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, puasa menjadi ruang latihan alami untuk memperlambat respons, menyadari sensasi, serta memperkuat fungsi berpikir.
Bukan sekadar menahan lapar, puasa ternyata menjadi momen untuk membangun mindfulness, memperkuat self-control, dan mereset sistem reward di otak, sesuatu yang justru sangat dibutuhkan di era serba instan seperti sekarang.
(Tribunnews.com/Deni/Aisyah)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.