Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Menjemput Lailatul Qadr, Malam-malam Suci di Bulan Ramadan 

Salah satu keutamaan malam-malam suci Ramadan ialah turunnnya suatu malam yang disebut malam Lailatul Qadr. 

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Mutiara Ramadan 


Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Salah satu keutamaan malam-malam suci Ramadan ialah turunnnya suatu malam yang disebut malam Lailatul Qadr. 

Malam ini sebetulnya bagi kita mungkin tidak terasa dan dilihat tidak lebih dari malam-malam selainnya.Hanya saja dalam pandangan ulama hadis memang disebutkan banyak keajaiban malam Lailatul Qadr ini.

Baca juga: Amalan Sunnah di Bulan Ramadan bagi Wanita Haid, Agar Tetap Bisa Mengejar Malam Lailatul Qadar 2026

Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa ketika Nabi Muhammad SAWmemimpin shalat jamaah yang makmumnya para nabi di Baitul Maqdis, Palestina, menjelang mi’raj ke langit, para nabi memohon untuk dihidupkan kembali secara normal di muka bumi, meskipun hanya sebagai umat biasa dan tunduk kepada ajaran Islam. 

Rahasia di balik permohonan itu ialah keberadaan Lailatul Qadr yang tidak pernah ada sebelum umat Nabi Muhammad. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan Tuhan.

Mengapa para nabi tersebut memandang penting makna Lailatul Qadr? Tentu saja mereka melihatnya demikian karena mereka hidupnya di alam barzakh, bagian dari alam gaib, dan menyaksikan betapa sibuk para malaikat langit turun memberikan fasilitas spiritual kepada para manusia, sebagaimana juga disebutkan dalam ayat tersebut di atas. 

Baca juga: Sholat Lailatul Qadar Jam Berapa? Ketahui Waktu Pelaksanaan, Niat dan Tata Caranya

Rekomendasi Untuk Anda

Keutamaan Lailatul Qadr di dalam bulan istimewa ramadlan luar biasa, sebagaimana disebutkan dalam ayat:“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S. al-Qadr/97:4).


Ayat-ayat di atas bagian dari ayat-ayat yang menceritakan keluarbiasaan malam sebagai waktu untuk menjalin komunikasi aktif dan intensif dengan Allah SWT. 

Ayat-ayat di atas, seolah-olah lebih menekankan arti penting malam hari dari pada siang hari, meskipun siang hari Ramadhan itu kita mengerjakan puasa wajib ramadhan. 

Itulah sebabnya para sahabat dan para ulama yang memahami rahasia keutamaan malam Ramadan lebih banyak begadang di malam harinya. Mereka mengerjakan berbagai aktivitas ubudiah untuk meraih berkah dan kemuliaan Ramadhan

Begitu pentingnya malam-malam hari Ramadhan sehingga pernah ada sahabat yang membentangkan tali dari tiang ke tiang untuk menyangga badannya yang sudah lemah sambil terus melaksanakan shalat-shalat sunat di malam hari.

PERBANYAK IBADAH - Jamaah berdoa dan salat saat malam Itikaf di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Pada 10 hari terakhir bulan suci Ramadan, umat muslim melakukan itikaf atau menetap di dalam masjid untuk menjemput malam lailatulqadar dengan memperbanyak ibadah dan membaca Al Quran. TRIBUNNEWS/HERUDIN
PERBANYAK IBADAH - Jamaah berdoa dan salat saat malam Itikaf di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Pada 10 hari terakhir bulan suci Ramadan, umat muslim melakukan itikaf atau menetap di dalam masjid untuk menjemput malam lailatulqadar dengan memperbanyak ibadah dan membaca Al Quran. TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Pada masa turunnya Alquran bilangan paling tinggi ialah bilangan angka seribu. Sekiranya ada bilangan triliun seperti saat ini, maka mungkin redaksi Alquran “lebih mulia dari pada setriliun bulan”. 

Itulah sebabnya ulama Tafsir tidak mengartikan kata alfun  dalam alyat di atas dengan “seribu” tetapi ribuan atau beribu-ribu bulan, atau unlimited¸tanpa batas. Di sini bukan angka-angka yang amat penting tetapi kualitas dan intensitas waktu itu. 

Ini bisa dimengerti dan di rasakan, bahwa memang malam hari menampilkan kegelapan tetapi bukankah kegelapan menjanjikan ketenangan, keteduhan, keakraban, kepasrahan, kerinduan, kehangatan, kesyahduan, dan kekhusyukan. Sebaiknya kita lebih bersahabat dengan rahasia malam hari agar kita bisa memperoleh keberkahan hidup yang luar biasa.

Alangkah ruginya kita yang sudah menjadi umat nabi Muhammad tetapi masih menyia-nyiakan dan membiarkan peristiwa dahsyat Lailatul Qadr berlalu begitu saja, tanpa memanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyiapkan bekal hidup akhirat kita. Seandainya hidup kita dikaruniai umur panjang misalnya 70 tahun, maka kita akan melewati 70 kali momen Lailatul Qadr. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas