Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Finansial yang Sehat dan Jiwa yang Tenang 

Ramadhan memberi kita ruang untuk melakukan jeda. Ia bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi juga momentum refleksi menyeluruh.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Finansial yang Sehat dan Jiwa yang Tenang 
Tribunnews
Ramadhan memberi kita ruang untuk melakukan jeda. Ia bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi juga momentum refleksi menyeluruh termasuk dalam hal pengelolaan keuangan.  

kolumnis ramadan
KOLUMNIS RAMADAN
Dini Lestary, S.E., M.Ak
Dosen Akuntansi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Pontianak

 

TRIBUNNEWS.COM - Ramadhan memberi kita ruang untuk melakukan jeda. Ia bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi juga momentum refleksi menyeluruh termasuk dalam hal pengelolaan keuangan. 

Di bulan ini, kita belajar menahan diri, menunda kepuasan, mengatur ritme konsumsi, dan memperbanyak berbagi. Nilai-nilai tersebut sejatinya adalah fondasi dari healthy financial dan ketenangan jiwa.

Ironisnya, realitas yang sering kita jumpai justru sebaliknya. Ramadan identik dengan lonjakan konsumsi. Data berbagai survei nasional menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga selama Ramadan cenderung meningkat, terutama untuk makanan, pakaian, dan kebutuhan perayaan. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa tanpa kesadaran, bulan yang seharusnya melatih pengendalian diri justru berubah menjadi ajang konsumtif.

Padahal, kesehatan finansial bukan semata soal besar kecilnya pendapatan. Ia berkaitan dengan kemampuan mengelola arus kas, mengendalikan dorongan konsumsi, memiliki dana darurat, serta terbebas dari tekanan utang yang tidak produktif. 

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam literatur keuangan personal, konsep financial well-being merujuk pada kondisi ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan hari ini sekaligus merasa aman terhadap masa depan. Bukan sekadar cukup, tetapi juga tenang.

Psikolog keuangan Brad Klontz menjelaskan bahwa kecemasan finansial sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya uang, melainkan oleh hubungan emosional yang tidak sehat dengan uang itu sendiri. Banyak individu mengalami money stress akibat gaya hidup yang tidak selaras dengan kapasitas ekonomi. Dalam konteks ini, Ramadan sebenarnya menjadi momentum refleksi untuk memperbaiki relasi tersebut.

Islam sejak awal telah menempatkan keseimbangan sebagai prinsip utama dalam pengelolaan harta. Konsep wasathiyah (moderat) dan larangan israf (berlebih-lebihan) bukan hanya ajaran moral, tetapi juga prinsip ekonomi yang menjaga stabilitas individu dan masyarakat. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan agar manusia tidak berlebihan dalam membelanjakan harta, karena sikap berlebih justru mendekatkan pada ketidakseimbangan.

Dari sudut pandang keuangan modern, pengendalian konsumsi merupakan kunci stabilitas arus kas. Ketika pengeluaran terkendali, tekanan finansial menurun. Ketika tekanan finansial menurun, kualitas kesehatan mental meningkat. Penelitian American Psychological Association secara konsisten menunjukkan bahwa masalah keuangan merupakan salah satu sumber stres terbesar dalam rumah tangga. Artinya, keuangan dan ketenangan jiwa memiliki korelasi yang sangat kuat.

Ramadan mengajarkan kita menunda keinginan. Kita menahan lapar, bukan karena tidak mampu makan, tetapi karena memilih menunggu waktu yang tepat. Jika logika ini diterapkan dalam pengelolaan keuangan, maka banyak pengeluaran impulsif dapat ditekan. Disiplin menunda kepuasan (delayed gratification) inilah yang oleh para ekonom perilaku seperti Walter Mischel dalam eksperimen “Marshmallow Test” dianggap sebagai indikator keberhasilan jangka panjang.

Dalam perspektif ekonomi Islam, harta bukan tujuan akhir, melainkan amanah. Ia memiliki dimensi sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Menariknya, berbagai penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa memberi justru meningkatkan kebahagiaan subjektif.

Profesor Michael Norton dari Harvard Business School menemukan bahwa membelanjakan uang untuk orang lain meningkatkan tingkat kebahagiaan lebih besar dibanding membelanjakan untuk diri sendiri. Ramadan, dengan intensitas sedekah yang meningkat, sejatinya membangun keseimbangan antara kesejahteraan finansial dan kesejahteraan emosional.


Healthy financial di bulan Ramadan bukan berarti menekan pengeluaran secara ekstrem, tetapi mengelolanya secara sadar. Ada beberapa refleksi sederhana yang bisa dilakukan.

Pertama, menyusun ulang anggaran berbasis nilai. Apa yang benar-benar dibutuhkan? Apa yang hanya didorong oleh tradisi atau gengsi sosial? Ramadan mengajarkan esensi, bukan simbolisme berlebihan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas